Saturday, 21 Zulhijjah 1442 / 31 July 2021

Saturday, 21 Zulhijjah 1442 / 31 July 2021

Ekonomi Inggris Kontraksi 2 Persen di Kuartal Satu

Rabu 13 May 2020 16:05 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Fuji Pratiwi

Seorang pejalan kaki berjalan melintasi Jembatan Milenium di atas sungai Thames di London, awal pekan ini. Kantor Statistik Nasional Inggris (ONS) mengatakan, ekonomi Inggris mengalami kontraksi atau tumbuh minus sebesar 2 persen dalam tiga bulan terakhir sejak Januari hingga Maret 2020.

Seorang pejalan kaki berjalan melintasi Jembatan Milenium di atas sungai Thames di London, awal pekan ini. Kantor Statistik Nasional Inggris (ONS) mengatakan, ekonomi Inggris mengalami kontraksi atau tumbuh minus sebesar 2 persen dalam tiga bulan terakhir sejak Januari hingga Maret 2020.

Foto: AP /Kirsty Wigglesworth
Ini adalah kontraksi kuartalan terbesar sejak krisis keuangan global terjadi.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Ekonomi Inggris menyusut pada laju tercepat pada kuartal pertama tahun 2020. Hal tersebut terjadi akibat kebijakan pembatasan wilayah atau lockdown untuk mencegah penyebaran wabah corona.

Kantor Statistik Nasional Inggris (ONS) mengatakan, ekonomi Inggris mengalami kontraksi atau tumbuh minus sebesar 2 persen dalam tiga bulan terakhir sejak Januari hingga Maret 2020, menyusul pertumbuhan nol pada kuartal terakhir 2019.

Baca Juga

Penurunan ini didorong oleh rekor penurunan pada Maret. Ini adalah perkiraan pertumbuhan resmi pertama sejak Pemerintah Inggris memperkenalkan langkah-langkah menjaga jarak sosial pada akhir Maret.

ONS mengatakan telah terjadi penurunan signifikan di seluruh sektor jasa, manufaktur dan konstruksi, termasuk penurunan 1,9 persen di sektor jasa, yang meliputi pengecer, agen perjalanan, dan hotel. "Ini adalah kontraksi kuartalan terbesar sejak krisis keuangan global terjadi," ungkap ONS seperti dilansir di BBC, Rabu (13/5).

Hal ini mencerminkan dampak diberlakukannya pembatasan sosial demi kesehatan masyarakat sebagai tanggapan terhadap pandemi Covid-19. Angka-angka tersebut muncul setelah beberapa pembatasan sosial mulai reda. Beberapa karyawan di Inggris yang tidak dapat bekerja dari rumah sekarang didorong untuk kembali ke tempat kerja mereka.

"Sektor yang diizinkan buka, harus buka", kata pemerintah Inggris.

Sektor yang dimaksud termasuk pengolahan makanan, konstruksi dan manufaktur. Selain itu, aktivitas agen real estate di Inggris sekarang dapat bergerak kembali, pameran dapat dilakukan, dan beberapa kegiatan ekonomi dapat memulai kembali beroperasi selama aturan jarak sosial dan keselamatan tempat kerja diikuti.

Para analis mengatakan, ekonomi Inggris akan mengalami penurunan yang lebih besar pada kuartal saat ini (kuartal dua). Ekonom senior Inggris di Capital Economics, Ruth Gregory mengatakan, angka-angka menunjukkan ekonomi Inggris sudah jatuh bebas dalam waktu dua minggu sejak lockdown berlaku.

"Dengan pembatasan diberlakukan sampai pertengahan Mei dan kemudian hanya sedikit pelonggaran, pertumbuhan pada April akan jauh lebih buruk." kata Gregory.

Sementara analis lain memperkirakan penurunan kuartalan yang lebih dalam yakni sebesar 2,6 persen dalam tiga bulan pertama tahun ini, masih merupakan kontraksi terbesar sejak akhir 2008 ketika Lehman Brothers kolaps.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA