Akhir Risalah Puasa

Rep: Nashih Nashrullah/ Red: Muhammad Hafil

 Selasa 12 May 2020 17:42 WIB

Akhir Risalah Puasa. Foto: Ilustrasi Ramadhan Foto: Reuters/Nikola Solic Akhir Risalah Puasa. Foto: Ilustrasi Ramadhan

Ritual berpuasa menjadi bagian tak terlepaskan dari kebiasaan Arab.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ini adalah bagian dari adopsi budaya dan ritual keagamaan yang merupakan sunah-Nya. Beberapa ritual keagamaan dalam Islam adalah 'bawaan' dari komunitas yang ada sebelum kedatangan Islam. Hanya saja, Islam mengadopsi dan menyempurnakannya melalui kriteria dan ketentuan yang sangat berbeda. Terutama soal nilai dan sandaran transendental. Yang paling mendasar dan prinsipil, ritual-ritual tersebut diperuntukkan untuk Allah SWT semata, bukan yang lain.

Demikian halnya dengan puasa Ramadhan. Ibn an-Dadim dalam al-Fihrist menyatakan, tradisi berpuasa Ramadhan konon telah populer di kalangan kaum Sabian yang tinggal di utara Irak. Mereka berpuasa sebulan penuh tiap tahun sebagai bentuk penghormatan terhadap dewa bulan yang mereka sebut dengan Sin. Tidak hanya berpuasa mereka juga mempersembahkan hewan kurban kepada Sin.

Menurut Abu al-Fida Ibnu Katsir dalam al-Mukhtashar fi Tarikh al-Basyar, kaum Sabian berpuasa selama 30 hari, jika berdasarkan penanggalan bulan, hari tersebut tidak penuh 30, maka mereka akan berpuasa 29 hari. Puasa mereka bermula dari seperempat malam terakhir hingga terbenamnya matahari.

Selain puasa, ungkap Ibnu Katsir, mereka juga memiliki ritual shalat jenazah tanpa sujud dan ruku. Pada pengujung berakhirnya puasa mereka selama sebulan, tambah Ibn al-Jauzi dalam Talbis al-Iblis, Sabian menghadiahkan sembelihan kurban untuk dewa mereka. Dalam istilah Ibnu Nadim, perayaan mereka setelah menunaikan puasa sebulan penuh itu disebut dengan Id al-Fithr.

Pertanyaannya, bagaimana tradisi Sabian itu bisa sampai ke jazirah Arab dan lantas dikenal oleh masyarakat Arab jahiliyah? Menurut al-Qalaqasyandi dalam Nihayat al-Irb fi Ma'rifat Ansab al-Arab, penduduk jazirah Arab mengenal tradisi berpuasa sebulan penuh itu selama penjajahan Nabonidus penguasa Babilon (berkuasa selama 556-539 sebelum Masehi) terhadap wilayah Taima, yang merupakan kawasan di Jazirah Arab.

Lambat laun, ritual berpuasa menjadi bagian tak terlepaskan dari kebiasaan Arab jahiliyah, meski dengan istilah yang tak sama. Arab jahiliyah menyebut Ramadhan dengan sebutan natiq yang berarti puasa. Ada juga yang mengistilahkan Ramadhan dengan Ramdha' akibat cuaca panas yang berlangsung selama puasa tersebut.

Imam at-Thabari dalam tafsirnya, menggambarkan bagaimana masyarakat Arab penyembah berhala malaksanakan puasa. Lazimnya puasa pada umumnya, mereka juga menahan makan dan minum serta berhubungan intim, termasuk juga berpuasa dari berbicara apapun. Al-Maqdisi dalam al-Bud'u wa at-Ta'rikh menambahkan, sebelum Islam datang, selama berpuasa Suku Quraisy juga kerap 'bersemedi' (tahannuts) selama berpuasa.  

Demikianlah akar tradisi berpuasa hingga Islam datang menyempurnakan. Meski muncul perbedaan di kalangan ulama, apakah ada kewajiban berpuasa sebelum perintah puasa Ramadhan turun pada tahun ke-2 Hijriyah. Ada dua kutub pendapat.

Menurut kelompok yang pertama, tidak ada kewajiban berpuasa apa pun sebelum perintah puasa Ramadhan turun. Ini adalah pandangan mayoritas ulama dan pendapat yang populer di kalangan Mazhab Syafii. Menurut Imam at-Thabari, tidak ada dalil yang kuat sebagai rujukan bahwa Allah SWT mewajibkan puasa apa pun selain Ramadhan.

Sedangkan pendapat kedua menyatakan, Allah SWT pernah mewajibkan puasa sebelum Ramadhan, kemudian perintah tersebut dialihkan. Hanya saja mereka berselisih pendapat tentang puasa apakah yang pernah diwajibkan tersebut.

Abu Hanifah, Ahmad, al-Atsram, dan Ibnu Taimiyah berpendapat, puasa yang diwajibakan sebelum Ramadhan ialah puasa Asyura. Mereka menukilkan pernyataan dari Aisyah RA. Menurut Aisyah, puasa Asyura kerap dilakukan Quraisy pada masa jahiliyah, demikian pula Rasulullah.

Kebiasaan itu tetap dipertahankan Rasul selama berada di Madinah dan memerintahkan umat untuk melaksanakannya pula. Tetapi, ketika perintah berpuasa Ramadhan turun, kewajiban itu pun tergantikan. Rasul tak lagi mewajibkan puasa Asyura.

Sementara pendapat yang terakhir menyatakan puasa yang wajib sebelum Ramadhan adalah puasa tiga hari setiap bulan, yaitu tiap tanggal 13, 14, dan 15. Puasa ini menurut Atha', seperti dinukilkan oleh at-Thabari dalam tafsirnya, adalah puasa beberapa hari yang termasuk kebiasaan masyarakat pra-Islam, seperti dimaksud dalam surah al-Baqarah ayat 183.

Ritual puasa yang populer di kalangan masyarakat pra-Islam tersebut disempurnakan saat risalah Islam turun. Perbedaan yang sangat mencolok adalah landasan hukum dan teologis yang mendasari ritual tersebut. Inilah makna dari hadis Rasul yang menyatakan bahwa, kehadirannya di antara risalah terdahulu adalah sebagai penyempurna, ibarat satu buah batu bata yang menyempurnakan bangunan rumah yang besar.  

sumber : Pusat Data Republika / Harian Republika
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X