Selasa 12 May 2020 04:53 WIB

Cabin Fever, Ancaman Kesehatan Jiwa Selama Pandemi Covid-19

Hikmah dari wabah ini adalah kita jadi lebih dekat dengan keluarga inti.

Dr. Pradipta Suarsyaf, MMRS, Direktur RS Lancang Kuning Dompet Dhuafa Pekanbaru
Foto: dokumentasi pribadi
Dr. Pradipta Suarsyaf, MMRS, Direktur RS Lancang Kuning Dompet Dhuafa Pekanbaru

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Dr. Pradipta Suarsyaf, MMRS, Direktur RS Lancang Kuning Dompet Dhuafa Pekanbaru

Dewasa ini masyarakat Indonesia dan dunia tengah diuji dari segala aspek kehidupan, sebagai imbas dari wabah virus corona. Kehidupan yang ada saat ini tidak pernah dibayangkan akan terjadi oleh semua orang. Banyak pakar yang menyebutnya sebagai The New Normal, sebuah perubahan tatanan sosial yang sangat drastis terjadi pada masyarakat.

Kehidupan dengan banyak batasan sosial, ekonomi dan hampir segala sisi kehidupan menjadi terbatas saat ini. The New Normal belum tentu bisa diterima oleh banyak orang, atau setidaknya setiap orang memiliki waktu beradaptasi yang berbeda-beda menghadapi dampak dari virus corona ini.

Sejak Presiden Joko Widodo memutuskan memilih langkah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sebagai cara menangkal wabah corona pada 31 Maret 2020 lalu berbagai daerah antre mengajukan daerahnya agar diizinkan menyelenggarakan PSBB tersebut. Hal ini tak lain dikarenakan banyak daerah sudah termasuk zona merah atau sudah banyak warganya yang terkonfirmasi positif virus corona.

Langkah pembatasan sosial memiliki dampak secara ekonomi dan ini memiliki efek garpu tala, di mana jika kondisi keuangan bergetar, akan diikuti bidang lain yang terdampak imbasnya. Maka buktinya saat ini mulai terlihat, kondisi sosial ekonomi masyarakat goyang dan pada akhirnya tidak bisa memenuhi daily needs keluarganya.

Kondisi ekonomi juga berdampak pada kondisi kesehatan masyarakat, di mana saat efek garpu tala ekonomi ini terus terjadi dan semakin keras getarannya, maka efeknya juga semakin dirasakan banyak garpu tala yang lain. Termasuk kondisi kesehatan masyarakat.

Dampak kesehatan yang dikhawatirkan dari mulai penyakit pada umumnya. Penyakit yang sifatnya didapatkan dari lingkungan dan karena faktor kebiasaan yang kurang baik.

Ini yang umumnya terjadi. Tapi saat ini masyarakat dihadapi pada potensi penyakit kejiwaan. Tolak ukur sederhana bisa terlihat dari semakin banyaknya iklan konsultasi jiwa di media sosial. Mengapa ini bisa terjadi? Fenomena kesehatan jiwa apa yang kita hadapi ini?

Kondisi saat ini mengharuskan kita menjaga jarak dan terlebih lagi saat ini kita lebih sering di rumah karena kantor dan sekolah tutup sementara dan juga mengikuti arahan pemerintah. Di mana-mana tagar #DirumahAja menjadi pembahasan media dan perbincangan hangat di media sosial.

Tidak ada yang salah dengan seruan ini dan memang sangat penting untuk memutus rantai penyebaran wabah corona. Namun yang perlu diantisipasi adalah dampak terhadap kesehatan jiwa masyarakat.

Berdasarkan penelitian Berman, Marc G dkk berjudul "The Meaning of "Cabin Fever" dalam The Journal of Social Psychology ditemukan efek physical distancing dan dirumah aja membuat masyarakat terganggu terhadap dirinya sendiri. Potensi tanda dan gejala yang bisa timbul sebagai efek psikologis #DiRumahAja adalah sebagai berikut: gelisah berlebihan, berkurangnya motivasi, mudah menyerah dan tersinggung, sangat sulit untuk fokus, pola tidur terganggu, sulit bangun tidur, kondisi fisik lemah lesu, menjadi tidak sabaran, dan jika berlangsung cukup lama bisa berakibat kondisi kesedihan dan sampai depresi.

Dalam dunia kesehatan, kita mengenal kumpulan gejala di atas sebagai Cabin Fever, yang artinya sebuah gambaran emosi atau kesedihan yang muncul akibat terisolasi di dalam rumah atau lokasi tertentu, sehingga berakibat pada kondisi psikis seseorang. Sebab itu diperlukan langkah-langkah antisipasi yang tetap mengutamakan physical distancing tapi aman juga secara kesehatan fisik terlebih kejiwaan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement