Tuesday, 14 Safar 1443 / 21 September 2021

Tuesday, 14 Safar 1443 / 21 September 2021

Dengki, Wujud Hati yang tak Bersih

Senin 11 May 2020 20:41 WIB

Red: Hasanul Rizqa

dengki (ilustrasi)

dengki (ilustrasi)

Foto: forbes.com
Dengki adalah penyakit hati yang melalaikan diri sendiri

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dengki atau hasad adalah salah satu penyakit rohani. Ciri-ciri utamanya, tidak senang terhadap orang lain yang menerima suatu rezeki. Adakalanya, sifat itu diikuti upaya-upaya agar nikmat yang dimiliki orang lain itu hilang.

Dengki merupakan pertarungan sepihak. Sebab, yang menjadi sasarannya kadang-kadang tidak mengetahuinya.

Baca Juga

Setiap orang dengki melihat sasarannya, hatinya selalu tidak enak dan gelisah. Akhirnya menjadi penyakit batin baginya.

Sifat dengki pernah bersemayam dalam diri Labid ibn A'sham. Ia hasad terhadap Nabi Muhammad SAW sehingga menyihir sang utusan Allah SWT itu. Caranya, seakan-akan Nabi SAW sendiri yang melakukannya, padahal tidak demikian. Allah memberitahukan sihir itu kepada Nabi SAW dan mengeluarkannya dari tubuh Nabi, sehingga beliau pulih kembali.

Dengki adalah wujud ketidakbersihan batin seseorang. Ia dipraktekkan oleh orang yang mengaku beriman atau tidak. Kedengkian orang beriman adakalanya diwujudkan dalam bentuk ketidaksukaan akan karunia yang diterima oleh orang lain yang dirinya tidak bisa mencapainya. Kedengkian orang yang tidak beriman adakalanya diwujudkan dalam bentuk menghalang-halangi seseorang untuk beriman kepada Allah (QS an-Nisaa', 4:54-55 dan al-Baqarah, 2:109).

Dengki melahirkan fitnah atau berita buruk terhadap sasarannya, bahkan ada sasaran yang tak mampu membela diri. Oleh karena orang dengki sibuk dengan kedengkiannya, maka ia lupa dengan kebaikan yang harus ia lakukan.

Untuk itu, Rasulullah SAW bersabda, "Jauhilah sifat dengki karena ia memakan segala kebaikan, sebagaimana api membakar kayu kering" (HR Abu Dawud dari Abi Hurairah).

Jalan yang terbaik adalah berlindung kepada Allah SWT dari sifat kedengkian. Di antaranya dengan selalu dekat kepada-Nya, pererat hubungan silaturahim, dan jauhi sifat sombong.

Bahkan, ada sebagian ulama yang menganjurkan agar kita sering membaca surah al-Falaq dan An-Nas. Keduanya berisi permohonan perlindungan kepada Allah dari kejahatan manusia dan kejahatan pada umumnya.

sumber : Pusat Data Republika
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA