Friday, 19 Rabiul Akhir 1442 / 04 December 2020

Friday, 19 Rabiul Akhir 1442 / 04 December 2020

Manusia Memerlukan Hidayah

Senin 11 May 2020 23:57 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Muhammad Hafil

 Manusia Memerlukan Hidayah. Foto: Ilustrasi Anak membaca Alquran.

Manusia Memerlukan Hidayah. Foto: Ilustrasi Anak membaca Alquran.

Foto: Republika/Tahta Aidilla
Hidayah diperlukan oleh manusia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Alquran sebagai wahyu Allah yang diterima Rasulullah Nabi Muhammad SAW berfungsi sebagai hidayah atau petunjuk bagi manusia. Di Surah Al-Baqarah ayat 185 dikatakan bahwa Ramadhan adalah bulan diturunkannya Alquran sebagai petunjuk bagi umat manusia dan menjadi pembeda antara yang hak dan yang bathil.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir mengatakan, manusia memerlukan hidayah. Sebab setinggi apapun akal, pikiran dan kekuasaan manusia tetap ada batasnya. Karena itu manusia memerlukan hidayah agar arah dan tujuan hidupnya jelas.

"Setinggi-tingginya manusia berakal dan berpikir itu ada batasnya, kita sekarang berada di dalam suasana pandemi virus corona (Covid-19), begitu kita menghadapi musibah yang dahsyat, ilmu pengetahuan belum tuntas bahkan mungkin sampai sekarang belum ditemukan vaksin yang bisa menjadi penawar bagi virus yang kelihatannya kecil ini tetapi dahsyat," kata Haedar dalam acara Kajian Daring Ramadhan Website Muhammadiyah bertema 'Memaknai Peringatan Nuzulul Quran' pada Ahad (10/5) malam.

Ia menjelaskan, sekarang lihat orang-orang yang punya kekuasaan seperti presiden atau perdana menteri di seluruh negeri menghadapi musibah ini. Ingat kekuatan manusia sehebat apapun ada batasnya.

Bahkan Firaun penguasa yang paling perkasa, sampai digambarkan dalam Alquran saking merasa berkuasa berani menantang Tuhan dan mengklaim dirinya adalah Tuhan. Bahkan tidak ada orang yang paling merasa berkuasa selain Firaun, tapi dia takut dengan anak laki-laki yang akan meruntuhkan kekuasaannya yakni Nabi Musa.

"Dan di ujung kekuasaannya dia (Firaun) ditenggelamkan Tuhan di Laut Merah bersama birokrat korup yang bernama Hamam dan konglomerat hitam yang bernama Qarun," ujarnya.

Haedar menjelaskan, Hamam, Qarun dan Firaun adalah simbol, artinya kapan pun akan ada tipe-tipe orang seperti mereka dalam sejarah peradaban bangsa dan negara. Hanya saja mungkin tidak merasa seperti mereka tapi praktiknya ada yang seperti mereka.

Maka siapa pun orang yang berkuasa dalam konteks dunia sesungguhnya bisa melakukan apa saja. Tapi pertanyaan moralnya adalah untuk apa kekuasaan itu digunakan. Kenapa kekuasaan harus digunakan dan apa manfaat dari kekuasaan itu. Kekuasaan itu membawa maslahat atau membawa mudhorot.

"Kamu mau apa dengan kekuasaan itu dan kamu mau apa dengan kekayaan itu, orang yang kaya raya dan menguasai aset negara dan menguasai aset dunia mungkin apapun dia bisa miliki seperti Qarun, tapi pertanyaannya dari mana kamu peroleh harta yang banyak itu dan untuk apa kamu gunakan, apakah kamu peroleh dulu dengan cara yang haram dengan cara yang korup, dengan cara menindas dan dengan cara yang merugikan rakyat banyak, biarpun mampu untuk apa digunakan," ujarnya.

Haedar menegaskan, ini saja sudah menjadi contoh bahwa manusia hidup memerlukan arah dan hidayah. Jangan dikaitkan dengan agama tapi hakikat kehidupan manusia siapapun mereka memang memerlukan arah hidup. Perlunya arah hidup baru terasa setelah orang sampai pada titik ketika kekuasaan, harta, ilmu pengetahuan, akal, pikiran dan segala kedigdayaan dirinya itu sampai pada batas akhir yakni kematian.

"Orang kalau sudah mati, luruh dan runtuh seluruh keperkasaan dirinya dalam kehidupan dunia, keluarga ditinggalkan, kekayaan ditinggalkan, kekuasaan ditinggalkan, dan kehormatan yang diberikan manusia juga dia tinggalkan, setelah mati masuk ke liang lahat kemudian harus mempertanggungjawabkan apa yang dilakukannya selama hidup di dunia," ujarnya.

Ia mengatakan, orang Jawa punya konsep sangkan paraning dumadi. Pertanyaan dari mana ia berasal, untuk apa ia hidup, dan mau kemana ia setelah hidup. Ini pertanyaan-pertanyaan penting.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, bangsa Indonesia mempunyai Pancasila dan agama. Maka jadikan Pancasila dan agama itu sebagai pondasi hidup agar tidak salah arah di dalam kehidupan.

"Jadikanlah Alquran sebagai kitab hidayah atau kitab yang menjadi arah hidup kita, saya yakin kalau ini kita jadikan rujukan maka hidup kita ini akan jelas arahnya dan ketika kita berbuat tahu mana yang benar, baik dan pantas, dan memisahkan diri dari yang tidak benar, tidak pantas dan tidak baik," jelasnya.

Haedar mengingatkan, pandemi Covid-19 ini memberi peringatan kepada manusia. Ada batas-batas di mana manusia tidak bisa menembus Maha Kuasa Allah dan kekuasaan semesta yang diciptakan-Nya. Di situlah manusia harus rendah hati dan perlu punya pedoman hidup.

Menurutnya, agama memberi panduan moral dan ruhani bahwa arah hidup itu harus jelas. Yakni bahagia di dunia dan bahagia di akhirat. Begitulah Islam memberi berbagai macam petunjuk agar manusia selamat di dunia dan akhirat. Sehingga manusia masuk surga dan dijauhkan dari api neraka.  

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA