Senin 11 May 2020 15:16 WIB

Sebagian Nelayan Cianjur Terpaksa Berhenti Melaut

Nelayan berhenti melaut akibat paceklik ikan dan terdampak Covid-19.

Nelayan berhenti melaut akibat paceklik ikan dan terdampak Covid-19 (Foto: ilustrasi nelayan)
Foto: ANTARA/Mohamad Hamzah
Nelayan berhenti melaut akibat paceklik ikan dan terdampak Covid-19 (Foto: ilustrasi nelayan)

REPUBLIKA.CO.ID, CIANJUR -- Sebagian besar nelayan di Pantai Jayanti Kecamatan Cidaun, Cianjur, Jawa Barat, terpaksa berhenti melaut dan menganggur karena paceklik ikan. Hal ini juga imbas dari larangan beraktivitas selama penanganan cepat COVID-19.

Ketua Kelompok Nelayan Minacempaka 1, Jojon Mulyana, mengatakan, sejak dua bulan terakhir 700 anggota kelompok yang dipimpinnya sudah tidak lagi melaut. Sebagian besar mendaratkan perahunya agar tidak rusak dihantam gelombang yang tinggi sejak beberapa pekan terakhir.

Baca Juga

"Sekarang yang melaut paling banyak 20 orang, itupun hasilnya hanya cukup untuk menutupi kebutuhan rumah tangga selama beberapa hari. Saat ini musim paceklik ikan ditambah Corona, sehingga nelayan tidak dapat beraktifitas normal," katanya.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tidak sedikit yang terpaksa berhutang dengan harapan paceklik segera usai dan Corona hilang. Sedangkan belasan orang di antaranya ada yang bekerja sebagai buruh serabutan asal cukup untuk membeli beras dan lauk.

Meskipun masih ada yang melaut, tutur dia, tidak sampai ke tengah laut. Bahkan tidak jarang nelayan hanya mengandalkan tangkapan untuk dikonsumsi selama bulan puasa.

Meskipun harga ikan cukup tinggi di pelelangan ikan, ungkap dia, tidak dapat terpenuhi oleh nelayan yang masih melaut selama beberapa hari. Untuk ikan jenis tongkol dijual Rp 40.000 per kilogram, tuna dijual dengan harga Rp 55.000 perkilogram, dan Lobster dijual dengan harga bervariatif mulai Rp 25.000 sampai Rp 150.000 per kilogram.

"Tapi hasil tangkapan tidak maksimal, untuk Lobster mungkin sedang dalam masa pembibitan jadi susah didapat dan harganya mahal. Mereka yang melaut paling banyak mendapat tuna dan tongkol yang harganya tidak stabil. Harapan kami paceklik dan Corona segera usai, agar nelayan dapat beraktifitas normal," katanya.

Hal senada terucap dari Adil (35) nelayan pinggiran yang terpaksa banting stir menjadi tukang service jaring dan pukat yang dipakai nelayan untuk melaut, meskipun tidak setiap hari mendapat orderan. Untuk biaya hidup sehari-hari, ungkap dia mengandalkan hutangan ke tetangga atau saudara dengan harapan sebelum lebaran sudah terbayar.

"Menjadi nelayan pinggiran atau menjala dipinggir pantai, sudah tidak menjanjikan mendapat hasil maksimal. Paling sehari-hari mencari orderan perbaikan jaring dan pukat yang rusak, lumayan kalau ada bisa bawa uang sampai Rp 100.000. Kalau tidak ada terpaksa cari hutangan," katanya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement