Sunday, 10 Zulqaidah 1442 / 20 June 2021

Sunday, 10 Zulqaidah 1442 / 20 June 2021

Covid-19 Bisa Berdampak Buruk di Sektor Riil

Senin 11 May 2020 10:26 WIB

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Esthi Maharani

Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Ahmad Erani Yustika

Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Ahmad Erani Yustika

Foto: ROL/Havid Al Vizki
Selain sektor riil, jalur transmisi krisis juga dapat mengenai empat sektor lain

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya (FEUB), Profesor Ahmad Erani Yustika menilai, Covid-19 dapat berdampak buruk apabila menyerang sektor riil. Hal ini karena sebagian besar pelaku ekonomi berada di sektor tersebut.

Erani menjelaskan, ekspektasi terhadap ekonomi di Indonesia pada sektor riil dapat dilihat dari dua indikator. Aspek-aspek tersebut antara lain penjualan semen dan kendaraan bermotor. Berdasarkan data Asosiasi Semen Indonesia, konsumsi semen pada Januari hingga Februari sebanyak 10,90 juta ton. Hal ini berarti perusahaan semen mengalami penurunan penjualan 4,03 persen. Sementara Asosiasi Sepeda Motor Indonesia melaporkan penurunan penjualan sepeda motor berkisar 25 sampai 30 persen.

"Penjualan mobil pada bulan Maret turun 15 persen," kata Erani dalam keterangan pers yang diterima Republika.

Selain sektor riil, jalur transmisi krisis juga dapat mengenai empat sektor lainnya. Dalam hal ini seperti sektor moneter, perbankan, fiskal, dan neraca pembayaran.

Menurut Erani, pemerintah dan masyarakat perlu berjibaku melakukan hal-hal terbaik. Caranya dengan menggunakan modal finansial dan sosial demi membantu masyarakat yang terkena dampak Covid-19. Beberapa di antaranya seperti pemerintah sudah mendesain paket stimulus fiskal Rp 75 triliun di program kesehatan, Rp 150 triliun pada pemulihan ekonomi, Rp 110 triliun di social safety net, dan Rp 70,1 triliun untuk dukungan industri dan UMKM.

Erani berpendapat, kalkulasi makro ekonomi sebenarnya tidak perlu cemas terhadap kondisi ekonomi Indonesia. Sebab dari hasil analisis The Economist, Indonesia masuk sebagai negara dengan ekonomi terkuat ke-16 dari 66 negara yang ekonominya berdampak setelah pandemi. Pertumbuhan ekonomi memang akan turun tapi secara nasional masih memiliki daya tahan yang memadai dalam jangka pendek.

"Sektor moneter dan fiskal dalam jangka pendek masih aman, namun tetap wajib dipantau secara reguler atau mingguan," jelas Ketua Ikatan Alumni UB ini.

Saat ini yang bisa dilakukan Indonesia dengan membuat ruang-ruang kehidupan dapat berjalan baik meski tidak optimal. Satu di antaranya seperti mendorong UMKM menggunakan pemanfaatan teknologi. Ia mencontohkan sektor perikanan perlu difasilitasi aplikasi untuk menjangkau konsumen. Kemudian UMKM yang memiliki produk baik akan diapresiasi oleh pemerintah dengan dipromosikan ke masyarakat umum.



BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA