Ramadhan Berbeda yang Dirasakan Umat Islam Singapura

Rep: Ratna Ajeng Tejomukti/ Red: Nashih Nashrullah

 Ahad 10 May 2020 22:04 WIB

Umat Islam Singapura menghadapi Ramadhan yang berbeda saat pandemi. Warga mengenakan masker melintas di salah satu sudut Singapura, (24/4).  Foto: EPA Umat Islam Singapura menghadapi Ramadhan yang berbeda saat pandemi. Warga mengenakan masker melintas di salah satu sudut Singapura, (24/4).

Umat Islam Singapura menghadapi Ramadhan yang berbeda saat pandemi.

REPUBLIKA.CO.ID, SINGAPURA – Sepanjang yang bisa diingat Sayed Mohammed Assaf, dia selalu menghabiskan waktunya selama Ramadhan di kantor, bersama keluarga, dan teman-teman atau di masjid setempat untuk meningkatkan ilmu agama Islamnya.  

Tetapi dengan pandemi Covid-19 yang mencengkeram negara-negara di seluruh dunia termasuk Singapura sehingga perlu menjaga jarak sosial sampai 4 Juni, yang mengakibatkan beberapa Muslim di negara itu beralih ke cara baru dalam menjalani bulan suci melalui internet.

“Saya menggunakan Zoom atau Google hangout untuk kelas online dengan syekh saya. Rasanya agak aneh karena saya tidak bisa berinteraksi dengannya secara langsung seperti dulu,” Assaf, 35 tahun, mengatakan kepada Arab News, Sabtu (9/5).  

Baca Juga

Salah satu pelajaran yang penting adalah perjalanan spiritualnya untuk bulan ini, di mana dia belajar tentang berbagai aspek Islam dan pentingnya melakukan perbuatan baik. 

“Ini sangat membantu saya. Saya belajar untuk memiliki lebih banyak kesabaran, harus menunggu untuk menuai hasil dari apa yang diberikan, ”kata dia.

Dengan pertemuan massal yang dilarang dan masjid ditutup untuk jamaah sebagai bagian dari pemutus rantai penularan di wilayah pandemi, itu berarti harus mengurangi interaksi publik untuk umat Islam di negara itu. 

Umat Islam di Singapura berjumlah 15 persen dari total populasi 5,9 juta penduduk dengan mayoritas berasal dari komunitas etnis Melayu. Namun, Assad mengatakan tetap di rumah saja adalah berkah tersembunyi, terutama jika membandingkannya dengan Ramadhan di masa lalu.  

"Kita semua di rumah, dan ada berkah untuk itu serta banyak Muslim dapat fokus pada perbuatan baik dan tidak terlalu terganggu oleh dunia luar," kata Assaf. 

Sementara Ramadhan di bawah lockdown yang dirasa sulit, entah bagaimana, itu telah membawa dia lebih dekat kepada Tuhan. 

Dengan lebih banyak waktu bekerja dari rumah, Assaf mengatakan dia memulai harinya dengan memeriksa email kantor, terhubung dengan keluarga dan teman-teman dan mendedikasikan lebih banyak waktu untuk membaca Alquran.

Sementara itu bagi Nadiah Alkardi yang berusia 35 tahun, lockdown itu berarti bisa menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga mudanya.

“Kami berdoa di rumah bersama keluarga saat ini. Sehingga lebih dekat dengan anggota keluarga Anda. Jadi ikatannya tumbuh lebih kuat dan lebih berharga,” kata Alkardi. 

Dia bersama keluarganya tarawih berjamaah di rumah saja sejak pekan pertama Ramadhan. Biasanya mereka melakukannya terpisah di masjid yang berbeda karena kesibukkan masing-masing.

Satu-satunya hal yang kurang, kata Alkardi, adalah bahwa dia tidak dapat bertemu saudara dan orang tuanya untuk buka puasa. Sejak lockdown dan larangan pertemuan, Alkardi mengatakan dia bertemu keluarganya secara online

"Saya berbicara dengan ibu dan nenek saya melalui panggilan video untuk bertukar resep atau berbicara tentang bagaimana waktu mereka selama persiapan Ramadhan," kata Alkardi. 

Untuk membantu umat Islam beradaptasi dengan bulan suci yang dikunci, pihak berwenang Singapura telah meluncurkan konten khusus Ramadhan pada awal bulan.

Salah satu inisiatif adalah SalamSG TV, saluran YouTube yang diluncurkan Dewan Agama Islam Singapura (Muis) sebagai upaya untuk memberikan pengetahuan Islam sehari-hari  melalui platform online.

Gagasan itu tampaknya telah diklik, dengan jumlah pemirsa terus bertambah dari hari ke hari dan pembuat konten memproduksi video Ramadhan harian dalam bahasa Tamil, Bengali, dan Melayu, di samping bahasa Inggris, yang merupakan bahasa utama saluran tersebut, kata Muis.  

"Dengan masjid-masjid yang tidak dapat menyediakan acara buka puasa, tarawih, qiyam, dan siang-malam, penting bahwa kebutuhan spiritual komunitas Muslim tidak diabaikan," katanya.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X