Masyarakat Afrika Utara Nyaris Kehilangan Rasa Ramadhan

Rep: Imas Damayanti/ Red: Muhammad Hafil

 Sabtu 09 May 2020 08:00 WIB

Masyarakat Afrika Utara Nyaris Kehilangan Rasa Ramadhan. Foto: Ilustrasi Ramadhan Foto: Reuters/Nikola Solic Masyarakat Afrika Utara Nyaris Kehilangan Rasa Ramadhan. Foto: Ilustrasi Ramadhan

Rasa Ramadhan hilang karena adanya pandemi covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, ALGIER -- Masyarakat Afrika Utara mengatakan mereka kehilangan cita rasa Ramadhan tahun ini. Hal itu lantaran adanya pembatasan sosial akibat virus corona jenis baru (Covid-19).

Dilansir di Borneo Bulletin, Sabtu (9/5), biasanya pada Ramadhan yang sebelum-sebelumnya, masyarakat Afrika Utara biasa menghadiri pertemuan sosial yang berkaitan dengan ibadah dan agama. Seperti makan secara bersama-sama saat berbuka dan beribadah di malam hari mengisi malam-malam Ramadhan.

"Ini bukan Ramadhan yang biasa," kata seorang wanita yang berbelanja di Ariana, dekat ibukota Tunis.

Wanita tersebut mengaku putus asa mencari kue dan permen yang biasanya mengisi kios selama bulan puasa atau bulan Ramadhan?

Dalam Islam dikenal tradisi dan juga tuntunan agama bahwa Ramadhan secara tradisional adalah waktu untuk beribadah dan bersosialisasi. Dengan berpuasa, orang beriman menahan diri dari mengkonsumsi makanan dan air di siang hari, berbuka puasa saat senja dengan keluarga dan teman-teman untuk makan yang dikenal sebagai berbuka puasa, dan sering berpergian ke masjid pada masa itu.

Tapi tahun ini, langkah-langkah jarak sosial sebagian besar menghentikan tradisi Ramadhan yang biasa terjadi. Misalnya, masjid-masjid di Aljazair, Maroko,  dan Tunisia telah ditutup untuk mengekang penyebaran pandemi Covid-19. Hal itu pun membuat umat Muslim tak bisa berpergian ke masjid untuk berdoa atau mendirikan sholat malam secara khusus.

Tidak ada malam pertemuan yang panjang. Kota-kota tua Rabat, Casablanca dan Tunis, biasanya ramai setelah berbuka, namun saat ini kondisi kota tersebut seperti kota hantu.

“Bahkan makan yang menyatukan semua keluarga di meja yang sama tidak mungkin bisa terjadi kemungkinan. Saya khawatir dengan orang tua saya, yang sudah tua dan sakit,” kata seorang guru dari Aljir, Maissa (46 tahun). 

Masyarakat Afrika Utara menyebut bahwa pandemi Covid-19 telah menghilangkan semua rasa dari bulan suci Ramadhan tahun ini. Di Maroko, kurma yang seperti menjadi makanan pokok Ramadhan dan permen masih tersedia di pasar atau di supermarket.

"Tapi saya tidak bisa bepergian untuk berbuka puasa di tempat orang tua saya karena jam malam,"  keluh seorang guru lainnya yang tinggal sendirian di Marrakesh.

Dia menyebut tidak ada kafe, tidak ada orang di masjid, dan hal itu belum pernah terjadi sebelumnya. Di Aljazair, setelah bisnis diizinkan untuk dibuka kembali pada awal Ramadhan pada bulan April lalu, kerumunan menyebabkan pihak berwenang untuk menerapkan kembali penutupan di beberapa daerah.

Beberapa orang di ibukota Algiers melakukan perjalanan ke Boufarik sekitar 30 kilometer jauhnya di provinsi Blida, pusat penyebaran virus negara itu pada awal Maret lalu. Mereka hendak mencari jenis gula manis yang dikenal sebagai zlabia.

Seorang pria, Salem, mengatakan bahwa dalam 30 tahun dia tidak pernah gagal mendapatkan zlabia dari Boufarik di meja makan saat dihidangkan sebagai sajian berbuka Ramadhan. Namun tahun ini dia kembali dari Boufarik dengan tangan kosong.

"Sebagian besar kios tutup, jadi saya kembali dengan tangan kosong," kata pria 51 tahun itu.

Pihak berwenang di Aljazair bahkan melarang restoran dan dapur umum di mana para sukarelawan menyajikan makanan bagi orang miskin selama bulan suci. Fekhreddine Zerrouki mengatakan organisasinya berencana untuk melayani lebih dari 1.500 makanan sehari, tetapi melakukan pengiriman sebagai gantinya.

Samir, seorang sukarelawan dengan Bulan Sabit Merah Aljazair mengatakan, jumlah orang yang mendapat manfaat dari inisiatif amal Ramadhan seperti itu sangat rendah dibandingkan dengan jumlah orang yang membutuhkan.

"Kami kehilangan rasa Ramadhan karena kurangnya zlabia atau malam yang hilang, tetapi beberapa orang bahkan tidak punya tanggal untuk berbuka puasa," katanya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X