Mengenalkan Ramadhan pada Anak, Bagaimana Caranya?

Red: Ani Nursalikah

 Rabu 06 May 2020 22:14 WIB

Mengenalkan Ramadhan pada Anak, Bagaimana Caranya? Foto: Yogi Ardhi/Republika Mengenalkan Ramadhan pada Anak, Bagaimana Caranya?

Anak bisa dikenalkan pada Ramadhan dengan bangun bersama untuk sahur.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dimensi pendidikan yang juga muncul dari bulan Ramadhan, adalah bagaimana mengenalkannya secara dini kepada anak-anak, karena jika pada waktunya nanti sudah diwajibkan tidak mengalami kekagetan. "Anak-anak memang sudah mesti dikenalkan sejak dini untuk melakukan shaum sesuai tingkatan kemampuannya," kata dosen Jurusan Syariah Program Studi Al-Ahwal Al Syakhsiyah (AS) Sekolah Tinggi Agama Islam (STA) Al Hidayah Bogor Eka Sakti Habibullah.

Baca Juga

Pengenalan itu tidak boleh dalam konteks mengharuskan melakukan puasa dengan penuh sejak dini, namun didasarkan pada proses yang alamiah. Anak-anak bisa dikenalkan dengan mulai diikutkan saat bangun bersama keluarga untuk sahur. Dalam suasana sahur itu, biarkan anak untuk mengelaborasi sendiri apa yang terjadi.

Setidaknya, anak akan mulai bertanya kenapa harus bangun dini hari, mengapa harus makan bersama, yang intinya mengolah daya pikirnya untuk membaca situasi semacam itu. Bila rasa ingin tahunya itu kemudian beranjak pada mempertanyakan hal-hal yang baru bagi anak tersebut, maka di situlah orang tua mulai masuk untuk memberikan informasi dan edukasi tentang puasa.

Selanjutnya, bisa melangkah mulai mengajaknya ikut dengan tahapan-tahapan sesuai usia dan kemampuan fisik anak. "Dengan tahapan itu, Insya Allah aspek pendidikan untuk mengajarkan anak berpuasa akan mudah dan lancar," kata Eka.

Permainan

Menurut Ustadz Eka, generasi salafush shalih, yakni generasi terbaik dari umat Islam --tiga generasi Muslim awal yaitu para sahabat, tabi'in dan tabi'ut tabi'in-- ada kiat yang dilakukan untuk memperkenalkan puasa pada anak. Salah satu kiat jika anak sedang dalam proses belajar puasa, di antaranya adalah mencoba menyibukkan anak dengan kegiatan yang tetap bernilai edukatif.

Misalnya, melalui mainan anak-anak yang tentunya bisa merangsang kognitifnya dan tidak melanggar rambu-rambu puasa itu sendiri. Pada masa generasi salafush shalih,ketika anak dalam proses belajar puasa mulai merasakan lapar dan haus, kemudian dicoba dialihkan dengan menyibukkan dengan permainan sehingga fokusnya berubah.

Sebuah penelitian menguatkan tentang metode permainan itu. Dalam Jurnal Pendidikan Anak Al-Athfal (Volume 4 Nomor 1, Juni 2018) bertajuk Sistem Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Konsep Islam (Analisis dalam Teoritis dan Praktis), Ahmad Suradi dari Institut Agama Islam Negeri Bengkulu menyatakan pendidikan yang harus diberikan kepada anak usia dini bisa meliputi beberapa hal.

Di antaranya, pertama, pendidikan akidah, di mana hal ini diberikan karena Islam menempatkan pendidikan akidah pada posisi yang paling mendasar. Kedua, pendidikan ibadah, agar kelak mereka tumbuh menjadi insan yang benar-benar takwa, yakni insan yang taat melaksanakan segala perintah agama dan taat pula dalam menjauhi segala larangannya.

Ketiga, pendidikan akhlak, dalam rangka mendidik akhlak kepada anak-anak, selain harus diberikan keteladanan yang tepat, juga harus ditunjukkan tentang bagaimana menghormati dan bertata krama dengan sesama manusia.

Metode pendidikan Islam yang dapat dan layak diterapkan pada kegiatan pendidikan terhadap anak usia dini tersebut adalah metode keteladanan, metode latihan dan pengamalan, metode permainan, nyanyian, dan cerita, metode targhib dan tarhib, yakni metode pujian dan sanjungan serta menanamkan kebiasaan yang baik

Rasulullah bersabda: "Iman itu naik dan turun". Karena itu, maka di antara tanggung jawab pendidikan di dalam keluarga adalah pendidikan agama, sehingga anak-anak sejak dini pun diingatkan untuk istiqamah dalam menjalankan ibadah.

Sejak dini, orang tua harus dapat mengarahkan anak-anaknya untuk dapat memahami dan melaksanakan ajaran agama dengan baik, dan pendidikan agama yang paling efektif dalam keluarga, selain berupa nasihat dan pendidikan, adalah keteladanan dan pembiasaan. Dengan pembiasaan inilah, maka dimensi puasa Ramadhan adalah bulan pendidikan bagi anak mendapatkan momentumnya.

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X