Selasa 05 May 2020 12:18 WIB

Sektor Keuangan Syariah Mulai Bersinar di China

Mega proyek Belt and Road Initiative (BRI) banyak didanai dari negara-negara Muslim.

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Nidia Zuraya
Bendera China.
Foto: Pixabay
Bendera China.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sektor keuangan syariah akan makin penting di China sejak dimulainya program mega investasi dan pengembangan multidekade Jalan Sutra Baru, yang secara resmi dikenal sebagai Belt and Road Initiative (BRI). Proyek ini banyak menarik dana dari negara-negara Asia Tengah, Barat, hingga Timur Tengah.

Kepala keuangan Islam global di S&P Global Ratings, Mohamed Damak, mengatakan, hal ini membuat China harus menggunakan skema pembiayaan yang sesuai dengan syariah. Sebagian besar proyeknya ada di sejumlah negara yang mayoritas Islam.

Baca Juga

"Beberapa proyek BRI akan melalui negara-negara inti keuangan Islam dan karena itu kemungkinan akan dibiayai dengan cara yang sesuai syariah," kata Damak dilansir Gulf Times Exclusive, Selasa (5/5).

BRI diluncurkan oleh Presiden China Xi Jinping pada 2013. Proyek ini merupakan salah satu proyek infrastruktur dan investasi terbesar di dunia dalam sejarah. Sejauh ini proyek ini mencakup sekitar 70 negara serta 65 persen dari populasi dunia dan 40 persen dari PDB global.

China mengatakan siap untuk menghabiskan hampir 150 miliar dolar AS per tahun, bersama dengan negara yang telah bergabung dalam inisiatif ini. Proyek akan berkembang di seluruh Asia Tengah dan Barat hingga ke Timur Tengah.

BRI memimpin melalui banyak ekonomi dan yurisdiksi Islam yang memiliki basis besar konsumen Muslim. Dengan demikian, hal ini jelas menguntungkan bagi sektor ekonomi Islam, yaitu keuangan Islam dan perdagangan halal, untuk bergabung dan berkontribusi pada BRI.

Sejumlah lembaga keuangan Islam, dimulai dengan Islamic Development Bank, memasuki kerja sama dengan Bank Investasi Infrastruktur Asia yang didominasi China. Hal ini terutama untuk menyediakan pembiayaan infrastruktur berbasis syariah untuk BRI.

Bank Industri dan Komersial China telah membuka jendela perbankan syariah yang dirancang khusus untuk produk-produk pembiayaan BRI. Sementara itu, Qatar National Bank dan Qatar International Islamic Bank bermitra dengan Southwest Security yang berbasis di Chongqing untuk memanfaatkan pasar modal negara-negara Teluk (GCC) guna investasi BRI yang sesuai syariah.

Pemain besar lainnya, konglomerat industri China Hainan Group, telah mengeluarkan pinjaman syariah mulai dari tahun 2015. Mereka menjadi perusahaan pertama di China daratan yang memperoleh pembiayaan melalui keuangan Islam, dengan fokus awal pada pendanaan kapal untuk segmen maritim BRI.

"Akibatnya, keuangan Islam telah menjadi elemen penting untuk implementasi BRI," katanya.

Bank-bank Islam terutama dari Timur Tengah dan Asia Tenggara juga telah mencium peluang dan mulai berinvestasi tidak hanya di BRI, tetapi juga di China langsung. Dalam beberapa tahun terakhir, China mulai mengubah peraturan perbankan untuk memfasilitasi pengembangan keuangan Islam di tanahnya sendiri.

Hal ini merupakan langkah besar setelah minat China terhadap keuangan Islam tumbuh selepas krisis keuangan global 2008-2009. Hal ini memicu perdebatan juga di China karena norma-norma keberlanjutan ekonomi di keuangan Islam yang lebih besar dibandingkan dengan sektor keuangan konvensional.

Keuangan syariah juga punya prinsip-prinsip etika keuangan yang menarik bagi investor jenis baru yang lebih bertanggung jawab, baik pribadi maupun kelembagaan. Sementara itu, sebagian besar kegiatan pembiayaan syariah China saat ini fokus pada proyek-proyek di luar negeri. Ada juga pengembangan sektor di dalam China sendiri meskipun pada kecepatan yang lebih lambat.

Inisiatif untuk meluncurkan perbankan syariah berawal pada 2014 ketika Bank Muamalat Malaysia bekerja sama dengan Bank Shizuishan membuka jendela perbankan Islam di Provinsi Ningxia, China. Affin Islamic Bank Malaysia bersama dengan Bank of East Asia yang berbasis di Hong Kong telah mencari peluang untuk meluncurkan layanan perbankan syariah di Urumqi, ibu kota Xinjiang.

Upaya-upaya seperti itu saat ini terus berfokus pada daerah Ningxia dan otonomi Xinjiang, China, yang merupakan rumah bagi sejumlah besar Muslim di luar perkiraan populasi Islam China sekitar 25 juta orang. Yinchuan, ibu kota Ningxia, telah berubah menjadi medan kerja sama keuangan antara Beijing dan negara-negara GCC dalam hal investasi Islam.

Wilayah tersebut juga telah ditetapkan untuk menjadi pusat keuangan Islam China masa depan dalam lingkup internasional. Mereka berpotensi bersaing dengan Shanghai yang memiliki ambisi serupa.

Para ahli mengatakan bahwa ada potensi besar untuk keuangan Islam bagi China tidak hanya berkaitan dengan kerja sama internasional, tetapi juga di tanah domestik. Selain memasok populasi Muslim kecil dengan layanan keuangan Islam, hal ini juga bisa menarik lebih banyak investor Islam dari luar negeri dengan menyediakan peluang investasi yang sesuai syariah.

Masalah utama yang harus diselesaikan adalah adaptasi yang lebih intrinsik dari kerangka kerja perbankan legal China terhadap keuangan Islam. Selain itu, penyediaan profesional yang lebih berkualitas di sektor ini membutuhkan pelatihan intensif di pusat keuangan Islam internasional global, terutama di GCC dan Asia Tenggara.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement