Kamis 30 Apr 2020 07:08 WIB

Positif Covid DKI Melambat, Fahira: Harus Semakin Disiplin

Jika kasus positif Covid-19 di Jakarta melambat, artinya warga harus makin disiplin.

Rep: Febrianto Adi Saputro/ Red: Esthi Maharani
Fahira Idris
Foto: ANTARA FOTO
Fahira Idris

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Anggota DPD, Fahira Idris, merespons pernyataan Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo yang menyebut kasus positif Covid-19 di DKI Jakarta mengalami perlambatan pesat. Ia berpesan agar formulasi penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) saat ini diperkuat.

"Jika kasus positif Covid-19 di Jakarta melambat, artinya kita harus semakin disiplin. Ini agar ke depan benar-benar tidak lagi ditemukan kasus baru. Melambatnya kasus di DKI juga harus menjadi momentum bagi pemerintah untuk semakin memperkuat formulasi PSBB," kata Fahira, Rabu (29/4).

Ia menuturkan, capaian tersebut merupakan kabar baik dalam upaya bersama memutus rantai penularan Covid-19. Namun, ia menilai capaian tersebut harus menjadi penambah semangat untuk terus disiplin, patuh, dan taat terhadap segala aturan PSBB maupun protokol kesehatan Covid-19.

Menurut Fahira, terjadinya pelambatan secara signifikan kasus positif Covid-19 di DKI Jakarta harus menjadi bahan evaluasi bagi semua pemangku kepentingan percepatan penanganan Covid-19, baik di pusat maupun daerah. "Evaluasi ini bertujuan untuk memperkuat lagi berbagai formulasi kebijakan agar ke depan kasus positif Covid-19 tidak hanya flat atau landai, tetapi juga mampu menembus nol kasus," katanya.

Wakil Ketua Badan Pengkajian MPR itu berharap dalam beberapa waktu mendatang Indonesia bisa mengikuti capaian sejumlah negara lain yang mengalami kemajuan signifikan dalam penangangan Covid-19. Ia menjabarkan, beberapa negara seperti Selandia Baru melaporkan bahwa telah mampu menghentikan penyebaran Covid-19 dan mulai membuka sejumlah kegiatan bisnis, fasilitas pendidikan, maupun kesehatan. Begitu juga Malaysia dan Vietnam.

"Kita berdoa dan berharap kebijakan PSBB ini mampu membawa kepada sebuah titik kepastian, seperti yang telah dialami beberapa negara di dunia," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement