Rabu 29 Apr 2020 05:50 WIB

Erdogan Bela Ulama Turki yang Sebut HIV Akibat Homoseksual

Ali Erbas dilaporkan Asosiasi HAM atas pernyataannya terkait HIV dipicu perzinahan.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bersama ulama terkemuka Ali Erbas.
Foto: ahvalnews.com (AP)
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bersama ulama terkemuka Ali Erbas.

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Senin (29/4), membela pernyataan ulama terkemuka Turki, Ali Erbas yang menyebut, homoseksualitas "membawa penyakit dan menyebabkan generasi ini membusuk."

Dalam khotbah pertamanya selama bulan suci Ramadhan pada Jumat (24/4), Ali Erbas menyatakan, ratusan ribu orang setiap tahun terpapar virus HIV karena homoseksualitas dan perzinahan, serta meminta umat untuk berkumpul bersama memerangi "kejahatan semacam ini." Kelompok oposisi dan hak asasi manusia mengecam komentar Erbas, yang mengepalai Lembagan Agama (Diyanet) Turki.

Dalam pidato publik setelah pertemuan kabinet pada Senin, Erdogan merespon kecaman kepada Erbas, yang dianggapnya serangan terhadap negara. Dikutip dari Associated Press, Erdogan-seorang Muslim yang saleh yang partainya berakar pada gerakan Islam Turki-mengatakan, Erbas telah memenuhi tugas "iman, kebijaksanaan (Islam), dan kantornya" dan bahwa kata-katanya mengikat bagi semua Muslim. Erdogan menegaskan, lontaran kritik terhadap ulama telah berubah menjadi "serangan yang disengaja terhadap Islam."

Asosiasi Hak Asasi Manusia (HAM) Turki yang bermarkas di Ankara telah mengajukan pengaduan pidana terhadap Erbas, dan menuduhnya melakukan penghasutan. Pun dengan sosiasi pengacara di Ankara menuduh Erbas elah menghasut kebencian. Asosiasi itu menyerukan agar dia dipecat dari jabatannya, dengan mengatakan tidak akan heran jika ulama tersebut selanjutnya memanggil orang-orang "untuk menyalakan obor dan membakar wanita sebagai penyihir."

Sementara itu, kantor kepala kejaksaan Ankara mengatakan, pihaknya meluncurkan penyelidikan kriminal terhadap kelompok pengacara Ankara karena "menghina nilai-nilai agama (Islam)." Banyak pejabat dan pendukung partai (AKP) yang berkuasa juga mendukung Erbas di Twitter.

Homoseksualitas memang tidak dilarang di Turki. Namun pemerintah di bawah Erdogan dalam beberapa tahun terakhir, telah melarang parade LGBT dan acara lainnya, sering kali mengutip keamanan publik.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement