Gunakan Internet untuk Mendukung Ibadah

Rep: Fuji E Permana/ Red: Muhammad Hafil

 Selasa 28 Apr 2020 16:17 WIB

Gunakan Internet untuk Mendukung Ibadah. Foto: Juru Bicara Wakil Presiden RI, Masduki Baidlowi saat menjadi pembicara kunci dalam acara talkshow bertajuk Peci dan Kopi di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Jumat (28/2). Foto: Republika/Muhyiddin Gunakan Internet untuk Mendukung Ibadah. Foto: Juru Bicara Wakil Presiden RI, Masduki Baidlowi saat menjadi pembicara kunci dalam acara talkshow bertajuk Peci dan Kopi di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Jumat (28/2).

Umat Islam diharap manfaatkan internet untuk mendukung ibadah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ramadhan tahun ini umat Islam berpuasa sambil menghadapi pandemi virus corona atau Covid-19, sehingga banyak umat Islam yang menghabiskan waktu di rumah. Maka Ramadhan kali ini menjadi momen yang tepat bagi Muslim memanfaatkan teknologi digital dan internet untuk ibadah serta dakwah dari rumah.

Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi Majelis Ulama Indonesia (MUI), Kiai Masduki Baidlowi mengatakan, umat Islam harus bisa mengambil hikmah dari musibah pandemi Covid-19. Karena ini pertama kalinya umat Islam tidak bisa melaksanakan kegiatan Ramadhan secara normal.

Umat Islam juga saat ini banyak yang bekerja dari rumah. Artinya Muslim dituntut menggunakan komputer, internet dan media komunikasi digital untuk menyelesaikan pekerjaannya.

"Hampir 50 persen penduduk Indonesia dari 267 juta penduduk jadi pengguna internet, saya kira sudah di atas 160 juta masyarakat menggunakan internet, 90 persennya menggunakan smartphone (gawai)," kata Kiai Masduki kepada Republika, Selasa (28/4).

Ia menegaskan, maka pada momen Ramadhan ini menjadi waktu yang paling baik menggunakan internet untuk ibadah. Banyak yang biasa dilakukan umat Islam di kehidupan nyata sudah bisa dilakukan di internet.

Umat Islam kini bisa melakukan tadarus dan kajian tafsir secara berkelompok yang berada di tempat berbeda-beda dengan memanfaatkan teknologi digital. Seperti diketahui sebelumnya umat Islam banyak tertinggal dari penggunaan teknologi digital sebagai alat komunikasi dan dakwah.

"Jadi sekarang ini adalah waktunya untuk bisa belajar dengan baik dan mengambil hikmah dari kondisi (pandemi Covid-19) ini, ini adalah waktu yang cukup luang untuk belajar masalah digitalisasi informasi dalam konteks kita berdakwah," ujarnya.

Wakil Sekretaris Jendral Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU) ini menyampaikan, umat Islam bisa membaca Alquran, kitab-kitab hadis dan fikih mazhab melalui gawai. Sehingga anak-anak milenial bisa belajar Islam yang ramah dan mudah dipahami dengan memanfaatkan teknologi yang ada di gawai.  

Tapi gawai juga bisa digunakan untuk menonton film yang dilarang ditonton oleh agama Islam. Bahkan dengan menggunakan gawai bisa membuat berita bohong atau hoaks. Apalagi sekarang hoaks sudah menjadi industri. Untuk itu MUI sudah mengeluarkan fatwa tentang penggunaan media sosial.

"Jadi ada sisi gelap yang berbahaya di smartphone (gawai) dan media sosial ini, karena bisa mengakses film porno dan hoaks, bahkan ada satu istilah lone wolf artinya orang bisa menjadi teroris dengan belajar sendiri melalui internet," jelas Kiai Masduki.

Menurut Juru Bicara Wakil Presiden ini, penggunaan internet, komputer dan gawai di dalam sebuah keluarga harus bisa dikontrol. Batasan-batasan anak-anak milenial menggunakan internet harus bisa dikondisikan. Supaya mereka tidak masuk ke dalam lubang berbahaya dalam internet.

Terlebih di bulan Ramadhan adalah momentum yang baik untuk umat Islam belajar sistem informasi digital. Sejujurnya harus dikatakan bahwa umat Islam dalam konteks dakwah, perlu berpacu memanfaatkan teknologi digital dan internet untuk kepentingan dakwah.

"Karena saat ini memang itulah alat yang efektif untuk melakukan dakwah dan pendidikan, mencari ilmu sekarang justru lewat media digital," ujarnya.


BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X