Imam Uganda: Ramadhan Kali Ini Sangat berbeda

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Muhammad Hafil

 Selasa 28 Apr 2020 11:39 WIB

Imam Uganda: Ramadhan Kali Ini Sangat berbeda. Foto: Fajar Ramadhan yang tertimpa pandemi Coroma (ilustrasi). Foto: WallpaperAcces Imam Uganda: Ramadhan Kali Ini Sangat berbeda. Foto: Fajar Ramadhan yang tertimpa pandemi Coroma (ilustrasi).

Pemerintah Uganda menetapkan lockdown untuk mencegah covid-19 saat Ramadhan.

REPUBLIKA.CO.ID, KAMPALA -- Umat Muslim di Uganda mengamati bulan suci Ramadhan secara berbeda pada tahun ini. Pemerintah Uganda menerapkan karantina wilayah atau lockdown yang bertujuan membatasi penyebaran wabah virus corona atau Covid-19.

Biasanya di Uganda selama bulan Ramadhan ada agenda berbuka puasa bersama banyak Muslim lainnya yang berlangsung meriah. Masjid-masjid di seluruh negeri biasanya menampung banyak orang untuk berbuka puasa, terutama kalangan yang kurang mampu.

Baca Juga

Namun, tahun ini, pemerintah memberlakukan lockdown dan pembatasan jarak sosial untuk menghentikan penyebaran Covid-19. Akibatnya, Ramadhan tidak meriah dan buka puasa bersama dilarang. Badan-badan amal di sana pun hanya diizinkan mengirimkan makanan berbuka puasa yang telah dikemas sebelumnya kepada kalangan yang membutuhkan.

Hal itu untuk menghindari terjadinya kerumunan. Semua kegiatan Ramadhan lainnya juga dilarang, termasuk kios-kios yang biasa menjual makanan, minuman dan pakaian di Masjid Nasional Uganda di daerah Kampala Lama.

Masjid ditutup untuk jamaah, meski seruan adzan sholat masih berlangsung lima kali sehari. Pelaksanaan sholat di masjid-masjid dilarang, termasuk acara buka puasa bersama di masjid.

Seorang imam masjid di Uganda, Syeikh Imran Ssali merasa pilu karena umat Muslim di negaranya harus berdamai dengan kenyataan. "Melalui Ramadhan ini, keadaan melarang kita untuk melaksanakan sholat di masjid-masjid dan melaksanakan sholat Tarawih di masjid-masjid," ujar dia seperti dilansir Anadolu Agency, Selasa (28/4).

Imran mengakui Ramadhan ini sangat berbeda. "Covid-19 ada bersama kita. Kita harus menerimanya dan mematuhi pedoman dari Kementerian Kesehatan untuk melindungi hidup kita," katanya.

Berita Lainnya

Play Podcast X