Friday, 19 Syawwal 1443 / 20 May 2022

Pembatasan Selama Covid-19 Mulai Longgar di Beberapa Negara

Selasa 28 Apr 2020 06:09 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Nora Azizah

Pemerintah Spanyol akan mengizinkan anak-anak untuk pergi ke luar rumah dan bermain, untuk pertama kalinya dalam enam pekan terakhir setelah lockdown diberlakukan negara itu (Foto: ilustrasi Covid-19 Spanyol)

Pemerintah Spanyol akan mengizinkan anak-anak untuk pergi ke luar rumah dan bermain, untuk pertama kalinya dalam enam pekan terakhir setelah lockdown diberlakukan negara itu (Foto: ilustrasi Covid-19 Spanyol)

Foto: AP Photo/Emilio Morenatti
Spanyol menjadi salah satu negara yang melonggarkan pembatasan sosial.

REPUBLIKA.CO.ID, MADRID -- Pemerintah Spanyol akan mengizinkan anak-anak pergi keluar rumah dan bermain untuk pertama kalinya dalam enam pekan terakhir setelah lockdown diberlakukan negara itu. Dilansir Time, Selasa (28/4), pembatasan yang diberlakukan untuk mengendalikan penyebaran virus corona jenis baru (Covid-19) telah mulai dilonggarkan dengan kembali membuka perekonomian mereka. 

Di negara-negara lain, terdapat laporan penurunan kasus Covid-19. Salah satunya, di Wuhan, Provinsi Hubei, China, yang menjadi kota tempat virus corona jenis baru pertama kali ditemukan, tercatat tidak lagi ada pasien terinfeksi yang dirawat. 

Baca Juga

Di Inggris, Perdana Menteri Boris Johnson dilaporkan siap untuk bekerja kembali setelah positif Covid-19 dan sempat menjalani perawatan di unit intensif rumah sakit (ICU). Sementara itu, di Amerika Serikat (AS), gubernur untuk negara-negara bagian seperti Georgia, Oklahoma, dan Alaska memungkinkan bisnis tertentu untuk dibuka kembali. Gereja-gereja di Montana juga mulai kembali membuka rumah ibadah untuk pelayanan pribadi mulai Ahad (26/4) kemarin. 

Virus corona jenis baru (SARS-CoV-2) yang menyebabkan infeksi penyakit Covid-19 pertama kali ditemukan di Wuhan pada Desember 2019. Sejak saat itu virus terus menyebar secara global ke berbagai negara lainnya di dunia. Italia, Inggris, Spanyol, dan Prancis tercatat menyumbang lebih dari 20 ribu kematian. Sementara itu, di AS sejauh ini jumlahnya mencapai 55.415.

Meski demikian, beberapa tanda penurunan kasus Covid-19 yang menggembirakan mulai terlihat ketika Italia mencatat jumlah kematian terendah dalam 24 jam terakhir sejak pertengahan Maret lalu. Selama tujuh pekan memasuki peraturan lockdown yang ketat di Italia, Perdana Menteri Giuseppe Conte menyusun jadwal yang telah lama ditunggu untuk kembali normal. Ia mengumumkan bahwa pabrik, situs konstruksi, dan bisnis pasokan grosir dapat kembali beroperasi setelah mereka menerapkan tindakan pengamanan dalam mencegah penyebaran virus.

Conte juga mengatakan bahwa mulai 4 Mei mendatang, taman-taman umum di Italia akan dibuka kembali. Pemakaman juga akan diizinkan. Atlet dapat melanjutkan latihan olahraga. Sementara itu, orang-orang dapat mengunjungi kerabat mereka yang tinggal di wilayah sama. Jika semuanya berjalan baik, toko dan museum juga akan dibuka kembali pada 18 Mei. Sementara itu, restoran, kafe, dan salon dibuka kembali pada 1 Juni jika semua berjalan lancar. 

Namun, Conte memperingatkan bahwa jika orang-orang tidak memakai masker dan mematuhi aturan sosial lainnya, kurva penularan virus dapat kembali meningkat. Bahkan, lonjakan itu akan berada di luar kendali, jumlah kematian naik, dan perekonomian jauh lebih terpukul dibandingkan saat ini. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA