Senin 27 Apr 2020 17:11 WIB

RSA UGM Luncurkan Layanan Bilik Sampling Swab

Melalui alat ini,pemeriksaan untuk swab bisa ditingkatkan.

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Yusuf Assidiq
Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM
Foto: rsa.ugm.ac.id
Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM Yogyakarta meresmikan Gama Swab Sampling Chamber. Peluncuran itu menjadikan RSA UGM kini bisa melakukan pengecekan swab PCR bagi Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Orang Tanpa Gejala (OTG).

Direktur Utama RSA UGM, dr Arief Budiyanto, mengaku bersyukur bilik itu akhirnya dapat diluncurkan. Terutama, di tengah-tengah kapasitas diagnostik Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) yang masih kurang di Indonesia.

Sebagai gambaran, di DI Yogyakarta saja satu bulan lalu hanya satu tempat yang melakukan pemeriksaan PCR. Padahal, PCR menjadi pemeriksaan yang standar untuk diagnosis Covid-19.

Ia turut bersyukur FKKMK UGM sejak satu bulan lalu sudah melakukan pemeriksaan PCR dengan 2-3 mesin. Terlebih, hasil sudah bisa didapatkan 2-3 hari yang mana jauh lebih cepat dari sebelumnya yang sampai 10 hari. "Ini sangat bagus untuk menambah kapasitas diagnostik," kata Arief, Senin (27/5).

Beberapa waktu lalu, lanjut Arief, mereka yang bisa dilakukan pemeriksaan swab hanya Pasien Dalam Pengawasan (PDP) atau pasien ODP rawat inap. Hal ini karena keterbatasan alat untuk melakukan pemeriksaan swab.

Sedangkan, mereka yang ODP rawat jalan dan Orang Tanpa Gejala (OTG) belum bisa dilakukan pemeriksaan swab. Melalui alat ini, ia menekankan, pemeriksaan untuk swab bisa ditingkatkan.

"Terutama, untuk yang ODP rawat jalan dan OTG, sehingga nantinya diagnostik kapasitasnya bisa ditingkatkan, banyak orang yang bisa diswab," ujarnya.

Selain itu, ia menerangkan, saat ini RS-RS yang melayani pasien Covid-19 miliki masalah yang sama yaitu kekurangan APD. Walaupun, RSA UGM sendiri memiliki tim khusus penggalangan donasi APD yang sudah banyak menerima bantuan.

Tapi, Arief menekankan, APD itu harus selalu dipakai yang membuat rumah sakit otomatis harus menyediakan persediaan APD yang banyak. Sebab, tidak ada yang tahu kapan wabah Covid-19 ini akan berakhir.

Untuk itu, ia bersykur, dengan adanya bilik swab tersebut penggunaan APD bisa lebih dihemat, terutama untuk sampling. Sebab, petugas-petugas yang sampling akan menggunakan bilik ini.

"Kalau sebelumnya menggunakan APD 3, sekarang bisa lebih rendah, jadi APD 3 bisa fokus ke zona merah," kata Arief.

Terkait keamanan dan keselamatan petugas bukan level tiga, ia menekankan, tim sudah mendesain bilik berbeda dari bilik-bilik lain. Bilik sudah dimodifikasi yang membuatnya aman dan nyaman bagi petugas maupun orang yang disampling.

"Alhamdulillah, tim multidisiplin penelitian MIPA, Vokasi, FKKMK, dan Tim RSA bisa mengembangkan alat yang inovatif ini, sehingga mempunyai kenyamaman tapi tidak mengurangi keselamatan dan keamanan baik petugas maupun orang yang diswab," ujar dia.

Ketua Tim Penelitian, Dr Sumiharto menjelaskan, ide awal pembuatan Gama Swab Sampling Chamber sendiri melihat berbahayanya petugas ketika memeriksa. Atas kondisi itu, mereka ingin membuat sistem pemeriksaan yang aman dan nyaman.

Ia menuturkan, konsep bilik menggunakan tekanan positif, berbeda dengan bilik yang ada selama ini. Sebab, operator akan berada di dalam dan pasien akan ada di luar, yang diharapkan jauh lebih aman dan nyaman.

"Kami akan terus mengevaluasi kalau ada sesuatu yang mungkin masih kurang akan kita perbaiki, dan harapannya jadi sebuah sistem yang jauh lebih handal, bermanfaat, dan memberikan ide swab berikutnya jauh lebih baik," kata Sumiharto.

Terkait keamanan, Dr Hera dari FKKMK menerangkan, Covid-19 yang ditularkan via percikan, tetesan, atau droplet, pengambilan sampel swab harus dilakukan sangat hati-hati. Tujuannya, menghindari agar virus itu tidak menyebar ke luar.

Idealnya, lanjut Hera, pengambilan swab dilakukan di ruangan bertekanan negatif dan petugas wajib menggunakan APD lengkap zona tiga. Tapi, terjadi kelangkaan APD dan keterbatasan ruang isolasi bertekanan negatif baik di RS maupun di Lab.

"Maka, diperlukan inovasi agar kita bisa melakukan tanpa mengurangi resiko paparan bagi orang lain, berdasarkan pemikiran ini, melihat pengalaman teman-teman di Cina dan Korea, kami membuat desain bilik sampel ini," ujar Hera.

Posisi petugas di dalam bilik membuat mereka harus menghadirkan tekanan positif sebagai perlindungan. Tekanan itu membuat ketika adanya droplet dari pasien, petugas terlindungi tanpa harus menggunakan APD lengkap seperti di zona tiga.

Selain itu, mereka menggunakan HEPA filter yang membuat aliran udara masuk ke bilik bisa disaring terlebih dulu. HEPA filter sendiri bisa menyaring partikel sampai 0,3 mikro dengan efisiensi lebih dari 99 persen.

Untuk pasien, dilingungi dengan disiapkan disinfektan dan akan didisinfeksi tiap satu pasien selesai melakukan swab. Bilik turut dilindungi disinfektan dengan UV, yang membuat semuanya siap digunakan untuk cek berikutnya.

Bilik dibuat dengan material yang cukup kuat. Rangka alumunium tahan karat dan dinding akrilik 0,5 centimeter, sehingga cukup kuat dan tahan cuaca, jadi bisa diletakkan di luar bisa diletakkan di dalam.

"Karena ini didesain untuk mobile, ada roda yang membuat bilik ini mudah dipindah dan digunakan sesuai kenyamanan," kata Hera.

Untuk komunikasi dengan pasien di luar, bilik dilengkapi sistem penerangan dan audio. Bilik telah dilakukan uji fungsi untuk memastikan pengambilan sampling untuk banyak orang dengan secara cepat benar-benar bisa dilakukan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement