Saturday, 22 Muharram 1444 / 20 August 2022

Arti Orang Siak Versi KBBI dan Buya Hamka

Senin 27 Apr 2020 11:35 WIB

Red: Muhammad Hafil

Arti Orang Siak Versi KBBI dan Buya Hamka. Foto: Istana Kesultanan Kesultanan Siak Sri Inderapura di Riau

Arti Orang Siak Versi KBBI dan Buya Hamka. Foto: Istana Kesultanan Kesultanan Siak Sri Inderapura di Riau

Foto: tangkapan layar wikipedia
KBBI dan Buya Hamka membuat pengertian tentang Orang Siak.

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Di Sumatra bagian tengah (Sumatra Barat, Riau) dan Malaysia, kerap terdengar istilah 'Orang Siak'. Istilah ini biasanya ditujukan kepada orang-orang yang rajin beribadah (Agama Islam).

Istilah ini pun masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Namun, kata di KBBI tidak menyertakan kata 'orang'. Yang disebut hanya Siak saja. Yang artinya yaitu:

Baca Juga

1. Orang (santri) penjaga atau perawat masjid;

2. Orang yang biasanya tinggal di masjid dan mendapat rezeki dari sedekah orang.

Mengenai istilah Orang Siak ini, Prof Hamka (Buya Hamka) juga pernah menjelaskan pengertiannya. Dia menuliskannya dalam sebuah makalah yang dipresentasikan di Seminar Sejarah Riau, yang diprakarsai oleh Universitas Riau di Pekanbaru pada 20-25 Mei 1975.

Dalam catatannya, Buya Hamka menguraikan beberapa pendapat tentang arti kata Siak, yang menjadi nama dari sungai yang mengalir di Riau. Dan, kemudian menjadi nama dari sebuah kerajaan yang berdiri di tepi sungai itu.

Menurut Buya Hamka, ada satu pendapat tentang arti Orang Siak, yaitu orang yang dianggap ahli dalam agama Islam. Ada pula yang mengatakan bahwa Orang Siak adalah lebai-lebai atau marbot-marbot masjdi.

Buya Hamka mengatakan, di Minangkabau sampai saat ini dalam bahasa sehari-hari, yang disebut Orang Siak adalah orang ahli agama Islam. Sama artinya dengan pengertian orang Jawa tentang santri.

"Orang semacam saya ini (Buya Hamka) kalau di Minang, termasuk golongan Orang Siak, kalau seseorang hidupnya tekun beragama, dikatakan orang: 'Si fulan itu Siak benar!" kata Buya Hamka.

Tetapi, di Semenanjung Tanah Melayu (Malaysia Barat), umumnya yang disebut Siak memang pengurus-pengurus harian masjid. Kadang-kadang diartikan "Orang-Orang Siak" ialah orang yang ditugaskan mengurus, memandikan, dan menyembahyangkan jenazah.

"Bagaimanapun diartikan baik tinggi cara di Minangkabau atau agak ke bawah cara di Malaysia, namun kata Siak terang sekali dalam anggapan orang Melayu sangat bertali erat dengan agama," kata Buya Hamka.

Tetapi, lanjut Hamka, dari kata-kata Orang Siak ini, dirinya pernah mendengar dari Almarhum DR Syekh Abdullah Ahmad, ulama besar yang terkenal di Minangkabau (meninggal 1934) bahwa pepatah Minangkabau yang terkenal : "Adat menurut, syara mendaki",  mendakinya itu ialah dari daerah Siak ini. Beliau (Dr Abdullah Ahmad) menolak tafsiran yang umum di masa itu, yang mengatakan syara mendaki dari Ulakan Pariaman, yang dibawa oleh Syekh Burhanuddin Ulakan ke Minangkabau yang kembali dari Aceh berguru kepada Syekh Abdurrauf Singkil. Beliau (Syekh Burhanuddin) meninggal pada 1111 hijriyah.

Menurut Buya Hamka, DR Syekh Abdullah Ahmad tidak menerima pendapat mendaki dari Ulakan itu. Karena dengan demikian, baru 250 tahun saja Islam di Minangkabau atau dua setengah abad kata beliau Syara mendaki dari Siak, buktinya kata beliau:

"Ialah orang-orang yang ahli dala hal agama Islam sejak dahulu sampai sekarang, disebut Orang Siak."

Siak adalah Minangkabau Timur ini, sejak Rokan, Kampar, dan sekitar Sungai Siak. Jika kelihatan ahli-ahli agama Islam itu, mereka dihormati dan disebut Orang Siak sampai sekarang. Karena itu maka menurut Dr Abdullah Ahmad: "Nenek moyang tuan-tuan dari Kampar."

"Daerah Rokan dan sekitar Sungai Siak sekarang inilah guru-guru nenek moyang kami, yang mengisalmkan kami orang mudik, orang pedalaman Minangkabau," kata Buya Hamka.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA