Ahad 26 Apr 2020 15:02 WIB

Singapura Kejar Ketersediaan Ruang Bagi Pasien Covid-19

Dari 10 ribu orang yang terinfeksi 80 persen diantaranya adalah pekerja imigran

Rep: lintar satria/ Red: Hiru Muhammad
Warga mengenakan masker melintas di salah satu sudut Singapura, (24/4). Kasus positif corona di Singapura terus meningkat.
Foto: EPA
Warga mengenakan masker melintas di salah satu sudut Singapura, (24/4). Kasus positif corona di Singapura terus meningkat.

REPUBLIKA.CO.ID, SINGAPURA--Singapura membangun sejumlah fasilitas bagi perawatan pasien virus Corona. Fasilitas tersebut berada  di gedung pameran dan fasilitas sementara lainnya. Jumlah kasus infeksi di negeri jiran itu terus meningkat pesat.

Sebagian besar kasus infeksi di negara berpopulasi 5,7 juta jiwa terjadi di pemukiman pekerja migran. Sejauh ini Singapura sudah melaporkan lebih dari 12 ribu kasus infeksi virus yang dikenal Covid-19.

Singapura membangun fasilitas kesehatan sementara di gedung pameran Changi Exhibition Centre, tempat yang menyelenggarakan pameran pesawat terbesar di Asia. Fasilitas sementara itu dapat menampung 4.000 pasien yang sedang dalam proses pemulihan dan hanya memiliki gejala ringan.

"Seluruh proses pembangunan infrastruktur memakan waktu enam hari," kata anggota komite penyelenggara fasilitas kesehatan sementara Singapura, Joseph Tan, Ahad (26/4).

Pasien pertama sebagian besar dari Bangladesh dan India. Mereka dipindahkan pada Sabtu (25/4) kemarin ke ruang pameran yang sangat besar. Ruangan yang disekat-sekat untuk delapan hingga 10 orang itu berisi tempat tidur logam, laci berbahan plastik dan kipas angin.

Jumlah kasus infeksi Singapura masih lebih rendah dari Cina, India, Jepang dan Pakistan. Dari 10 ribu orang yang terinfeksi 80 persen diantaranya adalah pekerja imigran. Bagi yang memiliki gejala ringan ditempatkan di 'fasilitas isolasi'.

Walaupun angka kasus infeksi terbilang tinggi tapi pasien yang meninggal dunia di Singapura hanya 12 orang. Sementara sebanyak 24 pasien lainnya masih berada di ruang unit gawat darurat.  

Para pekerja migran yang masih muda biasanya mendapat upah 15 dolar AS per hari. Mereka tinggal di asrama di wilayah yang jarang dikunjungi turis. Selama pandemi Covid-19 pemerintah Singapura memerintahkan asrama-asrama itu dikarantina, sementara pekerja imigran yang tinggal didalamnya berjuang menghadapi rasa takut tertular virus.

Setiap kamar di ruang isolasi Changi dilengkapi monitor tekanan darah dan peralatan medis lainnya agar pasien dapat memeriksa kesehatan mereka sendiri tiga kali sehari. Sementara untuk menghindari kontak langsung makanan diberikan oleh robot yang dikendalikan dari jarak jauh.

Pihak berwenang kesehatan Singapura juga menyediakan robot anjing produksi Boston Dynamics di fasilitas isolasi tersebut. Mereka mengatakan robot itu dapat digunakan untuk mengantar obat-obatan atau memeriksa suhu tubuh pasien.

Ruangan di dalam gedung itu dapat menampung 2.700 pasien itu. Sementara ruang tambahan di luar gedung dapat menampung 1.700 tempat tidur. Gedung pameran lain yang bernama EXPO juga sudah menampung ratusan pasien Covid-19 lainnya.

Pihak berwenang Singapura mengatakan sekitar 10 ribu pekerja layanan esensial yang sehat sudah dipindahkan dari asrama-asrama tersebut. Mereka dibawa ke kamp-kamp militer, gedung olahraga dan kapal akomodasi untuk pekerja lepas pantai.

Di pelabuhan barang Tanjong Pagar juga sudah didirikan tenda-tenda berwarna putih. Media setempat melaporkan fasilitas tersebut dapat menampung 15 ribu pekerja migran. Tapi pemerintah Singapura belum memutuskan fasilitas itu akan digunakan untuk apa.

"Kami terus mengeksplorasi ruang-ruang tambahan untuk berbagai alasan, termasuk fasilitas untuk kasus suspek atau buruk yang terinfeksi dan juga pekerja yang sedang memulihkan diri atau benar-benar pulih," kata juru bicara dari Kementerian Pembangunan Nasional Singapura dalam pernyataannya. n Lintar Satria/Reuters

 

sumber : reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement