Thursday, 18 Syawwal 1443 / 19 May 2022

Studi: Italia tak Sadar Corona Menyebar Sejak Januari

Sabtu 25 Apr 2020 18:14 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini

Warga mengenakan masker dalam toko buku di Roma, Italia, Senin (20/4). Italia secara perlahan mulai mengangkat kebijakan karantina atau lockdown setelah kasus corona menurun.

Warga mengenakan masker dalam toko buku di Roma, Italia, Senin (20/4). Italia secara perlahan mulai mengangkat kebijakan karantina atau lockdown setelah kasus corona menurun.

Foto: EPA-EFE/Angelo Carconi
Epidemi virus corona di Italia diindikasikan menyebar lebih awal.

REPUBLIKA.CO.ID, ROMA — Bruno Kessler Foundation melakukan studi tentang penyebaran Covid-19 di Italia. Mereka menemukan indikasi bahwa virus corona mulai menyebar di negara tersebut pada Januari. 

“Kami menyadari bahwa ada banyak orang yang terinfeksi di Lombardy sebelum 20 Februari, yang berarti epidemi telah dimulai jauh lebih awal,” kata Stefano Merler dari Bruno Kessler Foundation saat melangsungkan konferensi pers pada Jumat (24/4).

Baca Juga

Dia meyakini virus telah menyebar sejak Januari. “Pasti di bulan Januari, tapi mungkin bahkan sebelumnya. Kita tidak akan pernah tahu,” ujar Merler seraya menambahkan bahwa virus corona baru dibawa ke Italia oleh sekelompok orang daripada individu.

Italia mulai melakukan pengujian atau tes Covid-19 setelah mendiagnosis pasien lokal pertamanya pada 21 Februari di Codogno, sebuah kota kecil di wilayah Lombardy. Hanya dalam beberapa pekan, jumlah kasus dan kematian segera meningkat tajam.

Para ilmuwan mencurigai bahwa virus telah ada di sana tanpa disadari. Lombardy yang menjadi pusat penyebaran Covid-19 di Italia segera di-lockdown. Warga dilarang meninggalkan rumah tanpa alasan mendesak.

Namun penerapan lockdown tampaknya telah terlambat. Kasus Covid-19 pun ditemukan di berbagai daerah di luar Lombardy. Italia akhirnya memutuskan memberlakukan lockdown cakupan nasional. 

Saat ini Italia memiliki 193 ribu kasus Covid-19. Lebih dari 71 ribu di antaranya berada di Lombardy. Virus telah menyebabkan 25.969 warga di negara tersebut meninggal. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA