Thursday, 26 Zulhijjah 1442 / 05 August 2021

Thursday, 26 Zulhijjah 1442 / 05 August 2021

Laboratorium Penelitian Wuhan Jadi Sasaran Peretas

Sabtu 25 Apr 2020 18:07 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Reiny Dwinanda

Hacker (Ilustrasi). Laboratorium penelitian Institut Virologi Wuhan di Cina menjadi sasaran peretas.

Hacker (Ilustrasi). Laboratorium penelitian Institut Virologi Wuhan di Cina menjadi sasaran peretas.

Foto: Flickr
Laboratorium penelitian Institut Virologi Wuhan sempat dituduh sumber virus corona.

REPUBLIKA.CO.ID, WUHAN -- Laboratorium penelitian Institut Virologi Wuhan di China menjadi sasaran peretas. Lembaga yang berafiliasi dengan Akademi Ilmu Pengetahuan China itu menjalankan satu-satunya laboratorium biosafety tingkat empat di China.

Institut tersebut merupakan lembaga tertinggi yang melakukan penelitian tentang patogen berbahaya. Lokasi laboratorium terletak di pusat kota Wuhan, China.

Berbagai teori konspirasi menyebutnya sebagai tempat bocornya virus corona tipe baru, penyebab Covid-19 tahun lalu. Tuduhan itu sudah dibantah oleh pengelola.

Hampir bersamaan, sejumlah organisasi juga diretas, seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Yayasan Bill dan Melinda Gates, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, Bank Dunia, dan Institut Kesehatan Nasional. SITE Intelligence Group, yang memantau ekstremisme sayap kanan, menyampaikan informasi berbagai peretasan itu dalam sebuah laporan Selasa silam.

Baca Juga

Pada Kamis (23/4), WHO mengonfirmasi bahwa sekitar 450 alamat email aktif dan kata sandinya telah bocor. WHO memastikan kebocoran tidak membahayakan sistem badan kesehatan global karena datanya tidak baru. Namun, WHO mengatakan serangan siber berdampak pada sistem ekstranet terdahulu yang digunakan staf serta mitranya, sekaligus menambah frekuensi serangan.

"Jumlah serangan siber saat ini tercatat lebih dari lima kali jumlah yang diarahkan pada organisasi kami pada periode yang sama tahun lalu," kata WHO lewat pernyataan resminya, dikutip dari laman South China Morning Post, Sabtu (25/4).

Menurut SITE, seluruh organisasi yang disasar memiliki satu kesamaan, yakni dianggap sebagai bagian dari teori konspirasi terkait pandemi corona. Pelaku peretasan bertujuan mencari bocoran informasi sensitif mengenai Covid-19.

"Satu-satunya hal yang penting (bagi komunitas sayap kanan) adalah data tersedia untuk tujuan mereka sendiri. Dalam hal ini adalah penyebaran teori konspirasi tentang asal-usul virus corona buatan laboratorium," kata Direktur Eksekutif SITE, Rita Katz.

Perusahaan keamanan siber AS, FireEye, melaporkan bahwa peretas yang didukung oleh Hanoi, Vietnam, berusaha membobol akun surel staf pemerintah Wuhan serta Kementerian Manajemen Darurat China. Informasi itu disangkal oleh Kementerian Luar Negeri Vietnam.

Juru bicara Kemenlu Vietnam, Geng Shuang, mengatakan negaranya tidak ada kaitannya dengan insiden tersebut. "Serangan siber terhadap institusi yang memerangi pandemi virus corona di seluruh dunia harus dikutuk," kata Shuang.

Pekan lalu, Biro Investigasi Federal AS mengatakan telah melihat bukti peretas yang disponsori negara asing yang menargetkan institusi penelitian Covid-19 di AS. Sasaran utama adalah proyek yang terkait perawatan potensial atau vaksin.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA