Tuesday, 8 Rabiul Awwal 1444 / 04 October 2022

Warga Perbatasan Indonesia-Malaysia Awali Ramadhan di Rumah

Jumat 24 Apr 2020 23:36 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Perumahan di tapal batas negara Malaysia di  Desa Aji Kuning, Kecamatan Sebatik, Kabupaten Nunukan, Pulau Sebatik, Kalimantan Utara. Penyambutan bulan suci Ramadhan 1441 Hijriyah oleh warga perbatasan Indonesia-Malaysia di Kabupaten Nunukan, Kaltara, sangat berbeda dibanding tahun sebelumnya yang diwarnai berbagai kegiatan keagamaan yang meriah, namun kirim mereka berdiam di rumah saja.

Perumahan di tapal batas negara Malaysia di Desa Aji Kuning, Kecamatan Sebatik, Kabupaten Nunukan, Pulau Sebatik, Kalimantan Utara. Penyambutan bulan suci Ramadhan 1441 Hijriyah oleh warga perbatasan Indonesia-Malaysia di Kabupaten Nunukan, Kaltara, sangat berbeda dibanding tahun sebelumnya yang diwarnai berbagai kegiatan keagamaan yang meriah, namun kirim mereka berdiam di rumah saja.

Foto: Mahmud Muhyidin
Warga Nunukan perbatasan dengan Malaysia memilih di rumah karena larangan pemerintah

REPUBLIKA.CO.ID, NUNUKAN -- Penyambutan bulan suci Ramadhan 1441 Hijriyah oleh warga perbatasan Indonesia-Malaysia di Kabupaten Nunukan, Kaltara, sangat berbeda dibanding tahun sebelumnya yang diwarnai berbagai kegiatan keagamaan yang meriah, namun kirim mereka berdiam di rumah saja.

Kali ini, penyambutan bulan suci Ramadhan pada 1441 H ini, warga lebih memilih berdiam di rumah dan tak ada yang melakukan aktivitas di luar termasuk di masjid-masjid karena adanya larangan oleh Pemerintah akibat wabah COVID-19.

Arman, warga Jalan Lingkar RT 17 Kelurahan Nunukan Timur, Jumat, menyatakan suasana memasuki bulan puasa tahun 2020 ini sangat jauh berbeda daripada tahun sebelumnya, selain diguyur hujan sejak sore hari, juga adanya imbauan Pemerintah Kabupaten Nunukan agar tidak berkumpul karena wabah virus corona.

"Sepi sekali. Padahal mau bulan puasa seperti ini biasanya sangat ramai disambut oleh umat muslim baik di rumah-rumah maupun di masjid-masjid hingga ada larut malam," tutur dia.

Wabah COVID-19, kata Arman, memang mematikan semua akivitas manusia karena sangat berbahaya.Akibat berbahayanya virus ini, maka warga perbatasan di Kabupaten Nunukan lebih memilih berdiam diri dalam rumahnya pada saat memasuki bulan puasa ini.

"Hampir tidak ada orang yang berkeliaran sepanjang malam tadi," ujar pria ini.

Hal yang sama diutarakanHerman. Pria ini yang rutin ke masjid setiap sore memasuki ibadah sholat magrib terpaksa mengurung diri di rumah saja karena takur keluar karena adanya corona ini.

Bahkan dia sangat bersedih, wabah virus ini bertepatan dengan memasuki bulan suci Ramadhan 1441 H sehingga malam pertama puasa tidak bisa disambut dengan kemeriahan bagi umat Islam di daerah itu.

Padahal, kata Herman, pada tahun-tahun sebelumnya warga perbatasan selalu antusias menyambut bulan suci Ramadhan dengan menggelar kegiatan keagamaan di rumah masing-masing maupun du tempat ibadah (masjid).

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA