Jumat 24 Apr 2020 15:23 WIB

Larangan Mudik Mulai Berlaku, Terminal Pulo Gebang Sepi

Selain sepi penumpang, tidak terlihat pula antrean bus di terminal ini.

Rep: Flori Sidebang/ Red: Andi Nur Aminah
Calon penumpang bersiap menaiki bus Antar Kota Antar Provinsi di Terminal Pulo Gebang, Jakarta.. Kementerian Perhubungan mengimbau agar warga membatalkan niatnya pulang kampung, untuk mencegah penyebaran Covid-19.
Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
Calon penumpang bersiap menaiki bus Antar Kota Antar Provinsi di Terminal Pulo Gebang, Jakarta.. Kementerian Perhubungan mengimbau agar warga membatalkan niatnya pulang kampung, untuk mencegah penyebaran Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Terminal Terpadu Pulo Gebang (TTPG), Jakarta Timur terlihat sangat sepi dibandingkan hari-hari sebelumnya. Selain sepi penumpang, tidak terlihat pula antrean bus di terminal ini. Hanya terlihat bus Transjakarta koridor 11 jurusan Terminal Pulo Gebang-Kampung Melayu dan angkutan dalam kota.

Kondisi tersebut merupakan dampak dari kebijakan larangan mudik bagi masyarakat untuk memutus penyebaran virus corona (Covid-19) yang mulai berlaku hari ini, Jumat (24/4). Seluruh bus antar kota antar provinsi (AKAP) yang biasanya siap mengantarkan penumpang ke berbagai daerah di luar Jabodetabek, kini untuk sementara waktu tidak diizinkan beroperasi.

Baca Juga

Loket-loket bus yang melayani tujuan ke berbagai daerah di Provinsi Sumatera dan Pulau Jawa pun sudah tutup. Tidak terlihat aktivitas pegawai di puluhan loket bus AKAP tersebut.

Aktivitas yang tampak di Terminal Pulo Gebang hanyalah petugas kebersihan yang tetap bekerja, meskipun tidak ada penumpang yang berada di sana. Selain itu, petugas keamanan juga tetap bersiaga di lokasi.

Kepala Terminal Pulo Gebang, Bernard Pasaribu mengatakan, pihaknya telah mengikuti aturan pemerintah terkait larangan mudik, dengan cara menutup pelayanan bus AKAP. Bernard menyebut, hal itu sudah dilakukan sejak pagi tadi. "Sudah kita tutup operasional AKAP di TTPG," kata Bernard saat dihubungi //Republika.co.id, Jumat.

Dia mengungkapkan, saat ini pelayanan angkutan umum yang masih beroperasi hanyalah angkutan dalam kota, yakni bus Transjakarta dan angkutan kota (angkot) Koperasi Wahana Kalpika (KWK) dengan beberapa trayek. Angkutan dalam kota itu tetap beroperasi sejak pukul 06.00 hingga 18.00 WIB.

Selain bus AKAP, Bernard menyebut, operasional bus Damri juga dihentikan untuk sementara waktu. Sebab, saat ini Bandara Soekarno-Hatta pun tidak melayani penerbangan komersial. "Jadi tidak ada lagi kegiatan (di Terminal Pulo Gebang), kecuali (angkutan) dalam kota," ujar Bernard.

Meski tetap beroperasi, angkutan dalam kota itu hampir tidak membawa penumpang satu pun. Bus-bus Transjakarta koridor 11 yang memulai rute dari Terminal Pulo Gebang lebih sering berangkat kosong tanpa penumpang.

Hal serupa pun terlihat pada angkot-angkot KWK yang berwarna merah itu. Tidak ada satu pun penumpang yang tampak menaiki angkot tersebut.

Bernard pun mengakui terjadi penurunan terhadap penumpang terhadap angkot-angkot itu. Hal itu pun juga disampaikan oleh sejumlah sopir angkot KWK JU 01 jurusan Terminal Pulo Gebang menuju Terminal Tanjung Priok melalui KBN Cakung.

Salah seorang sopir KWK JU 01, Fernandes mengatakan, sejak pandemi Covid-19 ini masuk ke Jakarta, mulai memengaruhi penghasilannya. Terlebih saat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai menerapkan aturan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di wilayah Ibu Kota. Salah satu aturan PSBB itu adalah mobil pribadi maupun angkutan umum hanya diperbolehkan membawa penumpang setengah dari kapasitas yang sebenarnya.

Laki-laki berumur 43 tahun itu mengaku, dalam sehari, paling banyak dia mengangkut 10 penumpang. Dia menuturkan, saat menyusuri trayek dari Terminal Pulo Gebang hingga ke Terminal Tanjung Priok, tak jarang angkotnya kosong, tanpa penumpang.

"Sejak pandemi corona ini, penghasilan kita sebagai sopir angkot turun drastis. Misalnya, sebelumnya dalam sehari kita bisa dapat Rp 100 ribu, sekarang paling cuma Rp 20-30 ribu saja," ungkap Fernandes.

Sopir angkot lainnya, Nelson Saragih menimpali, dengan penghasilan yang sangat minim itu, ia pun kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. "Yang ada nanti bukan mati karena kena virus corona, tapi mati kelaparan karena enggak ada uang buat beli makan," tutur Nelson.

Nelson pun berharap agar pandemi ini dapat segera berakhir. Sehingga ia bisa kembali bekerja seperti sebelumnya.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement