Kamis 23 Apr 2020 20:10 WIB

Guru Honorer di Garut Dibayar Rp 300 Ribu Per Bulan

Saat pandemi Covid-19 ini, dia mengajar para siswa dari rumah ke rumah.

Rep: Bayu Adji P/ Red: Andi Nur Aminah
Unjuk rasa mendesak pemerintah memperbaiki nasib para guru honorer (Ilustrasi)
Foto: ANTARA/ASEP FATHULRAHMAN
Unjuk rasa mendesak pemerintah memperbaiki nasib para guru honorer (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, GARUT -- Seorang guru honorer di SDN 3 Nyalindung, Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, Rosita Amelia (31 tahun), tetap mengajar siswanya meski terjadi pandemi Covid-19. Namun, ia tak mengajar di sekolah, melainkan berkeliling dari rumah ke rumah para siswa karena keterbatasan teknologi di pelosok Kabupaten Garut itu.

Rosita mengaku ikhlas menjalani tugasnya itu. Meski hanya sebagai guru honorer, ia tetap semangat mengajar para siswa dari rumah ke rumah saat pandemi Covid-19 ini. Padahal, gajinya sebagai guru honorer hanya sekira Rp 300 ribu per bulan.

Baca Juga

"Kalau dibilang cukup mah pasti tidak. Tapi mau bagaimana lagi, ini sudah jadi tanggung jawab dan cita-cita saya," kata guru yang mengajar kelas II itu saat dihubungi Republika.co.id, Kamis (23/4).

Ia mengaku tak sendirian. Guru-guru lain di sekolah tempatnya mengajar juga melakukan hal serupa, mendatangi para siswa dari rumah ke rumah untuk tetap memberikan materi pelajaran. Baik guru ASN maupun honorer, tetap melakukannya.

Meski gajinya sebagai guru honorer tak mencukupi kebutuhannya untuk hidup, Rosita tak menyesali keputusannya. Sebab, menurut dia, rejeki bisa datang dari mana saja.

Selain mengajar anak-anak di sekolah, Rosita juga mengajar anak-anak di sekitar rumahnya mengaji. Dari mengajar ngaji itu, kadang ada orang tua yang memberinya uang, meski tak diminta. Ia mengaku tak pernah mengharapkan materi dari mengajar anak-anak mengaji. Sebab, tak semua anak di kampung berasal dari keluarga mapan. Banyak dari mereka yang justru orang yang tak punya.  "Niatnya untuk akhirat saja. Kalau ada yang kasih diterima, seikhlasnya," kata dia.

Rosita berharap, pemerintah dapat membantu kehidupan para guru honorer, khususnya yang berada di daerah. Sebab, sistem CPNS terbuka yang menyandingkan para guru honorer dengan para peserta yang baru lulus sekolah adalah hal yang tidak adil. "Mereka yang baru lulus ilmunya masih nempel, kita mah gak sempat mikir materi tes, tapi mikirin siswa," kata perempuan yang telah delapan tahun menjadi guru itu.

Karena itu, lanjut dia, seharusnya terdapat jalur khusus untuk guru honorer menjadi ASN. Sebab, banyak guru lain yang usianya sudah lebih dari usia maksimal peserta CPNS yang statusnya masih honorer.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement