Tuesday, 12 Jumadil Awwal 1444 / 06 December 2022

Lamanya Hasil Tes Swab Jadi Masalah di Daerah

Kamis 23 Apr 2020 15:23 WIB

Red: Indira Rezkisari

Petugas medis memeriksa pasien dengan tes swab. Lamanya hasil tes swab keluar membuat daerah kesulitan menentukan langkah cepat tangani Covid-19.

Petugas medis memeriksa pasien dengan tes swab. Lamanya hasil tes swab keluar membuat daerah kesulitan menentukan langkah cepat tangani Covid-19.

Foto: ANTARA/Asprilla Dwi Adha
Sejumlah daerah di Jabar bahkan harus menunggu hasil tes swab selama 14 hari.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Bayu Adji P

Lambatnya hasil tes swab atau polymerase chain reaction (PCR) Covid-19 menjadi masalah di sejumlah daerah di Jawa Barat (Jabar). Hasil tes swab di beberapa daerah di wilayah Priangan Timur baru bahkan dapat diketahui setelah rata-rata 7-14 hari spesimen pasien dikirimkan ke Labkesda Jabar di Bandung.

Baca Juga

Lamanya hasil tes swab menjadi kendala tersendiri dalam penanganan Covid-19. Keterlambatan hasil tes swab seorang pasien dalam pengawasan (PDP) di Kabupaten Garut misalnya, berujung pada kebijakan pemerintah setempat untuk mengisolasi satu kampung.

Hal itu berawal dari seorang PDP yang dirawat di RSUD dr Slamet Kabupaten Garut pulang ke rumahnya tanpa sepengetahuan petugas medis pada Sabtu (28/2). Setelah diketahui meninggalkan rumah sakit, pasien langsung dijemput oleh petugas dan kembali diisolasi di RSUD dr Slamet. Tak lama kemudian, Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Garut mengonfirmasi pasien itu meninggal dunia pada Rabu (1/4)

Berdasarkan keterangan Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Garut, petugas medis di RSUD dr Slamet telah mengambil spesimen pasien untuk diperiksa di Labkesda Jabar. Namun, hasil tes swab itu baru diketahui pada 20 April. PDP yang sempat kabur dari rumah sakit dan meninggal dunia itu dinyatakan positif Covid-19.

Lantaran banyak warga yang telah melakukan kontak erat ketika pasien masih berstatus PDP di kampungnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut mengambil langkah untuk mengisolasi warga di satu kampung itu. Setidaknya, terdapat 315 kepala keluarga (KK) di kampung itu harus melakukan isolasi mandiri selama 10 hari ke depan.

Wakil Bupati Garut, Helmi Budiman menyayangkan lambatnya hasil tes swab. Seperti pada kasus PDP yang meninggal, spesimen pasien telah dikirimkan sejak 1 April. Hasilnya  baru diketahui 20 hari kemudian. "Keinginan kami tiga hari (hasil keluar)," kata dia Rabu (22/4).

Namun, ia tak bisa berbuat banyak. Sebab, pemeriksaan spesimen pasien tak bisa dilakukan di sembarang tempat. Selama ini, Pemkab Garut mengirimkan hasil spesimen pasien tes swab ke Labkesda Jabar, setelah sebelumnya pernah juga mengirimkan ke Jakarta.

Menurut Helmi, banyak daerah lain yang mengirimkan tes swab untuk diperiksa di Labkesda Jabar. Sementara laboratorium untuk memeriksa terbatas. "Jadi menumpuk. Antrean ini membuat lambat (hasilnya keluar)," kata dia.

Ia berharap ke depannya hasil tes swab dapat dengan cepat diketahui. Sehingga penanganan akan lebih maksimal.

"Saya minta proses tes swab bisa cepat, sehingga bisa antisipasi. Semakin lambat tahu, hasil pemeriksaan akan semakin banyak (penularan)," kata dia.

Tak hanya di Kabupaten Garut, lamanya hasil tes swab diketahui juga terjadi di Kabupaten Tasikmalaya. Seorang PDP di Kabupaten Tasikmalaya baru dinyatakan positif Covid-19 setelah dirawat selama 16 hari di RS Singaparna Medika Citrautama (SMC) Kabupaten Tasikmalaya.

Menurut Jubir Covid-19 Kabupaten Tasikmalaya Heru Suharto, hasil tes swab baru diketahui setelah belasan hari. Alasannya tes swab harus diperiksa di laboratorium yang berada di Bandung.

Ia mengatakan, pasien kondisinya baik, tapi terus menjalani perawatan. "(Kondisi pasien) sudah membaik," kata dia, Selasa (21/4).

Pasien positif itu sebelumnya pernah diuji cepat atau rapid diagnostic test (RDT/rapid test) dan dinyatakan reaktif. Namun, pasien itu tak dinyatakan sebagai pasien positif, melainkan statusnya masih PDP. Baru setelah terkonfirmasi hasil swab, meski lama, pasien ditetapkan positif Covid-19.

Heru beralasan, hasil rapid test tak bisa dijadikan dasar untuk menentukan pasien positif Covid-19. Sebab, tingkat akurasi rapid test di bawah 90 persen.

Karena itu, Gugus Tugas baru mengumumkan pasien positif Covid-19 pertama di Kabupaten Tasikmalaya setelah ada hasil tes swab. "Rapid test tingkat akurasi di bawah 90 persen. Kalau swab 98 persen atau pasti positif," kata dia.

Setidaknya, saat ini terdapat empat pasien lainnya yang hasil rapid test-nya reaktif. Namun, empat pasien itu masih harus menunggu hasil tes swab untuk dinyatakan positif Covid-19. Dua di antara empat pasien itu telah diisolasi di RS SMC, sedangkan dua lainnya menjalani isolasi mandiri di rumahnya masing-masing.

Sementara di Kota Tasikmalaya, Gugus Tugas berinisiatif memasukkan data pasien yang hasilnya reaktif melalui rapid test sebagai pasien positif Covid-19. Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya Uus Supangat menilai, tak ada masalah menampilkan data pasien positif Covid-19 berdasarkan tes swab dan rapid test.

"Lagipula kalau rapid test tak punya makna, untuk apa dilakukan? Karena secara klinis, dua-duanya punya makna," kata dia, Ahad (19/4).

Ia menambahkan, menampilkan data pasien positif yang diketahui melalui rapid test juga mempertimbangkan pendapat dokter penanggung jawab pasien. Dengan mengetahui hasil rapid test reaktif atau positif, menurut dia, dokter dapat langsung menangani pasien.

"Kalau menunggu PCR, dokter tak dapat langsung cepat bekerja, tingkat kematian akan lebih tinggi. Karena itu kita buka, tapi tentu dikasih keterangan (antara pasien positif tes swab dan rapid test)," kata dia.

Di Kabupaten Ciamis, Jubir Covid-19 Bayu Yudiawan mengatakan, spesimen pasien yang dites swab dikirim ke Labkesda Jabar di Bandung. Hasilnya didapat agak lama, karena antrean di laboratorium melebihi kapasitas kemampuan jumlah tes.

Di sisi lain, Pemkab Ciamis belum membeli alat uji PCR dengan mempertimbangkan syarat-syarat yang ditetapkan, di antaranya aspek legal formal. Sebab, jenis PCR yang diakui oleh WHO dan Kemenkes harus berupa Q-PCR/real time PCR.

"Alat tersebut masih sulit didapat dan laboratorium harus berstandar BSL-2 (Bio Safety Level 2). Prosedurnya lama. Di dalamnya mencakup penanganan aerosol dan limbah infeksius," kata dia.

Di daerah-daerah itu, beberapa tes swab yang telah dikirimkan ke Labkesda Jabar untuk diperiksa belum semuanya diketahui, masih ada menunggu hasil. Karena itu, masih ada kemungkinan pasien positif Covid-19 bertambah.

Berdasarkan informasi dari laman resmi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar, Labkesda merupakan salah satu laboratorium yang ditunjuk dalam pemeriksaan sampel atau spesiemen Covid-19. Ratusan kasus positif yang dilaporkan di Jabar, di antaranya dipastikan melalui lima tahap pemeriksaan di Labkesda Jabar, yang bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Padjadjaran (Unpad).

Terdapat lima tahap dalam pemeriksaan spesimen pasien, yaitu proses ekstraksi, real time PCR, interpretasi hasil, verifikasi, dan validasi.

Lebih dulu, sampel usap (swab) dari pasien Covid-19 diambil oleh petugas sampling dengan alat pelindung diri (APD) lengkap untuk dimasukkan ke dalam viral transport Media (VTM). Pengbilan itu umumnya dilakukan di rumah sakit tempat pasien dirawat. Setelah itu, sampel diserahkan ke Labkesda Jabar untuk diperiksa.

Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengatakan, Pemprov Jabar telah membeli alat tes swab atau PCR dari Korea Selatan. Alat tersebut ditambah dengan kolaborasi dengan yang lainnya diharapkan membuat pengetesan Covid-19 melalui swab dapat dilakukan lebih cepat.

"Dari yang tadinya 140 per hari menjadi minimal 2.000 sampel per hari. Akurasinya mendekati 100 persen," kata dia melalui unggahannya dalam Instagram pribadinya, Selasa (14/4).

Ia menambahkan, laboratorium tes PCR juga diperluas. Selain di Kota Bandung, tes swab juga dapat diuji hasilnya di Depok, Bogor, Bekasi, dan Cirebon.

photo
Vaksin virus corona - (Republika)

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA