Kamis 23 Apr 2020 05:43 WIB

Pakar Minta DIY Intensifkan Tracing dan Tes

Transmisi lokal yang sudah terjadi di DIY berpotensi tingkatkan kasus positif.

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Indira Rezkisari
Tanda jarak aman dipasang oleh pengelola Pasar Beringharjo di los sayuran saat pandemi virus corona, Yogyakarta, Selasa (21/4). Pemasangam jarak 50 centimeter ini untuk menjaga jarak aman dari penularan virus corona
Foto: Wihdan Hidayat/ Republika
Tanda jarak aman dipasang oleh pengelola Pasar Beringharjo di los sayuran saat pandemi virus corona, Yogyakarta, Selasa (21/4). Pemasangam jarak 50 centimeter ini untuk menjaga jarak aman dari penularan virus corona

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Ahli epidemiologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Riris Andono Ahmad memperkirakan penularan Covid-19 akan terus terjadi. Alasannya ada kasus positif Covid-19 yang tidak diketahui riwayat tertularnya di DIY.

Kasus positif Covid-19 di DIY pada 22 April telah menyentuh angka 75 kasus. Andono menyebut, lima kasus dari total kasus positif tersebut tidak diketahui dari mana tertular Covid-19.

Baca Juga

"Ada indikasi bahwa ini menjadi penularan yang akan meluas karena kita juga mencatat ada lima kasus yang tidak bisa diketahui dari mana dia mendapatkannya," kata Andono di BPBD DIY, Rabu (22/4).

Dari lima kasus tersebut, dua di antaranya berprofesi sebagai ibu rumah tangga dan pensiunan. Diprediksi penyebaran Covid-19 ini akan terus meluas karena sudah ada penularan secara transmisi lokal di DIY mengingat dua profesi ini tidak memiliki mobilitas yang tinggi.

Kasus positif yang paling banyak dikarenakan adanya riwayat perjalanan ke luar kota dan ke luar negeri. "Artinya mobilitasnya sangat dekat. Oleh karena itu, kita bisa melihat ada indikasi memang penularannya sudah ada di sekitar kita," ujarnya.

Guna mengantisipasi penyebaran yang semakin luas ini, perlu adanya peningkatan tracing (pelacakan) kontak dari pasien Covid-19 secara intensif. Termasuk melakukan skrining secara mandiri dan memperbanyak tes swab maupun rapid test.

"Perlu adanya kegiatan contact tracing dan skrining serologis yang lebih ekstensif untuk melihat sebaran penularan lokal di populasi," katanya.

Walaupun begitu, ia tidak menampik kapasitas diagnosis di Indonesia cukup rendah. Sehingga, seberapa besar yang terinfeksi tidak diketahui dengan baik.

Namun, dengan mengintensifkan tracing kontak dan skrining tersebut akan mencegah penularan yang lebih luas dan mengurangi transmisi lokal. "Kapasitas kita memang masih terbatas. Tapi kalau kita mau memastikan mereka sebagai aktegori ODP, OTG, PDP itu bisa kita pisahkan dari populasi. Itu akan bisa membantu penularan yang lebih lanjut. Kalau pernah kontak dengan kasus positif harus dikarantina atau menjadi ODP dan PDP," jelasnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement