Rabu 22 Apr 2020 20:42 WIB

Omzet Pelaku Industri Fashion Muslim Merosot

Penjualan online juga kurang signifikan karena Covid-19 menyebar di seluruh daerah.

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Fuji Pratiwi
Pengunjung melintas di depan stan yang tersedia pada acara Muslim Fashion Festival 2018 di Jakarta Convention Center. Pelaku usaha industri fashion Muslim mengaku mengalami penurunan penjualan secara drastis akibat pandemi Covid-19.
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Pengunjung melintas di depan stan yang tersedia pada acara Muslim Fashion Festival 2018 di Jakarta Convention Center. Pelaku usaha industri fashion Muslim mengaku mengalami penurunan penjualan secara drastis akibat pandemi Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penyebaran wabah Covid-19 atau corona di Tanah Air turut berdampak pada industri fashion Muslim. Sebab, penjualan para pelaku industri ini menurun, meski sebentar lagi memasuki Ramadhan. 

Pemilik merek fashion Muslim Balimo, Decky, mengungkapkan, omzetnya turun lebih dari 100 persen. "Pandemi ini begitu dahsyat, ibarat panen yang kena hama, sehingga gagal panen," kata Decky kepada Republika.co.id pada Rabu, (22/4).

Baca Juga

Ia menjelaskan, pendapatannya menurun karena tokonya di Tanah Abang tutup sudah hampir sebulan. Dengan begitu, kini Decky mengandalkan penjualan daring (online). "Kita kembangkan market online. Dari dulu kita memang sudah melalui online," kata dia. 

Hanya saja, saat ini penjualan lewat online juga kurang signifikan. Hal itu karena, Covid-19 menyebar di seluruh daerah. 

Maka agar tetap bertahan, Decky menurunkan kapasitas produksinya. Bila jelang Ramadhan tahun lalu dalam seminggu ia mampu memproduksi 1.500 unit produk fashion, sekarang hanya 500 unit. 

"Kita juga main di harga, kita berikan diskon. Lalu kita beri free masker. Misal baju yang dibeli sudah include masker," kata dia.

Untuk bahan baku, Balimo tidak mengalami masalah. Karena produksi lumayan besar, stok bahan Balimo memadai sampai lebaran. 

Bagi Decky, strategi tepat harus dilakukan supaya dapat bertahan di tengah pandemi ini. Jika tidak, industri bisa bangkrut. Sebab, tagihan bahan berjalan terus. Sebelum pandemi, Balimo produksi besar-besaran "Sedangkan karena pandemi kita nggak bisa jual barang, kalau strateginya nggak matang bisa down," kata Decky.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement