Tuesday, 1 Rabiul Awwal 1444 / 27 September 2022

Bawang Merah Sumbar Banjiri Pasar di Sumut

Rabu 22 Apr 2020 00:07 WIB

Red: Israr Itah

Seorang pedagang menata bawang merah (ilustrasi). Bawang merah asal Sumatra Barat membanjiri pasar di Sumatra Utara.

Seorang pedagang menata bawang merah (ilustrasi). Bawang merah asal Sumatra Barat membanjiri pasar di Sumatra Utara.

Foto: BASRI MARZUKI/ANTARA FOTO
Pasokan bawang dari Brebes dan India ke Sumut terganggu akibat pandemi virus corona.

REPUBLIKA.CO.ID, MEDAN -- Bawang merah asal Sumatra Barat (Sumbar) membanjiri pasar-pasar di Sumatra Utara (Sumut) dengan harga jual yang cenderung menguat menjadi sekitar Rp 50.000-Rp 54.000 per kg.

"Biasanya bawang merah di Sumut merupakan hasil dari Brebes, Jawa Tengah dan India. Tapi sejak wabah Covid-19 dan khususnya jelang puasa Ramadhan, pasokan bawang Sumut dari Sumbar," ujar pedagang bawang, Hj Ibnu di Medan, Selasa (21/4).

Pasokan bawang dari Brebes dan India ke Sumut terganggu akibat pandemi virus corona. Harga bawang merah yang mahal itu didorong semakin terbatasnya pasokan dari Sumbar.

"Pasokan dari Sumbar juga berkurang karena permintaan bawang di daerah itu juga lagi meningkat karena mau puasa Ramadhan," katanya.

Dia menjelaskan, sebelum seharga Rp 48.000-Rp50.000 per kg, harga bawang merah masih Rp 35 ribuan dan terus naik.

Kabid Hortikultura Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumut, Taufik Batubara, mengakui hingga saat ini, Sumut masih kekurangan produksi bawang merah sehingga mengandalkan pasokan dari Brebes, Jawa Tengah dan bahkan impor.

Mengatasi kekurangan produksi Pemprov Sumut, kata dia, sudah mengembangkan bibit bawang merah unggul melalui para penangkar di enam kabupaten/kota untuk memenuhi kebutuhan komoditas tersebut di provinsi itu yang terus meningkat. Pengembangan bibit bawang di enam daerah itu masing-masing Kota Medan, Serdangbedagai, Deliserdang, Batubara, Simalungun, dan Karo dengan total 9 hektare.

Taufik yang mewakili Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumut, Dahler Lubis, mengatakan, pengembangan bibit di enam daerah itu akan menghasilkan produksi sekitar 56 ton. Satu hektare bibit dengan varietas unggul itu produksinya sekitar 7 ton.

sumber : Antara
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA