Monday, 5 Syawwal 1442 / 17 May 2021

Monday, 5 Syawwal 1442 / 17 May 2021

Fatayat NU Serukan Semangat Inspiratif Kartini

Selasa 21 Apr 2020 19:56 WIB

Rep: Mabruroh/ Red: Ani Nursalikah

Fatayat NU Serukan Semangat Inspiratif Kartini. Ketua Umum PP Fatayat NU Anggia Ermarini.

Fatayat NU Serukan Semangat Inspiratif Kartini. Ketua Umum PP Fatayat NU Anggia Ermarini.

Foto: Republika/Nugroho Habibi
Sangat dibutuhkan perempuan inspiratif yang menyerukan kebaikan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Raden Ajeng Kartini dikenal sebagai sosoknya yang banyak menginspirasi perempuan kala itu. Semangatnya dalam dunia pendidikan dan mendobrak aturan budaya yang mengekangnya sebagai perempuan, membuat perempuan saat ini patut bersyukur.

Dari buku Habis Gelap Terbitlah Terang terbitan Balai Pustaka, Kartini berkirim surat kepada sahabatnya Zeehandelaar. Dalam buku yang diterjemahkan oleh Armijn Pane, Kartini berujar adat istiadat di waktu itu tidak membolehkan perempuan berpelajaran dan tidak boleh bekerja di luar rumah, dan menduduki jabatan di masyarakat.

"Perempuan itu haruslah takluk semata-mata, tiada boleh mempunya kemauan. Perempuan itu hendaklah bersedia-sedia dikawinkan dengan pilihan orang tuanya. Perkawinan, cuma itulah cita-cita yang boleh diangan-angankan oleh anak gadis. Cuma itu pelabuhan yang boleh ditujunya. Selama ini hanya satu jalan terbuka bagi gadis bumiputra akan menempuh hidup, ialah kawin," (surat RA Kartini kepada Nona Zeehandelaar, 23 Agustus 1900).

Menurut Ketua Fatayat NU, Anggia Ermarini, Kartini adalah sosok yang futuristik, luar biasa berani, dan out of the box. Sosok perempuan yang tidak puas dengan hal yang begitu-begitu saja dan dia menyadari berapa pentingnya peran perempuan saat itu di tengah-tengah masyarakat.

"Artinya dia orang yang luar biasa di tengah kungkungan budaya luar biasa, lalu dia punya cakrawala cara berpikir yang luas sekali, itu luar biasa, mungkin hanya satu dua orang perempuan yang punya kegigihan seperti Kartini waktu itu," kata Anggia dalam sambungan telepon, Selasa (21/4).

Dalam konteks kekinian, sangat dibutuhkan perempuan inspiratif dan memiliki semangat yang begitu besar dalam menyerukan kebaikan. Tentu dengan tantangan yang berbeda sebagaimana yang dilalui Kartini kala itu. 

"Hari ini pun, sangat dibutuhkan orang-orang seperti Kartini dalam konteks hari ini. Spirit yang sama tentu dengan tantangan yang berbeda, karena untuk sekolah, perempuan sekarang sudah mudah tetapi bahwa semangat mencari hal yang lebih baik lagi, untuk berani menyuarakan kepentingan, kebaikan, kemaslahatan, itu spiritnya Kartini yang harus dimiliki perempuan saat ini," kata dia.

Sebagai Muslimah, Kartini merupakan sosok muslimah yang juga luar biasa taat. Ia juga menyarankan agar Muslimah saat ini dapat melakukan hal yang sama, sehingga aksinya dapat dirasakan di masyarakat.

"Jadi tidak hanya dipanggung saja tapi juga di masyarakat, sehingga masyarakat juga merasakan arti kehadiran perempuan muslim di tengah-tengah masyarakat. Tidak hanya aku muslim aku Islam, tidak hanya itu, tapi apa yang kamu sudah kerjakan untuk masya dengan segala porsinya," kata Anggia.

"Tidal semuanya harus di jalan, tidak semuanya harus di pinggir kali, tidam semuanya harus di pinggir lautan tetapi kita berbagi. Apapun yang kita punya, di mana pun kita berada, pada porsi apapun harus mewarnai, harus mampu berbuat," ujarnya.

Misalnya tambah Anggia, Muslimah yang menjadi kader masyarakat maupun kader Posyandu agar melakukan yang terbaik di tempatnya. Begitu juga muslimah yang menjadi ustazah maupun dokter, juga dapat melakukan yang terbaik bagi kepentingan masyarakat.

"Apalagi saat ini sedang pandemi. Kalau dia pimpinan daerah dia harus memikirkan dengab segala akal, potensinm yang dia miliki, harus mampu dirasakan untuk kemaslahatan rakyatnya. Kalau dia seorang legislatif bagaimana? Dari kajian-kajiannya, dari kebijakan-kebijakannya bisa dirasakan oleh masyarakat di manapun," ujar Anggia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA