Wednesday, 7 Syawwal 1442 / 19 May 2021

Wednesday, 7 Syawwal 1442 / 19 May 2021

IHSG Melemah Didorong Kekhawatiran Terhadap Covid-19

Senin 20 Apr 2020 17:01 WIB

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Fuji Pratiwi

Karyawan mengamati layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, beberapa waktu lalu. HSG) ditutup di zona negatif pada perdagangan Senin 20/4).

Karyawan mengamati layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, beberapa waktu lalu. HSG) ditutup di zona negatif pada perdagangan Senin 20/4).

Foto: Republika/Prayogi
Pasar khawatir risiko pemburukan kondisi eksternal dan internal akibat Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona negatif pada perdagangan Senin (20/4). Indeks saham terkoreksi hingga 1,27 persen ke posisi 4.575,90 setelah sebelumnya sempat menyentuh level 4.669,54 di zona positif. 

Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, mengatakan penguatan yang sempat terjadi di awal perdagangan terjadi seiring menguatnya bursa Amerika Serikat (AS). Namun pasar mulai pesimis setelah Jepang merilis data ekonomi.

Data neraca perdagangan Jepang hari ini menunjukkan terjadinya penurunan ekspor sebesar 11,7 persen secara tahunan (yoy) pada Maret lalu. Demikian pula pada impor terjadi penurunan lima persen. Sehingga surplus neraca perdagangan Jepang pada Maret 2020 pun jauh di bawah perkiraan ekonom.

Baca Juga

"Sekali lagi dampak Covid-19 menyebabkan kondisi penurunan tajam permintaan eksternal," kata Nico, Senin (20/4).

Sementara dari dalam negeri, menguatnya indeks di kawasan Asia turut menompang lajunya indeks IHSG di awal perdagangan hari ini. Meski demikian, lanjut Nico, pelaku pasar mulai pesimis ketika mencermati laporan Lembaga pemeringkat S&P yang merivisi outlook utang Indonesia menjadi negatif. 

Outlook negatif mencerminkan ekspektasi S&P bahwa dalam beberapa waktu ke depan Indonesia menghadapi kenaikan risiko eksternal dan fiskal. Hal tersebut akibat meningkatnya kewajiban luar negeri dan beban utang pemerintah untuk membiayai penanganan pandemi Covid-19. 

"Tampaknya pelaku pasar khawatir terhadap risiko pemburukan kondisi eksternal dan internal akibat pandemi Covid-19. Karena ketidakpastian kondisi ekonomi dan keuangan yang terjadi merupakan fenomena global dan berimbas pada perekonomian dalam negeri," kata Nico.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA