Malaysia Tegas Minta Umat Habiskan Ramadhan di Rumah

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Ani Nursalikah

 Senin 20 Apr 2020 15:27 WIB

Malaysia Tegas Minta Umat Habiskan Ramadhan di Rumah. Tentara dengan mamakai masker wajah dan senapan mesin berjaga di sebuah gedung yang ditutup di Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu (15/4). Pemerintah Malaysia mengeluarkan perintah pembatasan kegiatan kepada publik hingga 28 April, untuk membantu mengekang penyebaran Covid-19.  Foto: AP/Vincent Thian Malaysia Tegas Minta Umat Habiskan Ramadhan di Rumah. Tentara dengan mamakai masker wajah dan senapan mesin berjaga di sebuah gedung yang ditutup di Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu (15/4). Pemerintah Malaysia mengeluarkan perintah pembatasan kegiatan kepada publik hingga 28 April, untuk membantu mengekang penyebaran Covid-19.

Warga Malaysia dilarang mudik untuk sambut Ramadhan.

REPUBLIKA.CO.ID, KUALA LUMPUR -- Setiap tahun, umat Muslim di Malaysia akan melakukan perjalanan mudik untuk menyambut bulan Ramadhan bersama keluarga mereka. Jalan-jalan yang padat seakan tidak menghalangi mereka.

Berbagai halangan dijalani selama mereka bisa makan sahur, berbuka puasa, dan melakukan shalat tarawih dengan orang-orang yang mereka cintai. Atau setidaknya pada hari pertama bulan suci Ramadhan.

Namun tahun ini, banyak hal telah berubah karena semua orang Malaysia saat ini berada di bawah Perintah Pembatasan Gerakan (MCO), yang sekarang berada di fase ketiga. Kebijakan ini diberlakukan untuk mengekang penyebaran Covid-19.

Dikutip di Bernama, Pemerintah Malaysia telah mengingatkan masyarakat mereka tidak diizinkan melakukan perjalanan ke kota asal selama periode MCO. Selain itu, pasar Ramadhan dengan konsep layanan tanpa turun atau drive-through dan pack-and-go juga tidak diperbolehkan.

Menteri Senior (Cluster Keamanan), Datuk Seri Ismail Sabri Yaakob mengatakan, polisi akan menyiapkan penghalang jalan di seluruh negara untuk menegakkan MCO. Ini dilakukan mengingat kemungkinan masih ada orang yang melakukan perjalanan mudik selama bulan Ramadhan.

Setiap orang diminta tunduk pada prosedur operasi standar yang ditetapkan oleh Dewan Keamanan Nasional untuk implementasi MCO. Dalam kebijakan ini, diatur pula larangan melakukan pertemuan atau perayaan yang melibatkan banyak orang.

Kebijakan tersebut menjadi bagian dari 'kenormalan baru', tentang bagaimana menghabiskan Ramadhan. Tidak akan ada lagi berbuka puasa bersama yang melibatkan banyak orang seperti yang dilakukan sebelumnya.

Meskipun jumlah kasus Covid-19 positif selama beberapa hari terakhir hanya dua digit, upaya untuk meratakan kurva Covid-19 terus berlanjut. Publik diminta menyadari jika mereka belum diberi izin untuk melanggar MCO. Masyarakat diminta tetap di rumah.

Pemerintah lantas mengingatkan tentang keberadaan 11 penjara sementara yang mulai beroperasi pada 23 April, satu hari sebelum Ramadhan dimulai. Penjara ini disiapkan bagi siapa saja yang tidak mematuhi MCO.

Setiap orang diberi pilihan. Menyambut Ramadhan dalam kenyamanan di rumah mereka, atau memiliki pengalaman yang berbeda tahun ini, dengan menghabiskannya di dalam penjara.

 

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X