Thursday, 1 Syawwal 1442 / 13 May 2021

Thursday, 1 Syawwal 1442 / 13 May 2021

Covid-19: Ilmuwan Harap Ada Proteksi Silang Vaksin BCG-Polio

Senin 20 Apr 2020 09:29 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Reiny Dwinanda

Peneliti tengah mengembangkan vaksin Covid-19 di Center for Pharmaceutical Research di Kansas, Amerika Serikat. Sejumlah peneliti kembali melirik vaksin lawas dengan harapan ada efek proteksi silang terhadap Covid-19.

Peneliti tengah mengembangkan vaksin Covid-19 di Center for Pharmaceutical Research di Kansas, Amerika Serikat. Sejumlah peneliti kembali melirik vaksin lawas dengan harapan ada efek proteksi silang terhadap Covid-19.

Foto: Center for Pharmaceutical Research via AP
Vaksin lawas diteliti lagi dengan harapan ada efek proteksi silang terhadap Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON — Para ilmuwan dilaporkan melirik kembali beberapa vaksin lawas untuk kuman lain dalam upaya untuk melihat kemungkinannya memberikan perlindungan sementara dari infeksi virus corona jenis baru (Covid-19). Vaksin sejatinya dirancang untuk penyakit tertentu, namun vaksin yang terbuat dari strain bakteri atau virus hidup tampaknya meningkatkan lini pertahanan pertama sistem kekebalan tubuh.

Berdasarkan catatan sejarah, terkadang tubuh mengembangkan proteksi silang terhadap kuman yang berbeda dari vaksin yang diberikan. Vaksin BCG yang diberikan pada bayi baru lahir di negara berkembang, contohnya, secara umum dapat mendongkrak tingkat kemampuan bertahan hidup, termasuk dari serangan virus yang menyerang pernapasan.

Sementara itu, penelitian di Rusia pada 1970-an menunjukkan bahwa pemberian vaksin polio turut berperan dalam menekan angka kejadian flu. Pada 2015, peneliti Denmark juga melihat adanya indikasi proteksi silang setelah pemberian vaksin oral polio.

Baca Juga

Sejauh ini, belum ada bukti pendekatan tersebut cukup mampu meningkatkan sistem imunitas terhadap infeksi virus corona. Akan tetapi, mengingat vaksin baru kemungkinan baru ada sekitar 12 hingga 18 bulan ke depan, sejumlah peneliti pun memilih untuk melakukan pendekatan tersebut demi mempercepat pengujian. Mereka memulainya dengan vaksin tuberkulosis (TB).

“Ini masih hipotesis. Tetapi jika itu berhasil, maka itu bisa menjadi alat yang sangat penting untuk menjembatani periode berbahaya ini, sampai kita memiliki vaksin yang tepat dan spesifik di pasaran,” ujar Mihai Netea dari Radboud University Medical Center di Belanda, seperti dikutip AP.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada pekan lalu telah mengeluarkan peringatan keras untuk tidak menggunakan vaksin TB terhadap Covid-19, sampai penelitian membuktikannya berhasil. Di lain sisi, hampir 1.500 pekerja perawatan kesehatan Belanda telah menyingsingkan lengan baju mereka untuk mendukung penelitian yang dipimpin tim Netea.

Dalam penelitiannya, Netea memakai vaksin TB, yakni BCG, yang terbuat dari bakteri hidup sepupu kuman TB yang telah dilemahkan. Penelitian yang sama telah bergulir di Australia dengan melibatkan 4.000 pekerja rumah sakit dan negara lain pun tengah berencana melakukan hal serupa, termasuk Amerika Serikat.

Di samping vaksin BCG untuk TB, vaksin polio yang diberikan secara oral juga lirik. Vaksinnya terbuat dari virus polio yang sudah dilemahkan. Global Virus Network yang bermarkas di Baltimore, AS, berencana memulai studi yang sama.

"Kami tengah mendiskusikannya dengan otoritas kesehatan setempat," kata co-founder Global Virus Network Dr Robert Gallo, seperti dikutip Associated Press.

Rapid studies are needed to tell if there could be “long-ranging effects for any second wave of this,” said Gallo, who directs the Institute of Human Virology at the University of Maryland School of Medicine.

"Diperlukan banyak studi cepat untuk mengetahui apakah ada efek jangka panjang untuk gelombang kedua virus corona ini," kata Robert Gallo, pemimpin Institute of Human Virology di University of Maryland School of Medicine.

Sementara itu, ada hal penting yang harus menjadi perhatian para peneliti terkait penggunaan vaksin hidup. Vaksin seperti ini lebih riskan jika diberikan kepada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Vaksin hidup juga tak boleh diuji coba terkait Covid-19 di luar kepentingan riset. Dr Denise Faustman, kepala imunobiologi di Massachusetts General Hospital, yang berencana mengembangkan studi vaksin TB mengatakan bahwa pemberian vaksin hidup tak bisa begitu saja diberikan untuk pencegahan Covid-19.

"Tapi memang ini adalah kesempatan yang menakjubkan untuk membuktikan apakah ada efek di luar target vaksinasi TB memang ada atau malah sebaliknya," ujar Faustman.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA