Senin 20 Apr 2020 09:17 WIB

Anak Masih Usia Dini? Tunda Dulu Berkenalan dengan Gadget

Penggunaan gawai pada usia dini membuat anak kurang mampu mengendalikan diri.

Rep: Santi Sopia/ Red: Qommarria Rostanti
Anak sedang mengakses gawai (ilustrasi).
Foto: www.freepik.com
Anak sedang mengakses gawai (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, SACRAMENTO -- Waktu penggunaan gawai oleh anak dinilai perlu dibatasi. Para peneliti University of California Davis (UC Davis) merekomendasikan agar orang tua menunda memperkenalkan anak-anak prasekolah terhadap akses layar ponsel seperti ponsel cerdas dan tablet.

Dilansir di Medical News Today, akhir pekan lalu, sebuah studi baru menunjukkan anak-anak yang menggunakan perangkat seluler sejak usia dini kurang mampu mengatur perilaku atau mengendalikan diri mereka sendiri. Data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menunjukkan anak-anak berusia 8-10 tahun rata-rata menghabiskan enam jam per hari di depan layar. Pada usia 11-14, waktu penggunaan meningkat menjadi hampir sembilan jam sehari.

Sebuah studi baru dari University of California, Davis (UC Davis) menunjukkan layar gawai mungkin memiliki efek kritis pada perkembangan anak ketika mereka mulai menggunakannya pada usia dini. Penelitian ini telah dipublikasikan di JAMA Pediatrics.

Para peneliti membagikan formula kepada orang tua di prasekolah dan acara komunitas. Mereka merekrut 73 anak berusia antara 32 dan 47 bulan dan menganalisis 56 data dari mereka.

Para peneliti melakukan penelitian selama dua setengah tahun, antara Juli 2016 hingga Januari 2019. Selama waktu ini, anak-anak hadir ke kampus di UC Davis selama sesi 90 menit sesi. Para peneliti menilai kemampuan mereka untuk mengatur diri sendiri. Ini berarti mereka melihat kemampuan mereka untuk merencanakan, mengendalikan, dan memantau pikiran, perasaan, dan perilaku mereka.

Banyak orang sering mengasosiasikan keterampilan penting ini dengan kemampuan akademis dan sosial, kesejahteraan fisik, mental, serta pendapatan. Para peneliti meminta anak-anak untuk menyelesaikan serangkaian tugas, termasuk berjalan perlahan di sepanjang garis di lantai dan bergantian dengan peneliti untuk membangun menara dari balok.

Para peneliti membandingkan hasil dari tugas-tugas ini dengan informasi dari orang tua tentang waktu penggunaan gawai. Termasuk, informasi usia di mana anak-anak pertama kali melihat layar dan berapa lama waktu yang biasa dihabiskan.

Hasil penelitian menunjukkan anak-anak yang mulai menggunakan media layar apa pun (termasuk televisi, komputer, ponsel pintar, dan tablet) di awal kehidupannya memiliki kemampuan pengaturan diri yang lebih rendah. Ini juga berlaku bagi mereka yang saat ini menggunakan perangkat seluler (ponsel pintar, tablet, atau keduanya) lebih dari yang lain dalam kelompok.

Meski begitu, ukuran waktu layar tidak memprediksi persepsi orang tua tentang pengaturan diri anak mereka. Sebagai hasil dari temuan mereka dan sebagai tindakan pencegahan, para peneliti merekomendasikan orang tua membatasi jumlah waktu anak-anak prasekolah menggunakan perangkat seluler.

Amanda C Lawrence, penulis utama dan kandidat doktor di UC Davis mengatakan anak-anak kecil sering terpapar media layar. "Meskipun konsumsi media anak-anak berkualitas tinggi dalam jumlah sedang telah ditetapkan memiliki pengaruh positif terhadap perkembangan, namun temuan ini mendukung pembatasan penggunaan perangkat seluler oleh anak-anak," kata Lawrence.

Sifat portabel dari perangkat seluler memungkinkannya digunakan di lokasi mana pun. "Penggunaan layar, kemudian, dapat mengganggu interaksi sensitif dan responsif dengan orang tua atau mempraktikkan perilaku menenangkan diri yang mendukung perkembangan optimal," kata Lawrence.

Salah satu pesan utama dari penelitian ini adalah orang tua perlu mempertimbangkan untuk menunda memperkenalkan media layar apa pun kepada anak-anak sejak dini. Pertimbangan lain termasuk membatasi penggunaan berlebihan perangkat seluler, seperti ponsel cerdas dan tablet di antara anak-anak prasekolah. Di lain sisi, orang tua perlu memastikan jika anak mendapatkan akses materi pendidikan dan perkembangan yang positif.

Peneliti mendasarkan penelitiannya pada sampel kecil lebih dari 50 anak dan bias terhadap kelompok kelas menengah. Selain itu, penelitian ini bersifat cross-sectional dan tidak acak sehingga hanya dapat menunjukkan korelasi yang mungkin disebabkan oleh bias.

Para peneliti perlu melakukan studi jangka panjang tentang lebih banyak anak dan memperoleh penilaian yang lebih akurat tentang penggunaan layar sebelum dapat mengkonfirmasi tautan antara waktu layar dan perkembangan anak. Namun tim di UC Davis sudah mulai melangkah ke tahapan tersebut.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement