Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

Indonesia Kita Memang Berbeda

Sabtu 18 Apr 2020 08:55 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Asma Nadia

Asma Nadia

Foto: Republika/Daan
Berbeda itu terkadang baik. Meski tak selalu.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Asma Nadia

Setiap kita berbeda dengan lainnya. Sidik jari setiap manusia tidak ada yang identik. Dengan perkembangan ilmu pengetahuan, diketahui bahwa retina mata, pola di lidah, nyaris semua bagian tubuh manusia berbeda sampai titik sekecil DNA.

Tidak hanya manusia, tetapi binatang juga memiliki keunikan. Strip pada setiap zebra berbeda, moncong anjing mempunyai pola yang tidak sama, lurik dan pola pada tubuh macan pun unik. Karena itu, jangan kaget jika cara manusia termasuk pemerintah setiap negara dalam menyikapi wabah corona pun berbeda-beda.

Untuk membuat rakyat tidak keluar rumah, Pemerintah Rusia melepas ratusan singa, India melepas sapi, sementara Spanyol melepas banteng. Indonesia? Pemerintah memutuskan melepas sejumlah narapidana atas dasar kemanusiaan.

Tentu saja berita Pemerintah Rusia melepas singa, India melepas sapi, Spanyol melepas banteng yang viral hanya merupakan hoaks belaka. Berbeda dengan tiga hoaks di atas, perkara Indonesia melepas narapidana adalah fakta yang dengan cepat menghiasi halaman utama media-media papan atas. Ironinya, berbagai media kemudian ramai mengungkap bukan hanya satu kasus melainkan beberapa narapidana yang dibebaskan, tanpa menunggu lama langsung melakukan tindak kejahatan dan kembali ke penjara.

Ah, memang cara berpikir pemerintah dan rakyat berbeda. Ini sesuatu yang lumrah juga.
Pemerintah berpikir, melepas narapidana merupakan persoalan kemanusiaan. Rakyat berpikir, membiarkan mereka menyelesaikan masa hukuman juga bagian dari keadilan selain menjamin keamanan masyarakat yang sudah terlalu banyak beban pikiran saat ini.

Betapa tidak, di tengah wabah corona, bahkan perantau yang sukses di kota besar saja dilarang pulang kampung karena dikhawatirkan membawa virus. Lalu bagaimana masyarakat daerah kemudian mampu menerima mantan narapidana di daerahnya?
Jika orang yang punya pekerjaan saja sekarang sulit menemukan peluang mencari uang, apalagi mantan narapidana?

Berbeda itu terkadang baik. Meski tak selalu. Selain di luar begitu banyak perbedaan, manusia pun mempunyai kepentingan dan kebutuhan yang sama. Di mana pun, terlepas latar belakangnya butuh makan dan tempat tinggal, begitu pula mantan narapidana. Jika mereka tidak memiliki tempat tinggal, tidak punya tempat pulang, tidak ada uang, sementara lapar itu kepastian, bagaimana mereka mampu bertahan hidup? Tidakkah lebih manusiawi jika mereka justru tetap berada di tahanan?

Di luar semua fenomena berbeda di atas, sungguh, saya bersyukur, dalam banyak hal rakyat cukup cerdas menyikapi perbedaan. Ketika otoritas menyatakan masker hanya untuk yang sakit, rakyat hampir serentak memutuskan tidak hanya memakai, tapi memproduksi masker kain secara massal. Dan tindakan mandiri rakyat ini cukup menyelamatkan.

Ketika pemerintah pusat masih ragu menetapkan lockdown, sudah banyak masyarakat yang mengambil sikap berbeda dan secara sukarela mengurung diri di rumah tanpa perlu ditakut-takuti dengan ‘melepas singa atau banteng’. Perbedaan kebijakan pemerintah pusat dan daerah juga hal lain yang diyakini banyak pihak, menyelamatkan. Tidak sedikit pemerintah daerah yang berani berinisiatif melakukan tahapan-tahapan pencegahan yang diyakini menyelamatkan anak bangsa.

Jika tidak dan kebijakan terpusat satu suara, sangat mungkin situasi Indonesia akan jauh lebih buruk dari saat ini. Di sisi lain, tentu kita perlu mengapresiasi pemerintah pusat yang secara bijak menampung perbedaan aspirasi yang ada demi keselamatan rakyat.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA