Monday, 30 Sya'ban 1442 / 12 April 2021

Monday, 30 Sya'ban 1442 / 12 April 2021

Menlu Retno Ajak Negara Lain Fokus Melawan Covid-19

Jumat 17 Apr 2020 18:22 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nur Aini

Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Marsudi melakukan pertemuan virtual dengan 8 Menlu Perempuan dunia membahas dampak Covid-19 terhadap perempuan, Kamis (16/4) malam

Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Marsudi melakukan pertemuan virtual dengan 8 Menlu Perempuan dunia membahas dampak Covid-19 terhadap perempuan, Kamis (16/4) malam

Foto: kementerian luar negeri ri
Menlu Retno menilai krisis Covid-19 jadi momentum perbaiki respons organisasi dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Marsudi mengatakan, bahwa baiknya krisis pandemi Covid-19 yang melanda dunia digunakan sebagai momentum untuk melakukan reformasi. Tujuannya, agar ke depan seluruh organisasi internasional yang ada dapat memberikan respons yang lebih baik apabila krisis terjadi.

"Untuk saat ini akan lebih baik apabila energi kita, kita fokuskan untuk melawan Covid-19," ujarnya saat ditanyai soal reaksi Indonesia terkait pertentangan Presiden Amerika serikat (AS) Donald Trump dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam konferensi pers secara virtual, Jumat (17/4).

Retno mengatakan, telah melakukan pertemuan secara virtual dengan para Menlu 20 negara membahas mengenai multilateralisme dalam memperkuat kelola kesehatan global, termasuk melalui dukungan ke WHO. Dalam pertemuan Tingkat Menteri Kelompok Alliance for Multilateralism (AoM), Kamis (16/4), Retno juga mengajak negara-negara lain untuk mendukung WHO dan bekerja secara maksimal dalam merespon krisis ini.

Baca Juga

Dalam pertemuan itu, Menlu Retno menyampaikan dua hal utama yang dapat dilakukan negara dalam merespons krisis pandemi ini. Pertama yakni masyarakat internasional harus memanfaatkan WHO sebagai wadah kerja sama bagi seluruh negara anggota PBB. Kedua, Menlu Retno menegaskan pentingnya masyarakat internasional untuk menjamin agar sistem multilateral dapat memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat luas, seperti persediaan alat medis yang esensial, alat perlindungan diri, obat, dan vaksin.

"Untuk itu, sistem multilateral harus dapat bersifat lebih fleksibel terhadap isu terkait hak paten dan hak kekayaan intelektual dalam memproduksi alat medis, obat, dan vaksin kepada negara ketiga," ujar Retno.

Sebelumnya, Trump mengatakan, akan membekukan dana WHO karena dia menganggap lembaga kesehatan PBB itu terlalu dekat dengan China dan lamban dalam mengumumkan pandemi Covid-19. Trump yang kerap marah terhadap kritik atas penanganan terhadap wabah virus di negaranya, mengatakan WHO telah mempromosikan disinformasi China tentang virus corona dan terlalu toleran dengan Beijing.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA