Tuesday, 6 Syawwal 1442 / 18 May 2021

Tuesday, 6 Syawwal 1442 / 18 May 2021

Ketika Nabi dan Syuhada Iri dengan Waliyullah

Kamis 16 Apr 2020 16:47 WIB

Rep: Andrian Saputra/ Red: Ani Nursalikah

Ketika Nabi dan Syuhada Iri dengan Waliyullah.

Ketika Nabi dan Syuhada Iri dengan Waliyullah.

Foto: Mgrol120
Seorang waliyullah setiap saat hatinya senantiasa bergantung pada Allah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wali Allah atau waliyullah adalah orang-orang yang memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Allah. Seorang wali setiap saat hatinya senantiasa bergantung pada Allah.

Sebab itu, para wali Allah tak sedikit pun ada rasa takut atau kekhawatiran terhadap berbagai perkara di muka bumi ini. Sebagaimana firman Allah dalam surah Yunus ayat 62 yang artinya, "Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati."

Karenanya orang-orang yang memusuhi para wali Allah, sejatinya tengah mengobarkan perang dengan Allah. Ini sebagaimana petikan hadits yang dapat ditemukan dalam sahih Bukhari yang berbunyi, Allah berfirman, "Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka aku umumkan perang kepadanya," (nomor 6502 dalam Fathul bari).

Dalam hadits itu juga dijelaskan bila seorang hamba sudah dicintai Allah SWT, maka Allah menjadi pendengarannya, pandangannya, tangannya. Bila hamba atau wali itu memohon, maka Allah akan memberinya.

Abu Nuaim dalam mukadimah kitab Hilyatul Auliya wa Thabaqath Al Ashfiya menjelaskan para wali Allah itu mempunyai sifat dan tanda yang nyata. Orang-orang yang berakal dan shaleh bersikap loyal kepada mereka dengan sukarela. Bahkan para syuhada dan nabi pun iri dengan kedudukan para wali. Keterangan ini bersandar pada sebuah hadits,

"Sesungguhnya diantara hamba-hamba Allah itu terdapat orang-orang yang bukan nabi dan bukan pula syuhada, namun para nabi dan syuhada iri kepada mereka di hari kiamat karena kedudukan mereka di hadapan Allah. Seorang lelaki bertanya, siapa mereka dan apa amal mereka? Barangkali kami bisa mencintai mereka. Rasulullah menjawab, yaitu suatu kaum yang saling mencintai semata karena ruh Allah tanpa ada hubungan rahim di antara mereka dan bukan karena harta benda yang saling mereka berikan, demi Allah wajah mereka benar-benar cahaya, dan sesungguhnya benar-benar di atas mimbar dari cahaya. Mereka tidak takut saat manusia takut, dan tidak pula bersedih hati saat manusia bersedih hati." Hadits ini dapat ditemukan juga di sunan Ahmad.

 

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA