Jumat 17 Apr 2020 00:56 WIB

Perjuangan BUMN Ini Tembus Lockdown India Jemput Obat Corona

Indofarma mengangkut bahan baku obat corona dibantu Garuda Indonesia.

Rep: M Nursyamsi/ Red: Friska Yolandha
PT Indofarma (Persero) berhasil mendatangkan 50 kilogram (kg) bahan baku obat (BBO) Oseltamivir dari India. Direktur Utama Indofarma Arief Pramuhanto menyebut perjuangan Indofarma mendatangkan BBO Oseltamivir tidak mudah. Pasalnya, India tengah dalam posisi lockdown. Alhasil, BBO yang sudah dipesan tidak bisa dikirim India ke Indonesia.
Foto: EPA
PT Indofarma (Persero) berhasil mendatangkan 50 kilogram (kg) bahan baku obat (BBO) Oseltamivir dari India. Direktur Utama Indofarma Arief Pramuhanto menyebut perjuangan Indofarma mendatangkan BBO Oseltamivir tidak mudah. Pasalnya, India tengah dalam posisi lockdown. Alhasil, BBO yang sudah dipesan tidak bisa dikirim India ke Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Indofarma (Persero) berhasil mendatangkan 50 kilogram (kg) bahan baku obat (BBO) Oseltamivir dari India. Direktur Utama Indofarma Arief Pramuhanto menyebut perjuangan Indofarma mendatangkan BBO Oseltamivir tidak mudah. Pasalnya, India tengah dalam posisi lockdown. Alhasil, BBO yang sudah dipesan tidak bisa dikirim India ke Indonesia.

"India lockdown dari awal sampai pertengahan April juga masih lockdown. Ada beberapa hari barang tidak bisa keluar dari Laboratorium Mylan di Hyderabad, India," ujar Arief saat dihubungi Republika.co.id di Jakarta, Rabu (15/4).

Baca Juga

Kata Arief, Indofarma mengambil langkah cepat dengan menyewa Garuda Indonesia untuk mengambil BBO Oseltamivir. Arief menyampaikan Oseltamivir merupakan. salah satu antivirus corona yang direkomendasikan persatuan dokter paru Indonesia lewat protokol yang mereka terbitkan. Adanya rekomendasi tersebut membuat permintaan akan Oseltamivir menjadi tinggi. Hal itu yang mendasari Indofarma menyewa Garuda Indonesia untuk menjemput BBO Oseltamivir dari India.

Arief menjelaskan, 50 kg BBO Oseltamivir tiba di Indonesia pada Rabu (8/4). Kemudian, proses produksi mengolah BBO Oseltamivir dikebut dalam waktu empat hari, mulai Kamis (9/4) hingga Ahad (12/4). Arief menyebut, 50 kg BBO Oseltamivir mampu menghasilkan 500 ribu tablet Oseltamivir.

"Sekarang alhamdulillah obatnya sudah jadi, 500 ribu (tablet) itu sudah kita distribusikan ke rumah sakit yang membutuhkan," ucap Arief. 

Tak berhenti di sini, Arief mengaku Indofarma telah kembali memesan 150 kg BBO Oseltamivir dari India yang mampu menghasilkan 1,5 juta tablet Oseltamivir. Opsi menggunakan Garuda Indonesia tampaknya kembali diambil lantaran adanya perpanjangan masa lockdown di India.

Sebelumnya, Kementerian BUMN mengaku terus mendorong BUMN mencari alat kesehatan (alkes), bahan baku obat, hingga obat dalam bentuk jadi untuk penanganan corona. Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga mengatakan upaya ini tidak mudah lantaran ketatnya persaingan dengan banyak negara.

"Perlu diketahui beratnya kita mendapatkan alat kesehatan seperti ventilator itu rebutan. Di samping itu, bahan obat, masker, APD, itu juga rebutan. Jadi semua kejar-kejaran, ke mana ada barang, langsung beli," ujar Arya saat konferensi video di Jakarta, Rabu (15/4).

Arya mengatakan upaya BUMN perlahan membuahkan hasil dengan berhasil membeli bahan baku untuk Oseltamivir dari India. Kata Arya, Oseltamivir merupakan obat corona sebagaimana Klorokuin. Bahan baku tersebut telah tiba di Indonesia pada 9 April lalu.

Nantinya, kata Arya, bahan baku tersebut akan diproduksi Bio Farma hingga mampu menciptakan sekira 500 ribu tablet Oseltamivir. Arya mengaku sengaja baru membuka informasi keberhasilan BUMN mendapatkan bahan baku untuk Oseltamivir.

"Kami kemarin tidak begitu membuka karena kan sekarang lagi 'perang' untuk merebut bahan baku dan obat," kata Arya.

Tak hanya Oseltamivir, lanjut Arya, BUMN juga telah mendatangkan satu ton bahan baku untuk Klorokuin yang juga akan diproduksi Bio Farma. Arya menyebut Oseltamivir sudah mulai didistribusikan ke RS Pertamina Jaya. Ke depan, obat-obat tersebut juga akan didistribusikan ke sejumlah RS yang menangani corona.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement