Wednesday, 15 Safar 1443 / 22 September 2021

Wednesday, 15 Safar 1443 / 22 September 2021

Bahayakan Jantung, Studi Klorokuin Pasien Corona Dihentikan

Rabu 15 Apr 2020 20:29 WIB

Rep: Santi Sopia/ Red: Reiny Dwinanda

Pil hidroksiklorokuin yang dikenal sebagai obat antimalaria banyak digunakan sebagai pengobatan Covid-19. Brasil hentikan penelitian klorokuin untuk pasien corona karena membahayakan jantung.

Pil hidroksiklorokuin yang dikenal sebagai obat antimalaria banyak digunakan sebagai pengobatan Covid-19. Brasil hentikan penelitian klorokuin untuk pasien corona karena membahayakan jantung.

Foto: EPA
Brasil hentikan penelitian klorokuin untuk pasien corona karena membahayakan jantung.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah penelitian terhadap pasien infeksi virus corona tipe baru di Brasil terpaksa dihentikan terkait percobaan pengobatan menggunakan klorokuin. Studi menggunakan paket tablet Nivaquine yang mengandung klorokuin dan tablet Plaquenil yang mengandung hidroksiklorokuin.

Dikutip laman NY Times, studi dihentikan dengan alasan keamanan karena pasien yang diberi dosis tinggi mengalami detak jantung tidak teratur hingga meningkatkan risiko aritmia jantung yang berpotensi fatal. Dokter penyakit menular dan ahli keamanan obat mengatakan, penelitian ini memberikan bukti lebih lanjut bahwa klorokuin dan hidroksiklorokuin berpotensi membahayakan.

Keduanya biasa digunakan untuk mengobati malaria, namun dapat menimbulkan bahaya yang signifikan bagi beberapa pasien, termasuk penderita Covid-19, khususnya untuk risiko aritmia jantung yang fatal.

"Ini membuktikan bahwa klorokuin menyebabkan peningkatan dosis yang abnormal pada EKG yang dapat mempengaruhi orang untuk kematian jantung mendadak," kata Dr David Juurlink, seorang internis dan kepala Divisi Farmakologi Klinis di Universitas Toronto, merujuk pada elektrokardiogram, yang membaca aktivitas kelistrikan jantung.

Pasien dalam percobaan juga diberi antibiotik azitromisin yang membawa risiko jantung yang sama. Rumah sakit di Amerika Serikat juga menggunakan azitromisin untuk mengobati pasien coronavirus, sering kali dikombinasikan dengan hidroksiklorokuin.

Sekitar setengah dari peserta penelitian diberi dosis 450 miligram klorokuin dua kali sehari selama lima hari, sedangkan sisanya diberi dosis lebih tinggi 600 miligram selama 10 hari. Dalam tiga hari, para peneliti mulai memperhatikan aritmia jantung pada pasien yang menggunakan dosis yang lebih tinggi.

Baca Juga

Pada hari keenam pengobatan, 11 pasien telah meninggal, sehingga membuat peneliti segera mengakhiri segmen dosis tinggi dari percobaan. Para peneliti mengatakan, studi ini tidak memiliki cukup pasien dalam porsi dosis rendah untuk menyimpulkan apakah klorokuin efektif pada pasien dengan penyakit parah.

Lebih banyak studi yang mengevaluasi obat lebih awal dalam perjalanan penyakit "sangat dibutuhkan," menurut para peneliti. Studi Brasil melibatkan 81 pasien yang dirawat di rumah sakit di kota Manaus dan disponsori oleh negara bagian Brasil, Amazonas itu dipublikasikan di medRxiv, server daring untuk artikel medis, sebelum menjalani tinjauan sejawat oleh peneliti lain.

Mengingat pedoman nasional Brasil merekomendasikan penggunaan klorokuin pada pasien corona, para peneliti memasukkan plasebo dalam uji coba mereka. Langkah ini dianggap sebagai cara terbaik untuk mengevaluasi obat.

Beberapa uji klinis untuk klorokuin dan hidroksiklorokuin sedang menguji dosis rendah untuk periode waktu yang lebih singkat pada pasien coronavirus. Tetapi, Komisi Kesehatan Provinsi Guangdong di China pada awalnya merekomendasikan mereka yang sakit dengan virus  diobati dengan 500 miligram klorokuin dua kali sehari selama 10 hari.

Salah satu penulis penelitian Brasil, Dr Marcus Lacerda, mengatakan dalam sebuah surel pada bahwa studinya menemukan bahwa "dosis tinggi yang digunakan orang China sangat beracun dan membunuh lebih banyak pasien.

"Itulah sebabnya kelompok penelitian ini dihentikan lebih awal," katanya seraya menambahkan bahwa naskah itu sedang ditinjau oleh jurnal Lancet Global Health.

Dr Bushra Mina, Kepala Seksi Kedokteran Paru di Rumah Sakit Lenox Hill di Manhattan, mengatakan, penelitian itu kemungkinan besar tidak akan mengubah praktik rumah sakitnya dengan memberikan terapi hidroksiklorokuin dan azitromisin selama lima hari kepada pasien rawat inap yang tidak sakit parah. Mina mengatakan, pasien dimonitor setiap hari untuk kelainan jantung dan obat-obatan dihentikan jika ada yang ditemukan.

Mina mengatakan, penelitian menunjukkan "jika klorokuin akan digunakan karena orang tidak memiliki alternatif, maka gunakan dengan hati-hati. Klorokuin terkait erat dengan obat hidroksiklorokuin yang lebih banyak digunakan. Kedua obat itu sebelumnya telah dipromosikan oleh Presiden AS Donald Trump sebagai pengobatan Covid-19.

Presiden Trump menyebutnya sebagai pengobatan potensial untuk virus corona baru meskipun sedikit bukti bahwa itu berkhasiat meski ada kekhawatiran dari beberapa pejabat kesehatan. Bulan lalu, Food and Drug Administration AS memberikan persetujuan darurat untuk memungkinkan rumah sakit menggunakan klorokuin dan hidroksiklorokuin dari persediaan nasional jika uji klinis tidak memungkinkan. Perusahaan yang memproduksi kedua obat tersebut telah meningkatkan produksinya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA