Selasa 14 Apr 2020 10:37 WIB

Bentrok TNI dan Polisi di Papua Dipicu Urusan Sewa Motor

Tiga anggota polisi meninggal dalam bentrokan dengan personel TNI di Memberamo Raya.

Rep: Arif Satrio Nugroho/ Red: Teguh Firmansyah
Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw (kiri) menyalami anggota TNI (ilustrasi).
Foto: Antara/M Risyal Hidayat
Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw (kiri) menyalami anggota TNI (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kapolda Papua Inspektur Jenderal Paulus Waterpauw memastikan jajarannya telah berkonsolidasi selepas bentrok Polri-TNI pada 11 April 2020 lalu. Paulus menyebut, penarikan senjata pada para anggota Polres Memberamo yang terlibat rusuh telah dilakukan.

"Masuk ke markas masing-masing, (senjata) suruh taruh di gudang," kata Paulus saat dikonfirmasi, Selasa (14/4).

Baca Juga

Ia menjelaskan, penarikan ini merupakan bagian dari konsolidasi dan menghindarkan aksi balas dendam anggota. Ia meyakini konsolidasi antara jajaran TNI-Polri telah terbentuk.

Paulus menjelaskan, insiden yang menyebabkan tiga anggota Polres Memberamo Raya meninggal dunia ini bermula dari permasalahan sewa motor. Seorang anggota Polres menyewa motor seorang tukang ojek yang memiliki hubungan dengan anggtoa Satuan Tugas Batalion Infanteri 755/Yalet.

Markas satgas tersebut juga dekat dengan pangkalan ojek. "Anggota polres sewa motor ojek untuk jemput pastor hari Sabtu itu. Janjinya satu jam akan dibayar," kata Paulus.

Namun, ternyata peminjaman yang dilakukan melebihi batas waktu sehingga terjadi keributan antara tukang ojek itu dan polisi penyewa. Lalu, tukang ojek tersebut melapor ke anggota Satgas Yonif. Satgas Yonif datang dan terjadilah pertikaian dengan polisi.

Anggota Yonif sempat menyambangi Polres Memberamo Raya. Kapolres mengingatkan agar anggotanya jangan membalas dan tak berbuat apa-apa terlebih dahulu. Namun, imbauan kapolres tak diindahkan.

Akibatnya, bentrok pun terjadi dan menyebabkan tewasnya tiga anggota polisi. Tiga anggota yang tewas adalah Briptu Marcelino Rumaikewi, Briptu Alexander Ndun, dan Bripda Yosias. Marcelino tewas karena luka tembak di leher sebelah kanan, Yosias mengalami luka tembak di leher kiri, dan Alexander tewas dengan luka tembak di paha kiri. "Ini salah paham yang disesalkan pimpinan masing-masing," kata Paulus.

Menurut Paulus, tim investigasi gabungan TNI-Polri masih melakukan penyelidikan. Bukan hanya prajurit TNI yang diselidiki, melainkan anggota polisi. "Kena juga anggota kita. Kita konsolidasikan dulu, sudah dilakukan pemeriksaan awal," ujar Paulus menegaskan.

Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Herman Asaribab memastikan bahwa investigasi gabungan TNI-Polri masih terus dilakukan untuk memeriksa oknum prajurit TNI yang terlibat dalam insiden bentrokan. Herman menegaskan tidak akan melindungi anggota yang salah. "Saya tegaskan bahwa proses hukum akan dilakukan bagi kalian yang berbuat pelanggaran," kata Herman dalam keterangan yang diterima Republika.co.id.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement