Tuesday, 29 Ramadhan 1442 / 11 May 2021

Tuesday, 29 Ramadhan 1442 / 11 May 2021

Virus Corona Stigmatisasi

Jumat 17 Apr 2020 06:04 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Azyumardi Azra

Azyumardi Azra

Foto: Republika
Belum terlihat tanda-tanda meyakinkan, kematian karena virus corona baru ini berhenti

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Azyumardi Azra

Bencana pandobal (pandemi global) virus corona yang juga disebut Covid-19 yang berasal dari Wuhan, Cina Daratan, menyebar cepat. Warga sekitar 190 negara besar dan kecil di berbagai benua terlanda penyakit yang belum ada obatnya ini. Berbagai usaha penelitian dan pengembangan untuk menemukan obat penangkal virus corona belum menampakkan hasil.

Angka penyebaran Covid-19 terus meningkat di berbagai penjuru. Wabah ini mengerikan karena sudah mematikan lebih 5.000 orang yang bakal terus meningkat. Belum terlihat tanda-tanda meyakinkan, kematian karena virus
corona baru ini berhenti.

Tidak ada jalan pintas dan efektif untuk membendung virus corona. Ada negara-negara yang menerapkan isolasi atau karantina diri (lockdown), menutup diri penuh; tidak ada orang yang boleh masuk ataupun keluar.

Atau menerapkan penjarakan sosial (social distancing) untuk mengurangi interaksi antarmanusia yang menyebarkan Covid-19. Warga dianjurkan berdiam di rumah; tidak keluar kecuali untuk urusan yang memang sangat perlu.

Namun, dalam perkembangan memprihatinkan itu, juga kian tersibak harapan dengan meningkatnya jumlah mereka yang sembuh. Di sejumlah negara, jumlah mereka yang sembuh lebih banyak daripada munculnya kasus-kasus baru mereka yang terlanda virus
corona. Hikmah dan pelajaran apa yang bisa diambil dari kasus virus corona yang menjadi pandemi global?

Satu hal penting, kemunculan dan penyebaran Covid-19 meningkatkan pertengkaran global di antara dua negara yang kini sudah menjadi musuh bebuyutan: Cina dan Amerika Serikat. Kalangan pejabat tinggi Pemerintah Cina secara terbuka menyatakan virus
corona adalah buatan AS yang disebarkan tentaranya yang mengikuti pekan olahraga militer di Wuhan, Cina, sekitar Agustus 2019.

AS menolak tuduhan itu. Sebaliknya, menuduh Cina bertanggung jawab atas kemunculan dan penyebaran virus
corona secara cepat ke berbagai penjuru dunia. Kalangan pejabat tinggi AS menyatakan, akhirnya Cina secara ekonomi mendapat lebih banyak 'keuntungan' daripada AS.

Bisa dipastikan, pertengkaran di antara kedua negara ini terus ber lan jut. Adu mulut antara Cina dan AS jelas tidak hanya terkait benca na Co vid-19, tetapi juga dalam isu lain terkait persaingan ekonomi dan politik.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA