Saturday, 9 Zulqaidah 1442 / 19 June 2021

Saturday, 9 Zulqaidah 1442 / 19 June 2021

Hikmah Islam di Balik Fenomena Kaya-Miskin

Senin 13 Apr 2020 18:35 WIB

Red: Hasanul Rizqa

Hikmah Islam di Balik Fenomena Kaya-Miskin (ilustrasi)

Hikmah Islam di Balik Fenomena Kaya-Miskin (ilustrasi)

Foto: Blogspot.com
Kaya-Miskin menurut Islam adalah ujian dari Allah SWT.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam surah az-Zukhruf ayat 32, Allah SWT berfirman, yang artinya, "Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan."

Ayat di atas menggambarkan, perbedaan antara orang berpunya dan papa adalah suatu fakta (sunatullah). Pembagian antara yang kaya dan miskin adalah sesuai dengan ketetapan yang diberikan oleh Allah SWT.

Baca Juga

Dan, ini pun merupakan bentuk dari ujian. Allah SWT memberikan ujian kepada hamba- Nya, salah satunya dengan harta yang mereka miliki.

Surah al-Anbiya ayat 35 menjelaskan lebih dalam tentang ujian demikian. Dalam surah tersebut, Allah berfirman, yang artinya, "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan."

Maka, jika seorang hamba Allah diberikan kelebihan, bukan berarti itu bentuk cinta dan kasih sayang. Kelebihan yang ia miliki tidak serta-merta menunjukkan, Allah SWT lebih sayang kepada dirinya dibandingkan dengan orang yang lain. Sebab, kekayaan yang ada padanya hanyalah ujian yang harus ia lalui.

Orang yang diberikan kelebihan dalam hal harta, jabatan, serta kekuasaan, hendaknya lebih berhati-hati dan memperbanyak mengingat Allah SWT.

Apalagi, manusia cenderung memiliki sifat lalai. Ia kerap lupa pada Tuhannya ketika mendapatkan kelebihan dan berujung berbuat zalim. Surah asy-Syura ayat 27 telah mengingatkan hal ini. Artinya, "Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat."

Hikmah di balik kefakiran

Allah SWT menginginkan kemudahan bagi hamba-Nya yang beriman, termasuk dalam urusan masuk surga.

Dari Abdullah bin 'Amr, Rasulullah SAW pernah bersabda, "Sesungguhnya kaum fakir dari kalangan muhajirin mendahului orang-orang yang kaya menuju surga pada hari kiamat dengan jarak selama 40 tahun."

Kaum fakir dari kalangan muhajirin merupakan mereka yang hidup pada zaman Rasul dan rela meninggalkan harta serta keluarga mereka demi Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW.

Sebagai contoh, ialah kisah sahabat Nabi, Mush'ab bin Umair. Ia adalah sahabat Nabi yang meninggal syahid pada awal-awal masa jihad serta meninggal dalam keadaan fakir.

Rasulullah bersama sahabat yang lain hanya bisa menangis saat Mush'ab wafat karena jasadnya yang tidak bisa ditutup oleh satu kain burdah miliknya. Andai kain itu ditaruh di atas ke palanya, maka terbukalah kedua belah kakinya. Begitu pula sebaliknya. Karena itu, Nabi pun bersabda, "Kaum fakir dari golongan muhajirin masuk surga terlebih dahulu sebelum kaum kaya dari kalangan mereka dengan jarak selama 500 tahun."

sumber : Dialog Jumat Republika
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA