Monday, 4 Zulqaidah 1442 / 14 June 2021

Monday, 4 Zulqaidah 1442 / 14 June 2021

Narita Siapkan Kardus untuk Pelancong Tunggu Tes Corona

Senin 13 Apr 2020 17:23 WIB

Red: Nur Aini

Bandara Narita, Tokyo, Jepang.

Bandara Narita, Tokyo, Jepang.

Foto: Youtube
Bandara Narita Jepang masih kedatangan warga dari luar negeri.

REPUBLIKA.CO.ID, NARITA -- Bandara Narita Jepang telah menyiapkan hotel dadakan yang menyediakan tempat tidur kardus dan selimut di area klaim bagasi untuk pelancong dari luar negeri yang mungkin harus tinggal di sana sambil menunggu hasil tes untuk virus corona baru.

Meskipun penerbangan di Narita sudah turun sangat tajam sehingga bandara itu telah menutup salah satu landasan pacunya, pesawat masih mendarat dengan penumpang. Mereka datang dari beberapa negara termasuk Amerika Serikat dan Italia yang diharuskan menjalani tes untuk virus corona sebelum mereka bisa pulang.

Baca Juga

Hasil tes bisa keluar paling cepat enam jam. Tetapi, beberapa penundaan sekarang membuat banyak tes memakan waktu selama satu atau dua hari, kata seorang pejabat di Departemen Kesehatan, yang menolak untuk menyebutkan namanya.

Dengan larangan bagi penumpang pesawat yang baru sampai untuk mengambil transportasi umum, mereka yang tidak memiliki siapa pun untuk menjemput harus menunggu. Untuk itu, tempat tidur kardus telah disiapkan di bandara Narita seandainya fasilitas terdekat yang saat ini digunakan untuk menampung penumpang sudah penuh.

Tempat tidur yang disediakan oleh bandara tersebut terbuat dari kardus berbahan tebal serta berisi kasur dan selimut. Tempat tidur itu merupakan jenis yang dikembangkan untuk digunakan di pusat-pusat evakuasi selama bencana dan saat-saat lain yang memerlukan tempat tidur sementara.

"Ada fasilitas di dekat bandara untuk orang-orang dapat tinggal, maka setahu saya tempat tidur itu belum digunakan - kalaupun digunakan, itu hanya sebentar," kata petugas bandara Narita.

Jepang pekan lalu menyatakan keadaan darurat di pusat-pusat populasi utama untuk memerangi penyebaran virus corona. Media NHK melaporkan jumlah kasus di negara itu setidaknya ada 7.400, dengan 137 kematian.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA