Senin 13 Apr 2020 16:48 WIB

Lonjakan Kasus dan Perintah Jokowi Antisipasi Puncak Pandemi

Total kasus positif Covid-19 di Indonesia hingga Senin, 4.557 kasus.

Presiden Joko Widodo. (ilustrasi)
Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/Pool
Presiden Joko Widodo. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Sapto Andika Candra, Fauziah Mursid

Pemerintah pada Senin (13/4), mengumumkan penambahan sebanyak 316 kasus positif Covid-19 selama 24 jam terakhir. Sehingga, total kasus positif Covid-19 di Indonesia adalah 4.557 kasus.

Baca Juga

Dari angka tersebut, sebanyak 21 orang kembali dinyatakan sembuh sehingga total pasien sembuh sebanyak 380 orang. Sedangkan 26 orang meninggal dunia dalam satu hari terakhir, sehingga total pasien meninggal 399 orang.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menyebutkan, sebagian besar pasien yang meninggal berusia di atas 50 tahun dan memiliki penyakit bawaan, seperti hipertensi atau darah tinggi, diabetes, dan penyakit paru-paru seperti asman dan bronkitis.

"Maka sekali lagi diingatkan agar masyarakat tetap menjaga jarak dan menunda perjalanan. Produktif di rumah," ujar Yurianto, Senin (13/4).

Dari total angka pasien sembuh, DKI Jakarta mencatatkan kasus sembuh tertinggi yakni 142 pasien dalam 24 jam terakhir. Kemudian Jawa Timur mencatatkan 73 sembuh, dan diikuti Sulawesi Selatan dengan 31 orang sembuh.

"Kami harap ini menjadi sebuah optimisme bersama bahwa covid-19 bisa sembuh dan jumlah yang sembuh akan terus bertambah," jelasnya.

Terus melonjaknya laporan kasus positif Covid-19 sepertinya tidak terlepas dari upaya peningkatan kapasitas dan perluasan tes PCR. Presiden Joko Widodo (Jokowi) bahkan meminta tes PCR terus ditingkatkan oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 agar meningkatkan jumlah tes masif kepada masyarakat luas

"Bapak presiden juga telah memerintahkan untuk meningkatkan kapasitas PCR test, demikian juga Bapak Wakil Presiden meminta supaya tes masif ditingkatkan," ujar Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo kepada wartawan, usai rapat terbatas dengan Presiden, Senin (13/4).

Doni menyebut peningkatan kapasitas tes PCR dan jumlah tes masif sangat penting untuk bisa mengetahui masyarakat yang telah positif Covid-19. Dengan begitu, mempermudah penanganan terhadap masyarakat yang positif baik itu isolasi mandiri maupun dirujuk ke rumah sakit tertentu.

Karena itu, Doni menyebut sudah ada beberapa pihak baik swasta maupun BUMN bersedia untuk  ikut partisipasi tes PCR Covid-19. "Ada beberapa swasta yang nantinya akan berpartisipasi dalam PCR test yang bekerjasama juga dengan Kementerian Kehatan, kemudian juga dengan BUMN," ujar Doni.

Tak hanya itu, Presiden, juga kata Doni, memerintahkan peningkatan kapasitas laboratorium yang digunakan untuk memeriksa Covid-19. Sebab, saat ini baru 29 laboratorium yang siap dari 79 laboratorium yang tersebar di Tanah Air

"Yang semula hanya ada tiga, kemudian tambah 12, dan saat ini 29 menuju ke 52 dari 79 laboratorium yang tersebar di Tanah Air," ujarnya.

"Bapak Menristek/kepala BRIN juga telah membantu Lembaga Eikjman agar kapasitas pemeriksaannya ini juga bisa lebih banyak lagi," ujar menambahkan.

Puncak pandemi

Pemerintah memprediksi puncak pandemi Covid-19 di Indonesia berlangsung pada lima hingga enam pekan mendatang atau sekitar pertengahan hingga akhir Ramadhan 1441 H. Artinya, pada masa-masa tersebut jumlah penderita Covid-19 diperkirakan akan mencapai angka tertinggi sejak kasus konfirmasi positif pertama kali diumumkan pada awal Maret lalu.

Doni Monardo menjelaskan, untuk mengantisipasi hal itu, pemerintah melalui Kementerian BUMN telah menambah ketersediaan alat tes Covid-19 dengan metode PCR. Kementerian BUMN telah mendatangkan 18 unit alat PCR. Alat ini diharapkan bisa meningkatkan kapasitas pemeriksaan menjadi 9.000 tes per hari.

"Ketersediaan reagen perlu kita upayakan maksimal karena masa puncak di Indonesia diprediksi akan terjadi 5-6 minggu yang akan datang," kata Doni selepas mengikuti rapat terbatas dengan Presiden Jokowi, Senin (13/4). 

Selain pemeriksaan dengan metode PCR yang akurat, pemerintah juga sedang memasifkan pelaksanaan tes cepat atau rapid test. Kendati tidak seakurat tes PCR, rapid test dianggap dapat memetakan penyebaran Covid-19 di daerah.

"Upaya ini sangat penting untuk bisa mengetahui masyarakat yang telah positif setelah dilakukan pemeriksaan sehingga bisa dilakukan langkah-langkah untuk isolasi mandiri, termasuk juga untuk dirujuk ke rumah sakit tertentu," kata Doni.

Sebelumnya, dalam rapat terbatas, Presiden Jokowi memang meminta jajarannya untuk memperluas dan meningkatkan kapasitas tes PCR. Perluasan kemampuan tes PCR itu diharapkan dapat mengurangi beban laboratorium di zona merah sebagai pusat penyebaran Covid-19.

"Tes PCR sampai hari ini juga sudah menjangkau 26.500 tes. Ini juga lompatan yang baik, tapi saya ingin setiap hari paling tidak kita bisa mengetes lebih dari 10 ribu," ujar Jokowi.

Adanya tambahan 18 unit alat tes PCR ditargetkan mampu meningkatkan kemampuan tes Covid-19 di Indonesia. Bila satu unit alat tes PCR mampu melakukan 500 pemeriksaan per hari, 18 unit diharapkan mampu melakukan 9.000 tes per harinya.

"Ini sangat baik," kata Presiden Jokowi.

photo
Infografis Membentengi Diri dari Covid-19 Saat di Luar Rumah - (republika.co.id)

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement