Wednesday, 6 Zulqaidah 1442 / 16 June 2021

Wednesday, 6 Zulqaidah 1442 / 16 June 2021

Peneliti: Tiga Varian Virus Corona Menyebar ke Seluruh Dunia

Senin 13 Apr 2020 13:24 WIB

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Reiny Dwinanda

Ilustrasi virus corona dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat. Peneliti menyebut ada tiga versi virus corona yang menyebar ke seluruh dunia.

Ilustrasi virus corona dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat. Peneliti menyebut ada tiga versi virus corona yang menyebar ke seluruh dunia.

Foto: CDC via AP, File
Peneliti menyebut ada tiga versi virus corona yang menyebar ke seluruh dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, CAMBRIDGE -- Para ahli genetika dari Inggris dan Jerman telah memetakan jalur evolusi virus corona tipe baru yang menyebabkan Covid-19. Mereka menjelaskan, ada tiga versi virus yang saat ini menyebar ke seluruh dunia.

Temuan mengenai bagaimana varian virus itu terbentuk lalu menyebar dapat membantu para ilmuan mengidentifikasi sumbernya serta menjelaskan alasan virus itu sangat menular. Dilansir laman South China Morning Post, para peneliti menganalisis genom lengkap yang diurutkan dari 160 pasien pertama antara 24 Desember dan 4 Maret lalu.

Peneliti kemudian merekonstruksi jalur evolusi awal Covid-19 pada manusia melalui mutasinya. Menurut mereka, mutasi terjadi begitu cepat untuk bisa melacak pohon keluarga Covid-19.

Baca Juga

"Kami menggunakan algoritma jaringan matematika untuk memvisualisasikan semua kemungkinan pohon keluarga Covid-19 secara bersamaan,” kata seorang ahli genetika di Universitas Cambridge dan penulis utama studi itu, Peter Forster.

Dia menjelaskan, teknik penelitiannya itu sebagain besar dikenal untuk memetakan pergerakan populasi manusia prasejarah melalui DNA. Menurut dia, penelitiannya menjadi salah satu yang pertama menggunakan teknik itu untuk melacak rute infeksi virus corona, seperti Covid-19.

Tim kemudian memberi label ketiga varian sebagai A, B, dan C. Tipe A paling dekat dengan virus corona yang ditemukan pada kelelawar. Meskipun ditemukan di Wuhan sebagai episentrum awal Covid-19 di China, varian A bukanlah tipe utama di sana.

Tipe A juga ditemukan pada orang Amerika yang pernah tinggal di Wuhan. Demikian juga dengan pasien lain yang didiagnosis di Amerika Serikat (AS) dan Australia.

Varian yang paling umum ditemukan di Wuhan adalah tipe B. Kelihatannya, tipe ini tidak jauh menyebar keluar Asia Timur sebelum bermutasi. Menurut peneliti, kemungkinan ada resistensi terhadap virus tipe itu di luar wilayah Asia Timur.

Tipe C adalah varian yang paling sering ditemukan di Eropa, berdasarkan kasus di Prancis, Italia, Swedia, dan Inggris. Temuan tipe C belum terdeteksi pada pasien di China daratan meskipun telah ditemukan dalam sampel dari Singapura, Hong Kong, dan Korea Selatan.

Para peneliti menyimpulkan bahwa varian A adalah akar dari wabah karena paling dekat hubungannya dengan virus yang ditemukan pada kelelawar dan tenggiling. Tipe B berasal dari A, dipisahkan dua mutasi. Sementara itu, tipe C adalah "anak" dari varian B.

“Virus tipe-B Wuhan dapat secara imunologis atau lingkungan diadaptasi untuk sebagian besar populasi Asia Timur,” kata Forster.

Penelitian itu juga mendokumentasikan bagaimana pergerakan orang-orang membantu penyebaran virus. Sebagai contoh, penelitian itu menjabarkan salah satu pengantar paling awal dari virus ke Italia, ditemukan pada seorang pelancong Meksiko yang didiagnosis pada 28 Februari.

Pelancong yang terinfeksi itu datang dari Jerman yang didokumentasikan pertama pada Januari 27. Pasien Jerman itu tertular infeksi dari seorang rekannya asal China di Shanghai, yang baru-baru ini dikunjungi oleh orang tuanya dari Wuhan. Para peneliti mendokumentasikan 10 mutasi dalam perjalanan viral dari Wuhan ke Meksiko.

“Karena kita telah merekonstruksi pohon keluarga (sejarah evolusi) dari virus manusia, kita dapat menggunakan pohon ini melacak rute infeksi dari satu manusia ke manusia berikutnya. Dengan demikian, kita memiliki alat statistik untuk menekan infeksi selanjutnya, ketika virus mencoba kembali,” ujar Forster.

Penelitian itu memudahkan peneliti menentukan kapan wabah mulai menyerang berdasarkan data. “Saya berharap peningkatan pengetahuan tentang asal-usul dan penyebaran ini akan memungkinkan simulasi komputer yang lebih tepat untuk memprediksi tindakan mana yang paling efektif,” kata dia.

Seorang ahli epidemiologi di Universitas Sun Yat-sen Guangzhou, ibu kota Guangdong, Lu Jiahai, mengatakan, penelitian itu memberikan analisis awal tentang genomik dan variasi molekuler. “Virus bermutasi selama penyebaran dan lebih beradaptasi dengan penularan di antara manusia dalam populasi yang berbeda dari berbagai negara,” ujar dia.

Namun, karena varian terkait satu sama lain, melacak mutasi dalam kelompok yang berbeda dapat membantu menentukan asal muasal virus. Dia menganggap penelitian itu menunjukkan bahwa penyebaran virus makin disesuaikan dengan populasi berbeda. Karena itu, pandemi perlu ditanggapi secara serius.

“Orang-orang perlu lebih memperhatikan pencegahan dan pengendalian. Virus dapat hidup berdampingan dengan manusia untuk waktu yang lama,” kata Lu.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA