Saturday, 11 Safar 1443 / 18 September 2021

Saturday, 11 Safar 1443 / 18 September 2021

Bahaya Menyimpan Iri dan Dengki

Sabtu 11 Apr 2020 14:49 WIB

Red: Hasanul Rizqa

Bahaya Menyimpan Iri dan Dengki (Ilustrasi)

Bahaya Menyimpan Iri dan Dengki (Ilustrasi)

Foto: pxhere
Menyimpan iri dan dengki ibarat menggenggam bom yang bisa melukai diri sendiri

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di antara berbagai penyakit hati ialah iri dan dengki. Iri berarti tidak senang melihat kelebihan pada orang lain. Adapun dengki merupakan wujud amarah yang disebabkan perasaan iri.

Yang kurang disadari, iri dan dengki sesungguhnya lebih berimbas buruk pada diri sendiri ketimbang orang lain. Menyimpan penyakit hati itu ibaratnya menggenggam bom waktu--suatu saat dapat meledak dan melukai diri sendiri.

Baca Juga

Contoh kerugian yang dialami orang-orang yang memiliki iri dan dengki adalah kaum Yahudi pada zaman Nabi Muhammad SAW. Mereka disebut sebagai Ahli Kitab. Maknanya, mereka sudah mendapatkan kabar, termasuk dari Taurat, mengenai kedatangan utusan Allah SWT yang terakhir. Bahkan, mereka sendiri sesungguhnya menanti-nantikan sang khatamul anbiya itu.

Namun, mengapa mereka justru memusuhi Rasulullah SAW dan kaum Muslimin? Sebab, mereka dengki melihat sosok nabi terakhir itu adalah orang Arab, bukan dari keturunan Bani Israil seperti mereka.

Dalam Alquran, Allah SWT menggambarkan sikap iri dan dengki sebagian Ahli Kitab itu: "Ataukah mereka hasad (dengki) kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang telah Allah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan kitab dan hikmah kepada keluarga Ibrahim dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar" (QS An-Nisa [4]: 54).

Kedengkian orang-orang Yahudi itu membuat mereka jauh dari hidayah dan rahmat Allah Ta'ala. Pada akhirnya, perasaan itu menghancurkan diri mereka sendiri.

Bagi orang Islam, penyakit iri dan dengki itu pun tak kurang patutnya untuk diwaspadai. Sebab, orang yang mengidap penyakit itu tidak akan pernah puas dengan nikmat yang telah Allah karuniakan kepadanya.

Pikirannya akan tumpul karena selalu memikirkan kenikmatan orang lain. Bila penyakit itu memuncak, bisa saja ia berbuat apa pun untuk menghilangkan kenikmatan orang lain, termasuk mencurinya.

Dampak terpaling besar adalah hancurnya tali persaudaraan dan tumbuh suburnya kebencian. Padahal, persaudaraan adalah kekuatan kedua umat Islam setelah akidah.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA