Thursday, 18 Zulqaidah 1441 / 09 July 2020

Thursday, 18 Zulqaidah 1441 / 09 July 2020

Vaksin BCG Berbahaya untuk Pengidap TB

Kamis 09 Apr 2020 10:53 WIB

Red: A.Syalaby Ichsan

Seorang bidan menunjukkan vaksin campak dan vaksin bcg yang asli di Puskesmas Kecamatan Sawah Besar, Jakarta, Selasa (28/6).

Seorang bidan menunjukkan vaksin campak dan vaksin bcg yang asli di Puskesmas Kecamatan Sawah Besar, Jakarta, Selasa (28/6).

Foto: Antara/Rosa Panggabean
Efek vaksin tak sama antara negara berisiko Tb lebih tinggi dengan yang lebih rendah

REPUBLIKA.CO.ID, CAPETOWN — Studi yang mengungkap rendahnya tingkat kematian di negara-negara dengan program vaksin Bacillus Calmette-Guerin (BCG) membuat penggunaan vaksin tersebut dijadikan strategi alternatif  untuk menghadapi wabah Covid-19.

Kepala Divisi Alergi dan Imunologi Klinis Rumah Sakit Groote Schuur, Universitas Cape Town, Afrika Selatan, Prof Jonny Peter mengungkapkan, strategi vaksinasi yang dilakukan Australia terhadap tenaga medis mereka merupakan upaya perlindungan untuk melindungi mereka yang paling terpapar. 

Meski demikian, dia menjelaskan, efeknya mungkin  tidak sama antara negara yang memiliki risiko tuberkulosis lebih tinggi dengan yang lebih rendah. Dilansir dari health24.com, Peter mengungkapkan, semua pihak harus berhati-hati untuk meluncurkan program vaksinasi ulang BCG terlebih tanpa disertai basis data yang kuat.“Anda perlu memastikan bahwa seseorang tidak memiliki TB aktif  dan status kekebalan tubuh terganggu karena BCG adalah vaksin hidup, dan ini bisa berbahaya,” kata Peter.

Artinya, ujar Peter, butuh screening untuk kasus  HIV dan TB ke dalam program vaksin BCG yang sudah direncanakan. Menurut Peter, orang tidak boleh berpuas diri hanya karena mereka menerima vaksinasi BCG saat lahir.

Dia pun mengaku kurang optimistis tentang gagasan satu vaksin yang diberikan saat lahir akan melindungi satu hidup seseorang dalam satu dekade. Mengingat, ujar dia, penelitian pada hewan dan remaja terkait efek BCG pada sistem kekebalan tubuh selama enam bulan hingga satu tahun sesudahnya.

Lebih lanjut, dia menjelaskan, semua metode yang direkomendasikan saat ini harus digunakan untuk membatasi infeksi.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA