Wednesday, 30 Ramadhan 1442 / 12 May 2021

Wednesday, 30 Ramadhan 1442 / 12 May 2021

Militer India Diturunkan di Pusat Karantina Pasien Corona

Rabu 08 Apr 2020 11:15 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini

Petugas militer berjaga di Gauhati, India, Rabu (25/3). Pemerintah India memberlakukan lockdown selama 3 pekan untuk menekan penyebaran virus SARS Cov-2 di India.

Petugas militer berjaga di Gauhati, India, Rabu (25/3). Pemerintah India memberlakukan lockdown selama 3 pekan untuk menekan penyebaran virus SARS Cov-2 di India.

Foto: Rafiq Maqbool/AP
Militer India mengambil alih pusat karantina orang dalam pengawasan virus corona.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI -- Militer India mengambil alih pusat karantina sipil untuk pemeriksaan medis. Bersama dengan para profesional medis sipil, personel medis militer akan bertugas untuk melakukan skrining terhadap pasien yang terinfeksi virus corona.

Seorang juru bicara militer mengatakan, tenaga medis militer diturunkan karena ada permintaan tambahan tenaga medis di Kamp Narela. Saat ini para tenaga medis militer bekerja bersama dengan para profesional medis sipil. Namun tidak menutup kemungkinan fasilitas karantina itu akan sepenuhnya diambil alih oleh militer.

"Untuk kepentingan kelancaran fasilitas, sedang dipastikan bahwa proses pengambilalihan akan bertahap," kata seorang juru bicara militer kepada Anadolu Agency.

Baca Juga

Kepala Staf Pertahanan Bipin Rawat mengunjungi fasilitas kesehatan Narela pada pekan lalu, untuk meninjau kondisi ketika tim medis militer dikerahkan. Menurut data yang dikeluarkan oleh pemerintah Delhi pada Senin, fasilitas yang berlokasi di Delhi Utara saat ini merawat sekitar 1.170 orang dalam pengawasan. Sebagian besar berasal dari komunitas Jamaah Tabligh yang belum lama ini menghadiri sebuah pertemuan di tengah aturan untuk menjaga jarak sosial.

Sebelumnya, sebuah keributan sempat terjadi di pusat karantina Narela. Berdasarkan sebuah laporan awal, dua orang yang sedang dikarantina di kamp tersebut dituduh telah buang air besar sembarangan. Hal itu dinilai sebagai perilaku kriminal karena sengaja menyebarkan penyakit. Tindakan tersebut menyebabkan kemarahan.

"Masalah yang berkaitan dengan Jamaah Tabligh sedang disorot. Jika tersangka yang bersangkutan benar-benar melakukan kesalahan, mereka harus dihukum. Tetapi, orang-orang Jamaah secara umum, tidak melakukan hal-hal seperti itu," ujar pengacara Jamaah Tabligh, Shahid Ali.

"Kami senang bahwa tentara mengambil alih, karena mereka tidak akan memiliki pola pikir komunal yang bias," kata Ali menambahkan.

India saat ini mengkonfirmasi 4.858 kasus virus corona. Dari jumlah tersebut, lebih dari 1.445 kasus berhubungan dengan anggota Jamaah Tabligh di Delhi. Bulan lalu, kelompok Jamaah Tabligh menggelar sebuah pertemuan yang dihadiri sekitar lebih dari 9.000 orang. Sebagian besar anggota Jamaah Tabligh telah melakukan perjalanan ke berbagai negara.

Pemerintah mengkarantina lebih dari 25.500 anggota Jamaah Tabligh, dan menutup lima desa yang menjadi tempat tinggal mereka. Sekretaris Kementerian Dalam Negeri, Punya Salila Srivastava mengatakan bahwa 1.750 anggota Jamaah Tabligh yang berbasis di luar negeri, dari total 2.083, telah dimasukkan dalam daftar hitam oleh pemerintah. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA