Rabu 08 Apr 2020 05:05 WIB

Apakah Boleh Anak Perempuan Menghajikan Ayah?

Ketiga mazhab populer membenarkan menghajikan orang tua.

Apakah Boleh Anak Perempuan Menghajikan Ayah?
Foto: Republika TV/Muhammad Hafil
Apakah Boleh Anak Perempuan Menghajikan Ayah?

REPUBLIKA.CO.ID,

Pertanyaan

Baca Juga

Bagaimana tata cara/persyaratan yang harus dipenuhi untuk menghajikan ayah kandung saya yang belum berhaji hingga akhir hayat beliau (sudah meninggal dunia)? Apakah anak perempuan dibolehkan melakukan hal itu? Sebagai informasi, saya telah berniat akan menunaikan ibadah haji.

(Sri Harjati Dadang, Bontang, Kalimantan Timur)

Quraish Shihab Menjawab

Ketiga mazhab yang populer (Syafi'i, Hanafi, dan Hanbali) membenarkan menghajikan orang tua atau orang lain jika yang dihajikan itu telah uzur (tidak mampu secara fisik) atau telah meninggal dunia. Mazhab Maliki hanya membenarkan menghajikan orang lain yang telah meninggal dunia kalau ada wasiat dari yang bersangkutan untuk dihajikan. Ini pun dilakukan dengan biaya dari harta yang ditinggalkannya, sejauh tidak melebihi sepertiga harta yang diwariskannnya.

Pendapat ini berbeda dengan pendapat Imam Syafi'i yang mewajibkan salah seorang ahli waris untuk menghajikan yang dia warisi dan membayar utang-utangnya dari harta yang ditinggalkannya. Memang tidak menjadi kewajiban bila yang bersangkutan tidak meninggalkan harta warisan.

Kendati demikian, menghajikannya sah oleh siapa pun walau tidak ada pesan dari yang bersangakutan, demikian pendapat Imam Syafi'i. Salah satu syaratnya adalah yang menghajikan itu melaksanakan haji untuk dirinya sebelum menghajikan orang lain.

Nabi Muhammad SAW pernah bertanya kepada seorang yang yang menghajikan orang lain bernama Syibrimah: "Apakah engkau sudah melaksanakan haji?" Ia menjawab: "Belum." Nabi SAW bersabda: "Berhajilah untuk dirimu dahulu baru buat Syibrimah."

Sepanjang yang saya ketahui, semua ulama mensyaratkan hal ini, kecuali Abu Hanifah. Itu pun tidak sepenuh hati dan dengan dalil yang sangat lemah. Dengan demikian, jika Anda telah berhaji, maka silakan menghajikan ayah.

Caranya, seperti ketika Anda berhaji dulu, hanya niatnya yang berbeda. Misalnya, ketika memakai pakaian ihram Anda berniat memakainya untuk berhaji/berumrah untuk ayah, demikian juga dengan amalan-amalan haji dan umrah lainnya. Wallahu a'lam.

 

sumber : Arsip Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement