Selasa 07 Apr 2020 19:29 WIB

Studi: Atasi Islamofobia Jangan Fokus Agama tapi Regulasi

Regulasi yang mengikat kesepakatan bersama bisa atasi Islamofobia.

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Nashih Nashrullah
Regulasi yang mengikat kesepakatan bersama bisa atasi Islamofobia. Ilustrasi demonstrasi anti-Islamofobia
Foto: Christophe Petit/EPA
Regulasi yang mengikat kesepakatan bersama bisa atasi Islamofobia. Ilustrasi demonstrasi anti-Islamofobia

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Mustafa Akyol menulis sebuah artikel di New York Times, pada 27 Februari lalu. Dalam artikelnya tersebut, dia menyatakan penyebab banyaknya perbuatan buruk terhadap Islam saat ini, dari terorisme ke tirani, dan patriarki ke kefanatikan, adalah keberadaan Islamofobia. 

Dia berpendapat solusinya dari semua permasalahan tersebut ada di sana, dalam Alquran. Seorang Muslim harus memenangkan hati dan pikiran orang-orang Islamofobia melalui kebaikan. 

Baca Juga

Islamofobia adalah jantung dari kekerasan dan diskriminasi yang dihadapi umat Islam di seluruh dunia. 

Muslim yang menghadapi kefanatikan dan kekerasan atas anti-Muslim tidak lebih bertanggung jawab terhadap kebrutalan itu dibandingkan wanita yang menghadapi kekerasan dalam rumah tangga.

Menyalahkan Muslim untuk Islamofobia, sama tidak logis dan kontraproduktifnya dengan menyalahkan orang kulit hitam atas rasisme, atau orang Yahudi untuk anti-Semitisme.  

Dikutip di Siyasa, penulis Turan Kayaoglu mencoba mengklarifikasi apa yang dimaksud dengan Islamofobia. Istilah genealogi dalam sebuah studi, diketahui pertama kali dipopulerkan aktivis Muslim di Inggris pada akhir 1990-an dan mendapatkan popularitas global pada 2000-an.  

"Sementara Islamofobia pada dasarnya mengacu pada ketakutan dan kebencian terhadap Islam dan Muslim. Ini adalah istilah yang cocok dimuat untuk advokasi dan polemik, namun tidak jelas untuk analisis kebijakan publik," ujarnya dikutip di //Siyasa//, Selasa (7/6).

Akyol sendiri menggunakan istilah Islamofobia ini secara luas untuk menggambarkan kamp-kamp interniran Tiongkok untuk Muslim Uighur, serta kekerasan yang dihadapi Muslim di India dengan seorang gadis Prancis berusia 16 tahun yang mengatakan, "Alquran adalah agama kebencian." 

Contoh kedua dikategorikan sebagai kebebasan berbicara dan menanggapinya dengan kebaikan mungkin berhasil. Sementara contoh pertama bisa dianggap sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan dan menanggapinya dengan kebaikan adalah hal yang mengerikan. 

Menggabungkan dua contoh seperti di atas menyebabkan kebingungan daripada mengklarifikasi. Lebih buruk lagi, Akyol menuduh kaum Islamis dan pembela Muslim menyalahgunakan istilah Islamofobia untuk menghubungkan kritik terhadap Islam, dengan kejahatan yang dilakukan pada Muslim untuk membungkam kritik terhadap Islam, bahkan para pemimpin dan pemerintah Muslim.  

Turan Kayaoglu dalam artikelnya lebih memilih menggunakan kata kebencian anti-Muslim. Seperti yang dia katakan di tempat lain, ini bukan kritik terhadap agama.

Dia ingin membahas soal pemicu kebencian dan kekerasan terhadap sekelompok orang, yang merupakan kejahatan dalam hak asasi manusia internasional dan sebagian besar perundang-undangan domestik liberal.

Selain meminta umat Islam untuk bertanggung jawab atas Islamofobia, Akyol, menggemakan perkataan Michelle Obama, mendesak umat Islam untuk bersikap mulia dalam menghadapi kebencian. Dasar untuk pendekatan ini berasal dari sebuah ayat dalam Alquran yang mengatakan, "tolak kejahatan dengan apa yang lebih baik."

"Argumen Akyol menciptakan stereotip berbahaya. Ketika dia mengutip satu ayat untuk menghubungkan Alquran dengan toleransi dan menghadirkan Islam sebagai solusi untuk masalah publik, ia mengurangi kompleksitas Alquran," ucap Turan.

Pendekatan seperti itu sama sifatnya seperti orang Prancis berusia 16 tahun yang menghubungkan Alquran dengan kebencian, dan menghadirkan Islam sebagai masalahnya. 

Akyol dinilai menghapus keragaman Muslim ketika dia meminta Muslim yang 'baik' untuk menghadapi Islamofobia, sebagai langkah bertaubat atas tindakan Muslim 'jahat' yang memfitnah Islam dan menyebarkan Islamofobia.

Solusi Akyol untuk menyerukan toleransi Islam terhadap masalah kebijakan publik disebut cacat dan tidak mungkin untuk mencapai banyak hal. Penafsiran reformis liberalnya akan diabaikan oleh kaum konservatif dan diejek oleh kaum Islamis dan Salafi.

Pembaru Muslim liberal, meskipun berani dan mengagumkan, namun tidak mungkin memenangkan debat teologis dalam waktu dekat. Sementara itu, giliran pasifisme kelompok lain tidak akan menghalangi, tetapi agak memberikan semangat kepada kelompok-kelompok kebencian anti-Muslim.

"Kita tidak bisa menunggu intelektual reformis untuk memenangkan Muslim dan Islamofobia. Kebencian anti-Muslim semakin meningkat setiap hari bagi banyak orang, dan hanya segelintir orang yang memiliki hak istimewa yang dapat memilih untuk bertindak mulia," lanjut Turan.

Sebagai seorang pria Muslim berkulit putih yang berpendidikan tinggi, berada di posisi yang baik dalam sebuah think-tank terkemuka, dan tinggal di DC., Akyol mampu menjadi sosok yang murah hati ketika dia menghadapi Islamofobia.

Sementara bagi Muslim lain dengan hak istimewa yang lebih sedikit, seperti wanita, orang kulit berwarna, pengungsi, dan lain-lain, memiliki pilihan terbatas ketika dihadapkan pada rasisme, seksisme, dan kebencian anti-Muslim.

Turan menilai ada obat yang lebih tepat untuk menghadapi anti-Muslim. Solusi untuk kebencian anti-Muslim bukanlah Muslim menjadi lebih baik di Islam liberal, tetapi di demokrasi liberal.

Konstitusi itulah yang mengikat semua Muslim dan non-Muslim bersama-sama, bukan kitab suci. Sebagai seorang Muslim Amerika, Turan menyebut dirinya mengikuti aturan hukum dan menjalankan tugas kewarganegaraan. Ia berusaha menjaga non-Muslim, termasuk pelaku kebencian anti-Muslim, dengan harapan mendapat tindakan mulia dan kebaikan yang sama.

"Tahun lalu ketika saya memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai anggota Dewan Sekolah Puyallup di Negara Bagian Washington, banyak yang patah semangat.  Mereka memperingatkan saya bahwa kota saya belum siap untuk memilih seorang imigran Muslim ke kantor," ujarnya.

Melihat respons tersebut, dia menegaskan jika dia berusaha maju bukan sebagai seorang Muslim tetapi sebagai seorang Amerika baru. Dia adalah sosok yang sangat percaya solusi untuk kebencian anti-Muslim adalah aktivisme sosial dan politik dalam kerangka kewarganegaraan liberal dan hak asasi manusia.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement