Wednesday, 2 Rabiul Awwal 1444 / 28 September 2022

Filipina Perpanjang Lockdown Hingga 30 April

Selasa 07 Apr 2020 14:48 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Indira Rezkisari

Presiden Filipina Rodrigo Duterte memperpanjang masa karantina wilayah atau lockdown hingga 30 April 2020.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte memperpanjang masa karantina wilayah atau lockdown hingga 30 April 2020.

Foto: AP
Filipina sebenarnya sudah kehabisan dana untuk memperpanjang lockdown.

REPUBLIKA.CO.ID, MANILA -- Presiden Filipina Rodrigo Duterte memperpanjang masa karantina wilayah atau lockdown hingga 30 April 2020. Perpanjangan baru ini mempengaruhi 57 juta orang di pulau utara Luzon.

Sebelumnnya Duterte telah menyatakan "karantina komunitas" untuk membendung penyebaran Covid-19 yang akan berakhir Ahad (12/4). Dalam pidato yang disiarkan di televisi nasional, Duterte secara tersirat akan memperpanjang karantina itu hingga akhir April.

Baca Juga

Kendati demikian, Duterte mengatakan, negaranya tidak memiliki cukup dana untuk memperpanjang massa karantina. Dia pun meminta dukungan keuangan dari bisnis swasta.

Dilansir laman Aljazirah, Sekretaris Kabinet Filipina, Carlo Nograles mengatakan, keputusan memperpanjang masa karantina wilayah sudah dibuat. Hal itu disimpulkan berdasarkan rekomendasi dari komite antar-lembaga yang dibentuk untuk menangani keadaan darurat kesehatan.

Karantina Luzon, pulau terbesar di negara itu telah berlaku sejak 17 Maret. Perpanjangan karantina wilayah dinilai sebagai perluasan dari tatanan sebelumnya yang hanya mencakup Metro Manila, ibu kota yang luas dengan populasi lebih dari 12 juta orang.

Sejak itu, para eksekutif provinsi dan kota di wilayah lain negara itu juga menerapkan versi sendiri soal pembatasan wilayah. Hal ini membuat hampir seluruh negara lebih dari 104 juta penduduk berada di bawah karantina. Penerbangan komersial dan pengiriman dilarang hingga transportasi darat dibatasi.

Selain lockdown, Kongres Filipina juga telah menyetujui undang-undang yang memberikan Duterte kekuatan khusus untuk menangani krisis. Lebih dari 4 miliar dolar AS dana pemerintah untuk mendukung sistem kesehatan dan memberikan bantuan keuangan kepada mereka yang kehilangan pekerjaan.

Hingga Senin, diperkirakan ada 3.660 infeksi virus corona baru, dan 163 kematian di negara itu. Filipina mencatat kematian virus corona pertama di dunia di luar China pada awal Februari.

Pemerintah telah mengumumkan bahwa pihaknya akan melakukan pengujian massal untuk virus corona mulai 14 April. Namun, keterlambatan dalam pelaksanaan program ini menuai kritik. Para kesehatan mengatakan bahwa penyakit ini dapat menyebar di antara populasi tanpa terdeteksi.

Pemerintah Duterte juga mendapat kecaman karena pasokan alat pelindung yang tidak memadai bagi petugas kesehatan. Menurut laporan, setidaknya 18 dokter dan dua perawat telah meninggal akibat infeksi virus.

Duterte juga mendapat kecaman dari para kritikus dan kelompok hak asasi manusia karena Presiden akan menembak mati jika ada yang melanggar perintah lockdown pemerintah dan mengancam nyawa pasukan keamanan.

Lebih dari 1,3 juta orang di seluruh dunia telah dipastikan memiliki virus korona tipe baru ini dan hampir 75 ribu orang meninggal. Setidaknya 277 ribu orang telah pulih dari penyakit ini.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA